Editor
PONOROGO, KOMPAS.com — Festival Kaligrafi Internasional yang digelar dalam rangka Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) resmi berakhir, Kamis (10/9/2026).
Festival yang berlangsung selama tiga hari tersebut mempertemukan kaligrafer, maestro, akademisi, seniman, santri, guru, alumni, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat dari berbagai negara.
Mengusung tema “Menulis Peradaban, Merawat Warisan, Menuju Abad Kedua Gontor”, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan sekaligus pertukaran pengetahuan mengenai perkembangan seni kaligrafi Islam.
Baca juga: 100 Tahun Gontor, Pesantren Ditawarkan Jadi Model Pendidikan Holistik Dunia
Acara penutupan berlangsung di New Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM) dan dihadiri Pimpinan PMDG serta para tamu undangan.
Dua tamu internasional turut memberikan sambutan, yakni kaligrafer Al Muhandis Basam Zabeeb serta pendiri Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF), Prof Dr Imam Mohamad Bashar Arafat, dari Maryland, Amerika Serikat.
Basam menyampaikan apresiasi atas kesempatan berinteraksi secara langsung dengan para peserta selama festival. Menurut dia, perjumpaan tatap muka memberikan pengalaman berbeda dibandingkan komunikasi melalui media sosial.
“Partisipasi dalam perlombaan, apa pun bentuknya, jauh lebih hangat daripada sekadar layar media sosial. Berkomunikasi dengan peserta satu per satu menjadi pengalaman yang sangat indah, khususnya bersama orang-orang Indonesia,” ujar Basam.
Sementara itu, Imam menyoroti pentingnya memperkenalkan kontribusi peradaban Islam kepada masyarakat Amerika Serikat. Menurut dia, seni Islam memiliki hubungan erat dengan wahyu dan Al-Qur’an.
“Saya ingin menunjukkan kepada masyarakat di Amerika Serikat bahwa peradaban Islam telah memberikan kontribusi terhadap Renaisans Eropa,” kata Imam.
Ia menjelaskan, kaligrafi Islam tidak hanya dapat dipandang sebagai seni abstrak. Goresan dan bentuk yang ditampilkan memiliki makna karena berkaitan dengan firman Allah SWT yang tertulis dalam Al-Qur’an.
“Islamic art is really based on the word of God, and the word of God is in the Qur’an,” ujarnya.
“Seni Islam sesungguhnya berlandaskan firman Allah, dan firman Allah terdapat dalam Al-Qur’an,” lanjut Imam.
Menurut Imam, pengalaman dan karya-karya yang disaksikannya di Gontor akan diperkenalkan kepada masyarakat Muslim di berbagai wilayah Amerika Serikat.
Ia menilai, keindahan kaligrafi dapat menjadi salah satu sarana untuk mengenalkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas. Melalui seni, pesan keislaman dapat disampaikan dengan bahasa keindahan yang melampaui batas negara dan latar belakang budaya.
Baca juga: Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, K.H Hasan Abdullah Sahal saat menginspeksi kaligrafi milik peserta Festival Kaligrafi Internasional di Pondok Modern Darussalam Gontor, Kamis (10/9/2026).Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal mengatakan, pertemuan para kaligrafer dari berbagai penjuru dunia mencerminkan persaudaraan sesama orang beriman.
Dalam sambutannya, Hasan mengutip firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat ayat 10:
“Innamal mu’minuuna ikhwatun.”
Artinya, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
Menurut Hasan, persaudaraan tersebut terlihat dalam perjumpaan para seniman kaligrafi lintas negara di Gontor. Mereka hadir dengan latar belakang berbeda, tetapi dipersatukan oleh kecintaan terhadap seni tulis Arab dan Al-Quran.
“Oleh karena itu, jika aksara Arab ditulis di mana-mana, mulai dari timur hingga barat bumi, kami sangat bersyukur,” ujar Hasan.
Setelah rangkaian sambutan, panitia mengumumkan para pemenang perlombaan kaligrafi.
Para pemenang memperoleh sertifikat dan hadiah sebagai bentuk penghargaan atas karya serta pencapaian mereka selama festival.
Penutupan juga diisi dengan penyerahan kenang-kenangan kepada para tamu internasional, doa, dan sesi foto bersama Pimpinan PMDG.
Pimpinan PMDG dan para tamu kemudian berkeliling area pameran untuk melihat karya-karya kaligrafi yang ditampilkan selama festival.
Kehadiran karya dan peserta dari berbagai negara menjadikan festival tersebut sebagai ruang pertukaran wawasan dan pengalaman dalam pengembangan seni kaligrafi Islam.
Meski rangkaian festival telah berakhir, perjumpaan para kaligrafer lintas negara itu diharapkan dapat mempererat persaudaraan sekaligus memperluas apresiasi masyarakat dunia terhadap seni dan warisan peradaban Islam.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT