Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Penyebab Rumah Tangga Retak yang Sering Diabaikan Menurut Islam

Kompas.com, 10 September 2026, 11:19 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com — Rumah tangga dalam Islam tidak hanya dibangun atas dasar cinta, tetapi juga membutuhkan ketenangan, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola perbedaan.

Al-Qur'an menggambarkan tujuan pernikahan sebagai tempat memperoleh ketenteraman. Dalam Surah Ar-Rum ayat 21, Allah menyebut bahwa di antara pasangan diletakkan mawaddah (kasih) dan rahmah (sayang).

Karena itu, keretakan rumah tangga tidak selalu bermula dari persoalan besar seperti perselingkuhan atau masalah ekonomi. Dalam banyak keadaan, hubungan justru melemah karena persoalan kecil yang dibiarkan berulang hingga menumpuk.

Islam mengajarkan agar pasangan memperlakukan satu sama lain dengan cara yang baik. Surah An-Nisa ayat 19 memerintahkan agar pasangan hidup diperlakukan secara ma'ruf, atau dengan cara yang patut dan baik.

Baca juga: Menag Ungkap 7 Faktor Pemicu Perceraian: Ekonomi hingga Beda Pilihan Politik

Lantas, apa saja penyebab rumah tangga retak yang sering tidak disadari?

1. Komunikasi yang Buruk

Salah satu persoalan yang sering dianggap sepele dalam rumah tangga adalah komunikasi.

Pasangan bisa tinggal serumah, makan bersama, bahkan memiliki anak yang sama, tetapi belum tentu benar-benar saling memahami.

Komunikasi yang buruk dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti memilih diam ketika ada masalah, berbicara dengan nada merendahkan, menyimpan kekecewaan, atau menganggap pasangan seharusnya memahami perasaan tanpa perlu dijelaskan.

Dalam jangka panjang, masalah yang tidak dibicarakan dapat berubah menjadi jarak emosional.

Islam menempatkan hubungan suami istri dalam kerangka kasih sayang dan perlakuan yang baik. Karena itu, komunikasi bukan hanya persoalan teknik berbicara, tetapi juga bagian dari upaya menjaga kehormatan dan perasaan pasangan.

Pasangan perlu belajar membicarakan masalah tanpa menjadikan percakapan sebagai arena untuk saling menyalahkan.

2. Terlalu Fokus pada Kekurangan Pasangan

Penyebab rumah tangga retak berikutnya adalah kebiasaan melihat pasangan hanya dari sisi kekurangannya.

Setelah bertahun-tahun menikah, seseorang mungkin mulai terbiasa dengan kebaikan pasangannya. Sebaliknya, kekurangan kecil justru semakin terlihat.

Dalam kondisi seperti ini, pasangan dapat merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak pernah cukup.

Islam mengajarkan sikap yang lebih seimbang.

Rasulullah SAW bersabda bahwa seorang mukmin hendaknya tidak membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu sifat pada pasangannya, ia masih dapat menemukan sifat lain yang ia sukai.

Pesan tersebut terdapat dalam hadis Sahih Muslim 1468b.

Prinsipnya bukan berarti seseorang harus mengabaikan masalah serius dalam rumah tangga. Namun, ketidaksempurnaan pasangan tidak seharusnya membuat seluruh kebaikannya menjadi tidak terlihat.

Belajar melihat kelebihan pasangan dapat membantu menjaga rasa syukur dan mengurangi kebiasaan membandingkan pasangan dengan orang lain.

3. Masalah Ekonomi yang Tidak Dibicarakan Secara Terbuka

Persoalan ekonomi sering menjadi sumber ketegangan dalam rumah tangga.

Namun, masalahnya bukan selalu karena jumlah penghasilan yang kecil. Konflik juga dapat muncul karena pasangan tidak terbuka mengenai pengeluaran, utang, gaya hidup, prioritas keuangan, atau pembagian tanggung jawab ekonomi.

Masalah yang awalnya berupa perbedaan cara mengelola uang dapat berkembang menjadi persoalan kepercayaan.

Karena itu, pasangan perlu memiliki komunikasi keuangan yang sehat.

Misalnya dengan membicarakan:

  • pendapatan dan pengeluaran;
  • kebutuhan rumah tangga;
  • utang;
  • tabungan;
  • biaya pendidikan anak;
  • kebutuhan orangtua;
  • tujuan keuangan keluarga.

Dalam perspektif Islam, kehidupan keluarga juga berkaitan dengan amanah dan tanggung jawab. Karena itu, persoalan ekonomi sebaiknya tidak disembunyikan sampai menjadi konflik besar.

4. Kehidupan Beragama Hanya Menjadi Urusan Pribadi

Rumah tangga Muslim tidak hanya membutuhkan kecukupan materi. Ada pula tanggung jawab untuk membangun kehidupan keluarga yang memiliki nilai agama.

Al-Qur'an dalam Surah At-Tahrim ayat 6 mengingatkan orang-orang beriman untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa keluarga memiliki dimensi pendidikan dan tanggung jawab keagamaan.

Masalah dapat muncul ketika pasangan sama-sama sibuk dengan aktivitas masing-masing tetapi tidak memiliki ruang untuk membangun kehidupan spiritual bersama.

Misalnya, tidak pernah saling mengingatkan untuk shalat, tidak memiliki waktu untuk membaca Al-Qur'an, atau tidak membicarakan nilai-nilai agama dalam mendidik anak.

Kehidupan beragama tidak harus selalu dilakukan dalam bentuk kegiatan yang besar.

Membiasakan shalat tepat waktu, membaca Al-Qur'an, berdoa bersama, atau mendiskusikan pendidikan anak berdasarkan nilai Islam dapat menjadi bagian dari upaya membangun keluarga yang lebih kokoh.

5. Pengasuhan Anak Menjadi Sumber Konflik

Kehadiran anak seharusnya memperkuat ikatan keluarga. Namun, pola pengasuhan yang berbeda justru dapat menjadi sumber konflik antara suami dan istri.

Misalnya, ayah menginginkan disiplin yang ketat, sementara ibu lebih memilih pendekatan yang lembut.

Masalah juga bisa muncul ketika salah satu pasangan merasa seluruh tanggung jawab pengasuhan dibebankan kepadanya.

UNICEF dalam panduan positive parenting menekankan pentingnya hubungan yang aman, penuh kasih, batasan yang jelas, serta kerja sama dalam pengasuhan. Anak juga membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa aman dan dipahami.

Karena itu, pasangan sebaiknya membicarakan pola pengasuhan sejak awal.

Beberapa hal yang dapat disepakati antara lain:

  • aturan penggunaan gawai;
  • pendidikan agama;
  • disiplin anak;
  • sekolah;
  • pembagian tugas pengasuhan;
  • cara memberikan teguran;
  • hubungan anak dengan keluarga besar.

Orangtua tidak harus selalu memiliki pendapat yang sama. Yang lebih penting adalah bagaimana perbedaan tersebut dibicarakan tanpa membuat anak menjadi korban konflik orangtua.

6. Membandingkan Pasangan dengan Orang Lain

Media sosial membuat kebiasaan membandingkan kehidupan rumah tangga menjadi semakin mudah.

Seseorang melihat pasangan orang lain yang tampak romantis, sukses, kaya, sering bepergian, atau memiliki kehidupan keluarga yang terlihat sempurna.

Kemudian muncul pertanyaan:

“Mengapa pasangan saya tidak seperti dia?”

Padahal, apa yang terlihat di media sosial hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Kebiasaan membandingkan pasangan dapat membuat seseorang kehilangan rasa syukur terhadap keluarganya sendiri.

Islam mengajarkan pentingnya menjaga hubungan dengan pasangan melalui perlakuan yang baik. Dalam Surah An-Nisa ayat 19, Allah bahkan mengingatkan bahwa seseorang bisa saja tidak menyukai sesuatu dari pasangannya, tetapi Allah menjadikan banyak kebaikan di dalamnya.

Karena itu, sebelum menilai pasangan berdasarkan kehidupan orang lain, seseorang perlu kembali melihat kebaikan yang ada di dalam rumah tangganya sendiri.

7. Tidak Mau Meminta Maaf dan Memaafkan

Penyebab rumah tangga retak yang sering dianggap kecil adalah persoalan ego.

Dalam konflik, suami merasa istri harus meminta maaf lebih dahulu. Istri merasa suami yang harus mengalah.

Akhirnya masalah yang sebenarnya sederhana berubah menjadi perang dingin.

Padahal, rumah tangga tidak akan selalu bebas dari kesalahan.

Setiap pasangan bisa salah bicara, salah mengambil keputusan, lupa memenuhi janji, atau melakukan sesuatu yang mengecewakan pasangannya.

Yang membedakan rumah tangga yang mampu bertahan dan yang terus memburuk adalah bagaimana pasangan menangani kesalahan tersebut.

Meminta maaf bukan berarti kalah. Memaafkan juga bukan berarti membenarkan kesalahan.

Keduanya dapat menjadi bagian dari usaha menghentikan konflik agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Rumah Tangga Perlu Dirawat, Bukan Hanya Dipertahankan

Islam menggambarkan pernikahan sebagai hubungan yang di dalamnya terdapat ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat.

Karena itu, menjaga rumah tangga tidak cukup hanya dengan menghindari perceraian. Pasangan juga perlu membangun hubungan yang sehat sejak persoalan masih kecil.

Ada beberapa kebiasaan sederhana yang dapat dilakukan:

1. Meluangkan waktu untuk berbicara tanpa gangguan gawai.

2. Membicarakan masalah ketika emosi sudah lebih tenang.

3. Menghargai kontribusi pasangan.

4. Membuat kesepakatan tentang pengelolaan keuangan.

5. Menyusun pola pengasuhan anak bersama.

6. Menjaga privasi dan kehormatan pasangan.

7. Membiasakan meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

8. Membangun kebiasaan ibadah bersama.

9. Tidak menjadikan media sosial sebagai tempat membuka masalah rumah tangga.

10. Mencari bantuan dari konselor, psikolog, penghulu, atau tokoh agama yang kompeten ketika masalah sudah sulit diselesaikan sendiri.

Pada akhirnya, rumah tangga yang sakinah bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah menghadapi masalah.

Baca juga: Istri Gugat Cerai, Apakah Mahar Harus Dikembalikan Menurut Hukum Islam?

Rumah tangga yang sehat adalah rumah tangga yang memiliki cara untuk menghadapi masalah tanpa kehilangan rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab.

Sebagaimana disebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 21, Allah menjadikan mawaddah dan rahmah di antara pasangan. Karena itu, kasih sayang dalam keluarga bukan hanya sesuatu yang dirasakan, tetapi juga sesuatu yang perlu dirawat melalui sikap, komunikasi, tanggung jawab, dan kesediaan untuk terus belajar memahami pasangan.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Mengapa Rasulullah Dijuluki Al-Amin? Ini Kisahnya
Mengapa Rasulullah Dijuluki Al-Amin? Ini Kisahnya
Aktual
7 Penyebab Rumah Tangga Retak yang Sering Diabaikan Menurut Islam
7 Penyebab Rumah Tangga Retak yang Sering Diabaikan Menurut Islam
Aktual
Menag Ungkap 7 Faktor Pemicu Perceraian: Ekonomi hingga Beda Pilihan Politik
Menag Ungkap 7 Faktor Pemicu Perceraian: Ekonomi hingga Beda Pilihan Politik
Aktual
Tak Hanya Catat Pernikahan, KUA Disiapkan Jadi Pusat Konseling Keluarga
Tak Hanya Catat Pernikahan, KUA Disiapkan Jadi Pusat Konseling Keluarga
Aktual
Khutbah Jumat: Berbaik Sangka kepada Allah saat Menghadapi Ujian
Khutbah Jumat: Berbaik Sangka kepada Allah saat Menghadapi Ujian
Aktual
Merawat Tubuh sebagai Amanah, Perawatan Diri Tak Sekadar soal Penampilan
Merawat Tubuh sebagai Amanah, Perawatan Diri Tak Sekadar soal Penampilan
Aktual
5 Kebiasaan Berlandaskan Al-Quran untuk Menjadi Muslim Berkemajuan
5 Kebiasaan Berlandaskan Al-Quran untuk Menjadi Muslim Berkemajuan
Aktual
6 Penyebab Perceraian Menurut Menag, Termasuk Beda Pilihan Politik
6 Penyebab Perceraian Menurut Menag, Termasuk Beda Pilihan Politik
Aktual
Bolehkah Menambah Doa Saat Sujud? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Bolehkah Menambah Doa Saat Sujud? Ini Penjelasan Majelis Tarjih Muhammadiyah
Aktual
Sholawat Nariyah Lengkap: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Membacanya
Sholawat Nariyah Lengkap: Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Cara Membacanya
Aktual
Jangan Sampai Ditolak KUA, Ini Ketentuan Baru Daftar Nikah bagi Catin
Jangan Sampai Ditolak KUA, Ini Ketentuan Baru Daftar Nikah bagi Catin
Aktual
Ketua PP Muhammadiyah: Jadi Apa Saja, Kenali Islam Jadi Lebih Baik
Ketua PP Muhammadiyah: Jadi Apa Saja, Kenali Islam Jadi Lebih Baik
Aktual
BPKH Dorong Skema Angsuran Pelunasan Biaya Haji untuk Cegah Calon Jamaah Berhutang
BPKH Dorong Skema Angsuran Pelunasan Biaya Haji untuk Cegah Calon Jamaah Berhutang
Aktual
MTQ Nasional XXXI di Semarang Siap Digelar pada 11 hingga 20 September 2026
MTQ Nasional XXXI di Semarang Siap Digelar pada 11 hingga 20 September 2026
Aktual
Niat Sholat Qobliyah Subuh 2 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Niat Sholat Qobliyah Subuh 2 Rakaat: Arab, Latin, Arti, dan Tata Caranya
Doa dan Niat
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar