KOMPAS.com — Menjenguk orang sakit kerap dilakukan dengan membawa buah, makanan, atau bingkisan sebagai bentuk perhatian.
Namun, dalam Islam, perhatian kepada orang yang sedang sakit tidak berhenti pada pemberian tersebut.
Ada sejumlah adab yang perlu diperhatikan agar kehadiran orang yang menjenguk memberikan ketenangan dan tidak justru menambah beban bagi pasien yang tengah menjalani masa pemulihan.
Baca juga: Apa yang Dilakukan Muslim Saat Bangun Tidur? Ini Adab dalam Islam
Menjenguk orang sakit merupakan salah satu hak seorang Muslim atas Muslim lainnya.
Rasulullah SAW menyebut menjenguk orang sakit sebagai salah satu dari lima hak seorang Muslim, sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Sahih Bukhari.
“Lima hak seorang Muslim atas Muslim lainnya...” salah satunya adalah menjenguk orang yang sakit.
Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjenguk orang sakit bukan sekadar tradisi sosial, tetapi bagian dari hubungan antarsesama Muslim yang memiliki nilai ibadah.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kondisi orang yang hendak dijenguk. Sebab, tidak semua orang sakit berada dalam keadaan yang sama.
Ada pasien yang masih dapat menerima tamu, tetapi ada pula yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk beristirahat.
Karena itu, sebaiknya pertimbangkan waktu kunjungan dan hindari memaksakan diri datang ketika pasien membutuhkan istirahat.
Jika memungkinkan, tanyakan terlebih dahulu kepada keluarga atau orang yang merawat pasien mengenai waktu yang tepat untuk berkunjung.
Kehadiran yang dimaksudkan sebagai bentuk perhatian jangan sampai membuat pasien merasa harus melayani tamu.
Baca juga: Muktamar Bukan Arena Menang-Kalah, Kiai Sepuh Ingatkan Adab Bermusyawarah
Menjenguk orang sakit juga tidak harus dilakukan dalam waktu lama. Kunjungan singkat justru dapat menjadi pilihan, terutama ketika kondisi pasien sedang lemah.
Pengunjung dapat menanyakan kabar, memberikan semangat, kemudian mendoakan kesembuhan sebelum berpamitan.
Dengan demikian, pasien tetap memperoleh dukungan tanpa kehilangan waktu istirahat yang dibutuhkan untuk pemulihan.
Selain itu, sebaiknya hindari memenuhi ruang pasien apabila sudah terdapat banyak orang yang menjenguk. Memberikan kesempatan kepada pasien untuk beristirahat juga merupakan bagian dari kepedulian.
Ketika bertemu orang sakit, perkataan juga perlu dijaga. Hindari komentar yang dapat membuat pasien semakin khawatir, termasuk menceritakan pengalaman buruk mengenai penyakit serupa.
Sebaliknya, pengunjung dapat menyampaikan perkataan yang menenangkan sekaligus mendoakan kesembuhan.
Rasulullah SAW pernah mengucapkan kepada orang sakit:
“Laa ba'sa, thahuurun insyaa Allah.”
Artinya, “Tidak mengapa, semoga (sakit ini) menjadi penyuci, insya Allah.”
Ucapan tersebut diriwayatkan dalam Sahih Bukhari. Hal ini menunjukkan bahwa menjenguk orang sakit dapat menjadi kesempatan untuk memberikan penguatan sekaligus menumbuhkan harapan kepada Allah SWT.
Doa menjadi salah satu hal penting ketika menjenguk orang sakit. Rasulullah SAW juga mengajarkan doa untuk memohon kesembuhan.
Dalam hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, Rasulullah SAW mengajarkan doa:
أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَظِيمَ رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ
“As'alullaahal 'azhiima rabbal 'arsyil 'azhiimi an yasyfiyaka.”
Artinya, “Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Tuhan Arasy yang agung, agar Dia menyembuhkanmu.”
Doa tersebut dapat dibaca ketika menjenguk orang sakit sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar orang yang dijenguk diberikan kesembuhan.
Membawa buah, makanan, atau bingkisan ketika menjenguk orang sakit dapat menjadi bentuk perhatian. Namun, pemberian tersebut bukanlah inti dari menjenguk.
Hal yang lebih penting adalah memastikan kehadiran kita memberikan manfaat dan tidak membebani orang yang sedang sakit.
Jika ingin membawa makanan, perhatikan pula kondisi kesehatan pasien. Pasien mungkin memiliki pantangan atau pembatasan makanan tertentu sehingga tidak semua jenis makanan dapat dikonsumsi.
Karena itu, tidak membawa buah atau bingkisan bukan berarti kunjungan menjadi kurang bermakna.
Datang dengan niat baik, memberikan semangat, menjaga perkataan, serta mendoakan kesembuhan juga merupakan bentuk kepedulian kepada orang yang sedang sakit.
Islam memberikan perhatian besar terhadap hubungan sosial antarsesama. Menjenguk orang sakit bukan hanya tentang hadir secara fisik, tetapi juga bagaimana kehadiran tersebut membuat orang yang sedang sakit merasa diperhatikan.
Dalam Sahih Muslim, Rasulullah SAW menjelaskan keutamaan menjenguk orang sakit. Orang yang menjenguk saudaranya yang sakit disebut senantiasa berada dalam khurfah surga hingga ia kembali.
Hadis tersebut menunjukkan besarnya keutamaan menjenguk orang sakit dalam Islam.
Karena itu, ketika hendak menjenguk kerabat, teman, atau tetangga yang sedang sakit, buah tangan bukanlah satu-satunya hal yang perlu dipersiapkan.
Waktu kunjungan, kondisi pasien, perkataan, serta doa juga perlu menjadi perhatian.
Sebab, terkadang yang paling dibutuhkan orang sakit bukanlah bingkisan, melainkan kehadiran yang tidak membuatnya lelah, perkataan yang menguatkan, dan doa yang tulus untuk kesembuhannya.
Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT