Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jangan Keliru, Ini Perbedaan Tahajud dan Qiyamul Lail

Kompas.com, 21 Januari 2026, 13:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Ibadah malam memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Di antara bentuk ibadah tersebut, dua istilah yang sering terdengar adalah tahajud dan qiyamul lail.

Keduanya sama-sama dilakukan pada waktu malam dan bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Namun dalam kajian fikih dan tafsir, terdapat perbedaan makna, cakupan, serta praktik antara keduanya yang perlu dipahami umat Muslim.

Pemahaman yang tepat tidak hanya membantu dalam praktik ibadah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa malam adalah waktu terbaik untuk bermunajat, bermeditasi spiritual, dan memperkuat hubungan vertikal dengan Sang Pencipta.

Baca juga: Perbedaan Qiyamul Lail, Shalat Tahajud, dan Shalat Malam

Pengertian Tahajud dalam Perspektif Ulama

Secara bahasa, tahajud berasal dari kata hajada yang berarti bangun dari tidur. Dalam konteks syariat, tahajud merujuk pada shalat malam yang dilakukan setelah seseorang tidur terlebih dahulu.

Dalam kitab Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah jilid 2 halaman 232 disebutkan bahwa tahajud adalah shalat malam yang dilakukan setelah tidur, meskipun tidurnya hanya sebentar. Pendapat ini banyak dianut oleh ulama dari kalangan tabi’in dan fuqaha.

Pendapat ini diperkuat oleh riwayat yang dinukil dari Al-Hajjaj bin ‘Amr Al-Anshari yang menjelaskan bahwa seseorang tidak disebut bertahajud jika hanya shalat malam tanpa tidur terlebih dahulu. Makna “bangun” menjadi unsur utama dalam definisi tahajud.

Dalam Fiqh Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa Rasulullah SAW biasa tidur terlebih dahulu sebelum melaksanakan shalat malam, lalu bangun di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan tahajud dengan penuh kekhusyukan.

Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Keutamaan, Waktu Terbaik, dan Bacaan Doanya

Pengertian Qiyamul Lail dan Ruang Lingkupnya

Berbeda dengan tahajud, qiyamul lail memiliki cakupan makna yang lebih luas. Secara bahasa, qiyamul lail berarti menghidupkan malam dengan ibadah. 

Dalam praktiknya, qiyamul lail tidak hanya terbatas pada shalat, tetapi mencakup membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, hingga melakukan shalat sunnah lainnya.

Dalam kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi dijelaskan bahwa qiyamul lail mencakup setiap aktivitas ibadah yang dilakukan pada malam hari, baik sebelum tidur maupun setelah bangun tidur.

Artinya, seseorang yang melaksanakan shalat sunnah setelah Isya, membaca Al-Qur’an, lalu tidur, tetap termasuk dalam kategori qiyamul lail.

Waktu pelaksanaan qiyamul lail dimulai setelah shalat Isya hingga terbit fajar. Tidak ada batasan minimal durasi, selama seseorang menghidupkan malam dengan ibadah meskipun hanya dalam waktu singkat.

Baca juga: Panduan Sholat Istikharah untuk Memilih Jodoh: Langkah dan Doa

Perbedaan Utama Tahajud dan Qiyamul Lail

Secara substansial, tahajud merupakan bagian dari qiyamul lail, tetapi tidak semua qiyamul lail dapat disebut tahajud. Perbedaan paling mendasar terletak pada syarat tidur.

Tahajud mensyaratkan adanya tidur terlebih dahulu sebelum bangun untuk shalat malam. Sedangkan qiyamul lail tidak mensyaratkan hal tersebut dan bisa dilakukan kapan saja pada malam hari setelah Isya.

Selain itu, tahajud secara khusus merujuk pada shalat, sementara qiyamul lail mencakup berbagai bentuk ibadah malam.

Dengan demikian, qiyamul lail memiliki spektrum ibadah yang lebih luas, sedangkan tahajud bersifat lebih spesifik.

Baca juga: Ini Waktu Paling Utama Shalat Tahajud dan Witir Menurut Sunnah Nabi

Dasar Al-Qur’an tentang Ibadah Malam

Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap ibadah malam sebagai ciri orang-orang yang bertakwa.

Dalam Surah Al-Isra ayat 79, Allah SWT berfirman:

“Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”

Ayat ini menunjukkan bahwa tahajud memiliki nilai spiritual tinggi karena menjadi sarana peningkatan derajat seorang hamba di sisi Allah.

Dalam Surah As-Sajdah ayat 16 juga disebutkan:

“Lambung mereka jauh dari tempat tidur, mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.”

Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menggambarkan karakter orang beriman yang meninggalkan kenyamanan tidur demi bermunajat kepada Allah pada malam hari.

Baca juga: Panduan Lengkap Sholat Tahajud: Niat, Tata Cara, hingga Doa Panjang Rasulullah SAW

Keutamaan Tahajud dan Qiyamul Lail

Keutamaan tahajud dan qiyamul lail sangat banyak disebutkan dalam hadis Nabi SAW. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat malam adalah sebaik-baik shalat sunnah setelah shalat wajib.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali dijelaskan bahwa ibadah malam memiliki pengaruh besar terhadap kebersihan hati, ketajaman spiritual, dan ketenangan jiwa. Saat malam sunyi, fokus ibadah menjadi lebih kuat karena minim gangguan duniawi.

Secara psikologis, ibadah malam juga melatih disiplin diri, kesabaran, serta kekuatan mental yang berdampak positif pada kehidupan sosial dan spiritual seorang Muslim.

Baca juga: Doa Setelah Sholat Tahajud: Melangitkan Doa Kala Pintu Doa Terbuka

Mana yang Lebih Utama untuk Diamalkan?

Para ulama sepakat bahwa tahajud memiliki keutamaan khusus karena dilakukan setelah tidur yang menunjukkan pengorbanan fisik dan kesungguhan ibadah. Namun qiyamul lail tetap bernilai besar meskipun dilakukan sebelum tidur.

Dalam konteks kehidupan modern yang penuh kesibukan, umat Islam dianjurkan menyesuaikan kemampuan tanpa meninggalkan semangat menghidupkan malam.

Baik tahajud maupun qiyamul lail sama-sama menjadi sarana meraih kedekatan dengan Allah selama dilakukan dengan ikhlas dan konsisten.

Tahajud dan qiyamul lail merupakan dua ibadah malam yang saling berkaitan, tetapi memiliki perbedaan dari sisi makna dan praktik.

Tahajud lebih khusus karena mensyaratkan tidur terlebih dahulu, sementara qiyamul lail mencakup seluruh aktivitas ibadah malam.

Dengan memahami perbedaan ini, umat Muslim dapat menjalankan ibadah malam secara lebih terarah dan optimal.

Di tengah kesibukan dunia, menghidupkan malam dengan doa, shalat, dan dzikir menjadi jalan spiritual untuk menenangkan jiwa serta memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar