Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Status Kepemilikan Barang Hanyut Terbawa Banjir Menurut Islam

Kompas.com, 13 Januari 2026, 12:39 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Hujan deras yang disertai banjir kerap melanda berbagai wilayah di Indonesia. Selain menimbulkan kerusakan infrastruktur dan kerugian ekonomi, bencana ini sering menyeret berbagai barang milik warga, mulai dari perabot rumah tangga hingga logistik usaha yang kemudian terdampar di tempat lain dan ditemukan oleh orang lain.

Situasi tersebut memunculkan pertanyaan etis dan keagamaan, bagaimana hukum mengambil barang yang hanyut terbawa banjir menurut Islam?

Apakah barang yang berpindah tempat akibat bencana boleh dimiliki oleh orang yang menemukannya?

Pertanyaan ini penting karena berkaitan langsung dengan prinsip kepemilikan harta dan tanggung jawab moral dalam fikih Islam, terutama dalam kondisi darurat.

Kedudukan Barang Hanyut dalam Fikih

Dalam khazanah fikih, barang yang terbawa arus banjir lalu ditemukan di tempat lain tidak serta-merta berubah status kepemilikannya.

Dikutip dari NU Online, para ulama mengategorikan harta semacam ini sebagai māl ḍāyi‘, yaitu harta yang hilang atau telantar.

Artinya, meskipun berada di luar penguasaan pemiliknya untuk sementara waktu, hak kepemilikan atas barang tersebut tetap melekat pada pemilik asalnya.

Ketentuan ini dijelaskan oleh Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar as-Syatihiri dalam kitab Syarhul Yaqutin Nafis.

Ia menegaskan bahwa harta yang dibawa arus banjir dan terlempar ke tanah orang lain tetap berstatus sebagai harta telantar, bukan harta bebas yang boleh dikuasai. Dengan demikian, berpindahnya lokasi barang tidak menghapus hak pemiliknya.

ذَكَرَ الْعُلَمَاءُ فِي الْمَالِ الَّذِي يَحْمِلُهُ السَّيْلُ ثُمَّ يُلْقِيهِ بِأَرْضِ إِنْسَانٍ، قَالُوا: إِنَّهُ مَالٌ ضَائِعٌ

Artinya, “Para ulama menyebutkan tentang harta yang dibawa arus banjir lalu dihanyutkan dan terlempar ke tanah milik seseorang. Mereka mengatakan, harta tersebut termasuk harta yang telantar’.” (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar as-Syatihiri, Syarhul Yaqutin Nafis, [Lebanon: Darul Minhaj, 2011 M], halaman 506).

Baca juga: Banjir Jakarta Meluas, Ini Doa-doa yang Dianjurkan Saat Musibah

Kewajiban Menjaga, Bukan Memiliki

Status sebagai harta telantar membawa konsekuensi hukum. Barang yang ditemukan tidak boleh langsung diambil untuk dimiliki atau dimanfaatkan.

Sikap yang dikehendaki syariat adalah menjaga dan mengamankan barang tersebut sampai jelas siapa pemiliknya.

Prinsip ini ditegaskan oleh Imam an-Damiri dalam kitab an-Najmul Wahhaj. Ia menjelaskan bahwa barang yang tiba-tiba berada di tangan seseorang, baik karena angin, sebab orang yang melarikan diri, maupun karena titipan pemilik yang wafat tanpa diketahui ahli warisnya tetap dihukumi sebagai harta hilang. Barang tersebut wajib dijaga dan tidak boleh dimiliki oleh penemunya.

إِذَا أَلْقَتِ الرِّيحُ ثَوْبًا فِي حِجْرِهِ، أَوْ أَلْقَى إِلَيْهِ هَارِبٌ كِيسًا وَلَمْ يَعْرِفْ مَنْ هُوَ، أَوْ مَاتَ مُوَرِّثُهُ عَنْ وَدَائِعَ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ مُلَّاكَهَا، فَهُوَ ضَائِعٌ يُحْفَظُ وَلَا يُتَمَلَّكُ.

Artinya, “Jika angin melemparkan sebuah pakaian ke pangkuannya, atau seseorang yang melarikan diri melemparkan kepadanya sebuah kantong sementara ia tidak mengetahui siapa orang itu, atau orang yang mewarisinya meninggal dunia dengan meninggalkan barang titipan dan ia tidak mengetahui siapa pemiliknya. Maka barang tersebut termasuk harta yang hilang. Barang itu wajib dijaga dan tidak boleh dimiliki.” (ad-Damiri, an-Najmul Wahhaj, [Jeddah, Darul Minhaj: 2004], jilid VI, halaman 8)

Pandangan ini menunjukkan betapa Islam sangat menjunjung tinggi hak kepemilikan. Ketidaktahuan terhadap pemilik tidak menjadi alasan untuk menguasai harta orang lain.

Kewajiban Mengembalikan Jika Pemilik Diketahui

Apabila pemilik barang diketahui, maka kewajiban penemu menjadi lebih jelas, yaitu mengembalikan barang tersebut kepada pemiliknya.

Imam al-‘Imrani dalam kitab al-Bayan menegaskan bahwa seseorang yang menemukan barang dan mengetahui siapa pemiliknya wajib menyerahkannya kembali tanpa menunda.

لَوْ أَطَارَتِ الرِّيحُ ثَوْبًا إِلَى بَيْتِهِ، وَعَرَفَ مَالِكَهُ، فَإِنَّ عَلَيْهِ رَدَّهُ إِلَيْهِ

Artinya, “Jika angin menerbangkan sebuah pakaian ke rumahnya dan ia mengetahui siapa pemiliknya, maka ia wajib mengembalikannya kepada pemilik tersebut.” (al-‘Imrani, al-Bayan, [Jeddah, Darul Minhaj: 2000], jilid VII, halaman 348)

Dalam konteks banjir, ketentuan ini berlaku pula pada barang-barang logistik milik toko, gudang, atau usaha yang hanyut akibat bencana.

Meskipun berada di ruang publik atau lingkungan warga, barang-barang tersebut tetap menjadi milik pemilik usaha dan tidak boleh diambil atau dimanfaatkan oleh pihak lain.

Baca juga: Doa Saat Hujan Deras Dikhawatirkan Banjir, Ini Bacaan dan Artinya

Larangan Mengambil Harta Orang Lain

Larangan mengambil barang yang hanyut sejatinya merupakan bagian dari prinsip umum dalam Islam terkait perlindungan harta. Al-Qur’an secara tegas melarang penguasaan harta orang lain tanpa hak. Allah Swt. berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْٓا اَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوْا بِهَآ اِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوْا فَرِيْقًا مِّنْ اَمْوَالِ النَّاسِ بِالْاِثْمِ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ ࣖ

Artinya: "Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui." (QS Al-Baqarah: 188)

Mengambil barang hanyut tanpa izin pemiliknya, meskipun terjadi dalam situasi bencana, tetap termasuk perbuatan yang tidak dibenarkan secara syariat dan bertentangan dengan etika kemanusiaan. Islam mengajarkan empati dan tolong-menolong, bukan pemanfaatan penderitaan orang lain.

Baca juga: Doa Perlindungan dari Bencana Hujan Lebat Lengkap dengan Artinya

Batasan Kondisi Darurat

Meski demikian, fikih Islam juga mengenal konsep darurat. Dalam keadaan tertentu, ketika seseorang berada dalam ancaman nyata terhadap keselamatan jiwa dan tidak menemukan alternatif lain, syariat memberikan keringanan terbatas.

Ibnu Hajar al-Haitami dalam Tuhfatul Muhtaj menjelaskan bahwa orang yang berada dalam kondisi darurat boleh mengambil makanan milik orang lain sekadar untuk mempertahankan hidup.

Namun, keringanan ini bersifat sementara dan disertai kewajiban mengganti atau mengembalikan ketika memungkinkan.

Di luar kondisi darurat yang mengancam nyawa, pengambilan harta orang lain tetap tidak diperbolehkan.

Dari berbagai penjelasan fikih tersebut, dapat disimpulkan bahwa barang yang hanyut terbawa banjir tidak kehilangan status kepemilikannya.

Barang tersebut tetap menjadi hak pemilik asalnya, meskipun berpindah tempat akibat bencana alam.

Karena itu, orang yang menemukannya berkewajiban menjaga dan mengembalikannya, bukan menguasai atau memanfaatkannya.

Dalam situasi bencana, Islam justru mendorong sikap empati, amanah, dan tanggung jawab sosial.

Menjaga hak orang lain, terutama di tengah musibah merupakan bagian dari nilai keadilan dan akhlak yang dijunjung tinggi dalam ajaran Islam.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Kemenag Gelar Festival Literasi Islam, Ada Pameran Percetakan Al-Qur'an
Aktual
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Wasekjen PBNU Soroti Arogansi Hotman Paris, Tak Layak Jadi Teladan Generasi Muda
Aktual
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Kemenag: Tunjangan Guru dan Dosen Cair Minggu Depan
Aktual
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Berapa Jumlah Rakaat Shalat Taubat? Ini Penjelasan dan Dalilnya
Aktual
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Bolehkah Mengulang Shalat Taubat dalam Sehari? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Aktual
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Kemenag Siapkan Materi Pencegahan LGBTQ dalam Kurikulum, Tindak Lanjuti Perpres Nomor 111 Tahun 2025
Aktual
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Anggaran Tambahan Sudah Masuk, Kemenag Cairkan Tunjangan Profesi Guru-Dosen Minggu Depan
Aktual
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
7 Adab Imam Shalat Berjamaah Menurut Imam Al-Ghazali Agar Ibadah Lebih Sempurna
Aktual
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi 'Pelayan Ulama'
Tokoh NU Banten Dorong PBNU Kembali ke Khittah, Sebut Pengurus Harus Jadi "Pelayan Ulama"
Aktual
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Kapan Shalat Taubat Dilakukan? Simak Penjelasan Waktu Terbaik dan Harus Dihindari
Aktual
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Tunjangan Profesi Guru dan Dosen Kemenag 2025 Cair Minggu Depan
Aktual
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Ponpes Bahrul Ulum Tegaskan Netral Jelang Muktamar NU 2026, Fokus Layani Muktamirin
Aktual
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
3 Syarat Agar Taubat Diterima Allah Menurut Penjelasan Ulama
Aktual
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Tata Cara Shalat Taubat Lengkap dengan Niat dan Doa
Doa dan Niat
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Kemenhaj Umumkan Daftar Jemaah Haji 2027, ASN Diminta Segera Bangun Komunikasi
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar