Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Puasa 2026? Yuk Kenali Ramadhan, Bulan Penuh Ampunan

Kompas.com, 26 Januari 2026, 20:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Ramadhan selalu hadir sebagai momen spiritual yang paling dinanti umat Islam.

Tidak hanya menjadi penanda dimulainya ibadah puasa, Ramadhan juga dipahami sebagai fase penyucian jiwa, penguatan solidaritas sosial, dan momentum transformasi pribadi.

Dalam perspektif Islam, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan “musim panen pahala” yang memiliki keutamaan multidimensi, baik teologis, psikologis, maupun sosial.

Para ulama menyebut Ramadhan sebagai sayyidus syuhur atau pemimpin seluruh bulan. Hal ini tidak terlepas dari rangkaian keistimewaan yang tidak ditemukan pada bulan lainnya, mulai dari turunnya Alquran, dilipatgandakannya pahala, hingga dibukanya pintu ampunan secara luas bagi hamba yang bersungguh-sungguh bertobat.

Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit

Ramadhan dalam Perspektif Alquran

Keutamaan Ramadhan secara eksplisit ditegaskan dalam Alquran.

Allah SWT berfirman:

Syahru Ramadhānal-ladzī unzila fīhil-Qur’ān hudan lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān.

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).” (QS Al-Baqarah: 185)

Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadhan memiliki posisi strategis dalam sejarah peradaban Islam.

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, turunnya Alquran di bulan Ramadhan bukan sekadar peristiwa historis, melainkan simbol dimulainya revolusi spiritual dan moral umat manusia yang berlandaskan wahyu.

Dengan demikian, Ramadhan tidak dapat dipisahkan dari Alquran. Ibadah tilawah, tadabbur, dan penghayatan makna ayat-ayat suci menjadi bagian utama dari atmosfer Ramadhan yang membedakannya dari bulan lain.

Baca juga: Puasa Sya’ban, Latihan Spiritual Jelang Ramadhan: Ini Dalil Hadis dan Anjuran Ulama

Pintu Ampunan Dibuka Lebar

Salah satu keutamaan besar Ramadhan adalah terbukanya pintu ampunan. Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR Bukhari dan Muslim)

Syekh Yusuf Al-Qaradawi dalam bukunya Fiqh Ash-Shiyam menjelaskan bahwa puasa Ramadhan berfungsi sebagai mekanisme penyucian jiwa.

Ia tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menata ulang orientasi hidup agar kembali berpusat pada nilai ketakwaan.

Dalam konteks modern yang sarat tekanan sosial dan krisis moral, Ramadhan menjadi ruang refleksi kolektif.

Umat diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia untuk menata ulang hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri.

Ramadhan dan Pendidikan Karakter Spiritual

Puasa Ramadhan secara tidak langsung membentuk karakter spiritual yang kuat. Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut puasa sebagai ibadah yang paling efektif untuk melemahkan dominasi hawa nafsu. Ketika nafsu dikendalikan, hati menjadi lebih mudah menerima cahaya hidayah.

Nilai kesabaran, empati sosial, dan kejujuran tumbuh melalui proses puasa. Lapar yang dirasakan orang berpuasa mengajarkan solidaritas terhadap kaum miskin, sementara pembatasan diri melatih kedisiplinan dan tanggung jawab moral.

Ramadhan dengan demikian bukan hanya ritual individual, tetapi juga instrumen pembentukan etika sosial.

Tidak mengherankan jika di banyak masyarakat Muslim, suasana Ramadhan identik dengan meningkatnya kegiatan sedekah, zakat, dan bantuan kemanusiaan.

Baca juga: Kapan Puasa 2026 Tiba? Jadwal Lengkap Ramadhan hingga Idul Adha

Lailatul Qadar: Keistimewaan yang Mengungguli Seribu Bulan

Salah satu puncak keutamaan Ramadhan terletak pada malam Lailatul Qadar.

Allah SWT berfirman:

Lailatul qadri khairum min alfi syahr.

Artinya: “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 3)

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya, keutamaan Lailatul Qadar menunjukkan betapa Allah memberikan peluang luar biasa bagi umat Nabi Muhammad SAW untuk meraih pahala dalam waktu yang singkat.

Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun, usia yang bahkan melampaui rata-rata umur manusia.

Hal ini memperkuat pandangan bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah rutin, melainkan “bonus spiritual” yang Allah berikan sebagai bentuk kasih sayang kepada umat Islam.

Ramadhan sebagai Momentum Perubahan Sosial

Di luar dimensi ritual, Ramadhan juga memiliki implikasi sosial yang kuat. Dalam bukunya Asrar Ash-Shiyam, Syekh Ali Ahmad Al-Jurjawi menegaskan bahwa puasa membangun kesadaran kolektif tentang keadilan sosial.

Orang kaya belajar merasakan penderitaan orang miskin, sehingga lahir empati yang mendorong tindakan nyata.

Fenomena meningkatnya zakat fitrah, sedekah Ramadhan, dan program berbagi makanan berbuka puasa mencerminkan peran Ramadhan sebagai katalisator solidaritas sosial.

Dalam konteks bangsa yang menghadapi tantangan kemiskinan dan ketimpangan, nilai Ramadhan menjadi sangat relevan.

Baca juga: Hitung Mundur Puasa 2026: Berapa Hari Lagi Ramadhan? Ini Perkiraannya

Lebih dari Sekadar Rutinitas Tahunan

Ramadhan sering kali dipersepsi hanya sebagai agenda kalender keagamaan. Padahal, substansi Ramadhan jauh lebih dalam.

Ia adalah proses pembentukan manusia yang lebih sadar, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Tuhan.

Jika Ramadhan dijalani dengan kesungguhan, maka dampaknya tidak berhenti di hari Idul Fitri. Spirit kesabaran, kejujuran, dan kepedulian sosial seharusnya terus hidup dalam sebelas bulan berikutnya.

Di sinilah Ramadhan menunjukkan maknanya yang paling esensial: bukan sekadar menahan lapar, tetapi membangun peradaban yang berakar pada nilai ketakwaan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar