Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tanda Puasa Ramadhan Diterima Allah, Cek dari Amal Ini

Kompas.com, 27 Januari 2026, 06:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bulan Ramadhan selalu datang membawa harapan besar bagi umat Islam. Bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang meraih status sebagai hamba yang puasanya diterima oleh Allah SWT.

Sebab dalam ajaran Islam, puasa memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki ibadah lain, pahalanya tidak ditakar secara kuantitatif, melainkan langsung berada dalam penilaian Allah.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis qudsi bahwa Allah sendiri yang akan membalas puasa seorang hamba.

Baca juga: Puasa Tanggal Berapa 2026? Ini Perkiraan 1 Ramadhan dan Lebaran Versi Pemerintah & Muhammadiyah

Namun di balik keutamaan itu, tersimpan peringatan serius. Nabi Muhammad SAW mengingatkan bahwa tidak semua orang yang berpuasa otomatis mendapatkan pahala.

Ada yang hanya memperoleh rasa lapar dan haus. Inilah yang membuat pertanyaan tentang “apakah puasa kita diterima?” menjadi relevan dan penting untuk direnungkan.

Puasa dalam Perspektif Alquran

Alquran menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk ketakwaan. Allah SWT berfirman:

“Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyāmu kamā kutiba ‘alal-ladzīna min qablikum la‘allakum tattaqūn.”

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).

Ayat ini menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan puasa bukan semata aspek ritual, melainkan perubahan kualitas spiritual.

Menurut Quraish Shihab dalam buku Tafsir Al-Mishbah, puasa berfungsi sebagai sarana pendidikan jiwa agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu dan memperkuat kesadaran moral dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga: Kapan Puasa 2026? Yuk Kenali Ramadhan, Bulan Penuh Ampunan

Tidak Semua Puasa Berbuah Pahala

Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Kam min shā'imin laisa lahu min shiyāmihi illal-jū‘ wal-‘athasy.”

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya selain lapar dan haus.” (HR. Ibnu Majah).

Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa puasa bisa kehilangan makna substansial jika tidak dibarengi dengan penjagaan akhlak, lisan, dan hati.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa puasa sejati bukan hanya menahan perut, tetapi juga menjaga mata dari pandangan haram, lisan dari dusta, dan hati dari niat buruk.

Melanjutkan Amal Saleh Pasca Ramadhan

Salah satu indikator kuat diterimanya puasa Ramadhan adalah keberlanjutan amal setelah Idul Fitri.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif menegaskan bahwa kebiasaan berpuasa di bulan Syawal, khususnya puasa enam hari, menjadi tanda kebaikan yang berkesinambungan.

Ia menulis bahwa Allah tidak hanya menilai amal dalam satu momentum, tetapi juga melihat dampaknya dalam kehidupan berikutnya.

Jika seseorang mampu menjaga semangat ibadah setelah Ramadhan, hal itu menjadi sinyal bahwa ibadah sebelumnya memiliki kualitas spiritual yang baik.

Dalam konteks ini, puasa Syawal bukan sekadar amalan sunnah, tetapi juga refleksi konsistensi.

Menurut Ibnu Rajab, keberlanjutan amal saleh merupakan bentuk “tanda penerimaan” karena Allah biasanya memberi taufik lanjutan kepada hamba yang amalnya diridhai.

Baca juga: Bukan Sekadar Puasa, Ini 3 Peristiwa Besar di Bulan Ramadhan

Perubahan Sikap terhadap Maksiat

Tanda lain yang tidak kalah penting adalah munculnya komitmen kuat untuk meninggalkan maksiat.

Puasa yang diterima akan melahirkan kepekaan moral. Hati menjadi lebih sensitif terhadap dosa dan lebih condong kepada kebaikan.

Ibnu Rajab menegaskan bahwa istighfar yang tidak disertai penyesalan dan tekad meninggalkan dosa hanyalah ucapan lisan tanpa nilai spiritual.

Dalam Lathaiful Ma’arif, ia menjelaskan bahwa seseorang yang masih merencanakan maksiat setelah Ramadhan menunjukkan bahwa puasanya belum menembus dimensi batin.

Sejalan dengan itu, Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menyatakan bahwa tobat yang benar harus memenuhi tiga unsur, yaitu menyesali dosa, meninggalkan perbuatan maksiat, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.

Jika puasa melahirkan ketiga hal ini, maka ia telah menjalankan fungsinya sebagai sarana tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa.

Baca juga: Menyambut Ramadhan 2026, Strategi Agar Ibadah Maksimal dan Tubuh Fit

Akhlak yang Lebih Terjaga

Perubahan perilaku sosial juga menjadi indikator penting. Orang yang puasanya diterima biasanya lebih sabar, lebih mudah memaafkan, dan lebih peduli terhadap sesama.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa puasa tidak boleh diiringi dengan kemarahan dan pertengkaran. Jika seseorang dicaci, ia dianjurkan menjawab, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar, pesan ini menunjukkan bahwa puasa memiliki dimensi sosial.

Ia tidak hanya membangun hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga memperhalus relasi horizontal dengan manusia.

Konsistensi Ibadah dan Ketekunan Spiritual

Tanda lain yang sering disebut para ulama adalah meningkatnya konsistensi ibadah. Shalat menjadi lebih khusyuk, tilawah Al-Qur’an lebih rutin, dan sedekah menjadi kebiasaan.

Imam Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.

Jika setelah Ramadhan seseorang tetap menjaga shalat malam, memperbanyak dzikir, dan meluangkan waktu untuk Al-Qur’an, hal itu menunjukkan bahwa puasa telah meninggalkan jejak spiritual yang mendalam.

Baca juga: Puasa Tanggal Berapa 2026? Ini Perkiraan 1 Ramadhan dan Lebaran Versi Pemerintah & Muhammadiyah

Antara Harapan dan Muhasabah

Meski berbagai tanda telah dijelaskan oleh para ulama, satu hal tetap harus dipegang: kepastian diterima atau tidaknya puasa sepenuhnya berada di tangan Allah.

Namun Islam mengajarkan keseimbangan antara harapan dan introspeksi. Harapan mendorong optimisme spiritual, sementara muhasabah menjaga kerendahan hati.

Dalam tradisi para salaf, enam bulan setelah Ramadhan digunakan untuk memohon agar puasa mereka diterima dan enam bulan berikutnya dipakai untuk berdoa agar kembali dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. I

ni menunjukkan bahwa kualitas puasa tidak berhenti pada bulan itu saja, tetapi berlanjut sepanjang tahun.

Menjadikan Ramadhan sebagai Titik Balik

Puasa yang diterima bukan hanya tentang ritual yang sah secara fikih, tetapi tentang perubahan hidup yang nyata.

Dari kebiasaan buruk menuju akhlak yang lebih baik, dari lalai menjadi lebih sadar, dari rutinitas kosong menjadi ibadah yang bernilai.

Ramadhan, pada akhirnya, bukan sekadar bulan ibadah, melainkan momentum transformasi. Jika selepas Ramadhan seseorang menjadi lebih dekat dengan Al-Qur’an, lebih jujur dalam pekerjaan, dan lebih peduli pada sesama, di sanalah tanda-tanda penerimaan itu mulai tampak.

Dan mungkin, di situlah rahasia terbesar puasa: bukan pada rasa lapar yang ditahan, melainkan pada hati yang berhasil ditata.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar