Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Santri Kalong di Buntet: Datang Pagi, Pulang Malam, Ilmu Agama Tetap Dalam

Kompas.com, 6 Februari 2026, 09:08 WIB
Singgih Wiryono,
Farid Assifa

Tim Redaksi

CIREBON, KOMPAS.com - Santri Kalong, istilah yang akrab ditelinga Pondok Buntet Pesantren. Istilah ini unik karena menggabungkan dua kata yang jauh berbeda.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "kalong" berarti kelelawar berukuran besar, pemakan buah-buahan dan tidur di siang hari dengan menggantungkan diri pada dahan pohon.

Sedangkan Santri memiliki makna orang yang mendalami agama Islam. Santri juga bisa dimaknai sebagai seorang murid yang belajar ilmu agama.

Sedangkan Santri Kalong, bukan berarti seorang santri yang mirip kelelawar, atau kekelawar yang menjadi santri. Tetapi istilah untuk seorang santri yang tidak menetap di asrama.

Baca juga: Rahasia Pesantren Buntet Bertahan 275 Tahun: Manuskrip, Sorogan, dan Bandongan

Hal tersebut diungkapkan oleh KH Muhammad Imaduddin Ishom, pengasuh Pondoj Pesantren Buntet, Artapada Kulon, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat, saat berjumpa Kompas.com, 5 Desember 2025.

"Santri Kalong itu kan santri yang datang ke sini pagi, malam pulang. Jadi enggak stay. Enggak stay mereka itu. Ya mereka yang ada di sekitar Buntet. Dari desa-desa sekitar Buntet. Mereka datang ke sini pagi-pagi, ikut formal, kemudian juga ikut informal di pondok-pondok, ikut ngajinya, tapi tidak tidur di sini, tidak tidur di pondok. Tapi pulang karena dekat," imbuhnya saat ditemui Tim Jelajah Pesantren Kompas.com, Jumat sore, 15 Desember 2025 lalu.

Dinamakan santri kalong karena santri yang pulang dan tidak menetap di pondok pesantren memiliki kebiasaan yang hampir sama.

Karena pada masa lampau, pengajian atau pembelajaran di pesantren lebih banyak dilakukan pada malam hari, kemudian para santri banyak yang beraktivitas di malam hari.

Kalau siang tidur kalau malam beraktivitas. Tapi seiring berjalannya waktu, aktivitas sudah bergeser, pagi berfokus pada pembelajaran di pesantren, sedangkan malam hari tetap digunakan untuk beristirahat.

Namun istilah santri kalong tetap melekat untuk mereka yang tidak tidur di asrama pondokk pesantren.

"Jadi mereka sekolah tidur siang itu. Kemudian malamnya datang ke pondok, ngajinya malam. Nanti pulang-pulang itu Subuh. Nah itu makanya dikatain Kalong itu ya kayak kayak Kalong hidupnya gitu loh, santri-santri itu. Awal istilahnya disebut Santri Kalong itu," ucapnya.

Belajar Ilmu Agama dan Pendidikan Umum

Salah satu santri kalong yang ditemui Kompas.com adalah Abdullah, ia sudah menjadi santri kalong sejak 2016 silam, saat dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kesitimewaan santri kalong adalah bisa belajar dengan fleksibel, memberikan keleluasaan pembagian waktu antara sekolah formal dan sekolah keagamaan.

"Selama menjadi santri kalong, saya belajar tentang fikih, nahwu, tasawuf dan yang lainnnya," kata Abdullah.

Dia mengatakan, menjadi santri kalong memberikan bekal lebih dalam ajaran agama, karena di sekolah formal tidak diajarkan secara mendalam.

"Alhamdulillahnya saya jadi Santri Kalong di sini dapet reward-lah, reward-nya itu bisa memperdalam ilmu agama lebih dalam, gitu," tuturnya.

Selama menjadi santri kalong, Abdullah mencicipi metode pengajaran agama dengan sorogan dan bandongan.

Dilansir dari jurnal yang ditulis Dia Fathul Jannah dari Universitas Sains Alquran Jawa Tengah, sorogan memiliki makna pembelajaran yang mendalam antara individu santri dengan seorang Kiai.

Metode ini memiliki akar bahasa dari bahasa Jawa yakni sorong, yang berarti maju atau menyodorkan.

Seorang santri akan menghadap Kiai satu persatu dengan membawa kitab yang telah dipelajari. Santri tersebut akan membaca di hadapan Kiai dan menjadi metode paling efektif untuk santri yang bercita-cita menjadi seorang alim ulama.

Metode ini disebut memiliki efektivitas yang tinggi dan bisa diselesaikan dengan cepat untuk santri dengan keunggulan kognitif yang baik.

Kelemahan metode ini adalah harus ada durasi yang panjang untuk menyelesaikan pelajaran tertentu, karena jumlah santri yang tidak sedikit.

Sedangkan metode bandongan, masih dari jurnal yang sama, diartikan sebagai sekelompok murid bisa belasan, puluhan, hingga ratusan yang mendengarkan seorang Kiai mengajar.

Kiai akan mendikte kitab dan memberikan penjelasan, sedangkan para santri memberikan catatan untuk kata atau kalimat yang tidak mereka mengerti di dalam kitab yang mereka pegang masing-masing.

Kelebihan metode ini yaitu memberikan layanan luas kepada para santri, namun dinilai kurang intens dan interaktif karena disampaikan lewat satu arah saja.

Dengan cara ini, eksistensi keilmuan Pesantren Buntet yang berusia lebih tua dari republik ini masih tetap terjaga dan terus menelurkan insan cendekia yang peduli terhadap negeri.

Dapat mencicipi dua metode ini menjadi salah satu kebanggaan Abdullah menjadi santri kalong.

Baca juga: Hari Santri di Buntet, Ketum Ansor: Kita Adalah Satu, Warisi Semangat Kiai Abbas

Abdullah berharap tradisi yang dia dapat selama menjadi santri kalong bisa tetap terjaga di Pesantren Buntet.

"Harapan selanjutnya itu sebenarnya sebagai pegangan. Pegangan saya, di manapun saya berada, apapun yang saya sudah lakukan di pondok, tetap saya pegang, tetap saya jaga. Tetap saya berikan buah hasil ilmu saya, hasil dari mondok saya ke masyarakat," imbuhnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar