Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menu Berbuka Puasa Unik di Dunia, Ada Kolak hingga Kabsah

Kompas.com, 13 Februari 2026, 15:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Berbuka puasa bukan sekadar momen melepas lapar dan dahaga setelah seharian menahan diri.

Di berbagai belahan dunia, waktu Maghrib pada bulan Ramadan menjadi ruang perjumpaan antara nilai spiritual, tradisi keluarga, dan kekayaan kuliner yang diwariskan lintas generasi.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“... tsumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-lail.”

“Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah [2]: 187)

Ayat tersebut menegaskan batas waktu puasa, sekaligus menjadi penanda dimulainya tradisi iftar yang di setiap negeri memiliki warna tersendiri.

Rasulullah SAW juga menganjurkan berbuka dengan yang manis dan sederhana, sebagaimana diriwayatkan dalam hadits tentang kebiasaan beliau berbuka dengan kurma sebelum menunaikan salat (HR. Abu Dawud).

Dalam buku Ramadan: Reflections on the Holy Month karya Tariq Ramadan, dijelaskan bahwa tradisi berbuka di dunia Islam selalu menjadi ekspresi syukur sekaligus solidaritas sosial.

Dari Asia Tenggara hingga Timur Tengah, dari Afrika Utara hingga Asia Selatan, meja iftar menjadi simbol kebersamaan umat.

Lalu, seperti apa ragam menu khas berbuka puasa di berbagai negara berikut rangkumannya dari berbagai sumber?

Malaysia: Bubur Lambuk, Simbol Berbagi di Masjid

Di Malaysia, aroma bubur lambuk hampir selalu menguar menjelang waktu Maghrib. Hidangan ini berupa bubur nasi gurih yang dimasak bersama daging, santan, dan aneka rempah seperti serai, kayu manis, dan daun pandan.

Bubur lambuk bukan sekadar makanan. Ia identik dengan tradisi berbagi di masjid-masjid. Dalam praktik sosial Ramadan di Malaysia, komunitas setempat memasak bubur lambuk dalam jumlah besar untuk dibagikan gratis kepada masyarakat.

Menurut kajian antropologi makanan dalam buku Food of the Islamic World karya Anissa Helou, praktik berbagi makanan saat Ramadan memperkuat solidaritas sosial sekaligus menjadi bentuk ibadah kolektif.

Baca juga: Makanan Kesukaan Rasulullah SAW, Inspirasi Menu Berbuka dan Sahur

Maroko: Harira, Sup Hangat Penuh Rempah

Di Maroko, iftar hampir tak pernah lengkap tanpa harira. Sup kental berbahan dasar tomat, lentil, buncis, daging, dan rempah-rempah ini menjadi menu pembuka utama sebelum hidangan berat.

Harira biasanya disantap bersama kurma dan roti khas Maroko. Kombinasi ini tidak hanya menghangatkan tubuh setelah berpuasa, tetapi juga mengembalikan energi secara bertahap.

Dalam buku Culinary Cultures of the Middle East karya Peter Heine, disebutkan bahwa harira telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Ramadan di Afrika Utara selama berabad-abad.

Indonesia: Kolak, Manis yang Menghangatkan

Di Indonesia, kolak menjadi ikon berbuka puasa. Campuran pisang, ubi, labu, santan, gula aren, dan daun pandan menghadirkan rasa manis sekaligus gurih yang khas.

Secara simbolik, kolak kerap dimaknai sebagai pengingat akan kelembutan dan rasa syukur. Beberapa budayawan bahkan menafsirkan kolak sebagai bentuk akulturasi tradisi lokal dengan nilai Islam yang datang ke Nusantara.

Dalam buku Sejarah Makanan Indonesia karya Fadly Rahman, dijelaskan bahwa hidangan manis seperti kolak berkembang pesat seiring tradisi Ramadan di Jawa dan Sumatera.

Baca juga: Menu Favorit Rasulullah, Nutrisi dan Keberkahan dalam Hidangan

Arab Saudi: Kabsah, Sajian Utama Sarat Rempah

Beranjak ke Jazirah Arab, masyarakat Arab Saudi biasa menyajikan kabsah sebagai hidangan utama saat berbuka.

Nasi berbumbu dengan ayam atau daging kambing ini dimasak bersama kapulaga, cengkeh, kayu manis, lada hitam, dan pala.

Kabsah tidak hanya menyuguhkan rasa gurih dan aromatik, tetapi juga melambangkan keramahan khas Timur Tengah.

Dalam tradisi Arab, berbagi sepiring nasi besar untuk disantap bersama-sama mempererat ikatan keluarga.

Iran: Ash Reshteh, Sup Kental Penuh Makna

Di Iran, ash reshteh menjadi salah satu menu khas Ramadan. Sup kental ini terbuat dari campuran kacang-kacangan, sayuran hijau, mi (reshteh), dan rempah-rempah.

Hidangan ini mencerminkan kekayaan bahan lokal sekaligus filosofi keberlimpahan rezeki. Dalam budaya Persia, mi panjang dalam ash reshteh sering dimaknai sebagai simbol harapan panjang umur dan keberkahan.

India: Samosa, Gurih dan Renyah

Di India dan kawasan Asia Selatan, samosa menjadi camilan favorit untuk berbuka. Kulit tepung yang digoreng renyah ini diisi kentang berbumbu, kacang polong, atau daging.

Dalam buku The Mughal Feast karya Salma Husain, disebutkan bahwa tradisi menyajikan makanan berbumbu kuat saat Ramadan berkembang sejak era Kesultanan Mughal yang memadukan budaya Persia dan India.

Baca juga: Panduan Qadha Puasa Ramadhan: Dalil, Niat, Doa Buka Puasa dan Batas Waktunya Menurut Ulama

Yordania dan Negara Arab: Qatayef, Manis Penutup Ramadan

Qatayef adalah hidangan penutup populer di berbagai negara Arab, termasuk Yordania. Adonan mirip pancake mini ini diisi kacang, keju, atau krim, lalu digoreng dan disiram sirup manis.

Kehadiran qatayef hampir identik dengan Ramadan. Banyak pedagang musiman yang khusus menjual qatayef selama bulan suci.

Lebih dari Sekadar Makanan

Keberagaman menu berbuka puasa di dunia menunjukkan bahwa Islam hadir dalam berbagai budaya tanpa menghilangkan identitas lokal. Prinsipnya tetap sama: berbuka sebagai wujud syukur dan ketaatan.

Rasulullah SAW bersabda:

Dzahabaẓ-ẓama’u wabtallatil-‘urūq wa tsabatal-ajru in syā’ Allāh.

“Telah hilang rasa haus, urat-urat telah basah, dan pahala telah tetap, insya Allah.” (HR. Abu Dawud)

Dari bubur lambuk di Kuala Lumpur hingga qatayef di Amman, dari kolak di Jakarta hingga harira di Rabat, semuanya bermuara pada satu tujuan, yaitu mensyukuri nikmat Allah SWT dan mempererat kebersamaan.

Ingin mencoba pengalaman berbeda saat Ramadan? Mungkin tahun ini, Anda bisa menghadirkan cita rasa dunia di meja iftar keluarga.

Sebab, di balik setiap sendok sup dan setiap gigitan manis, tersimpan kisah panjang tentang iman, tradisi, dan kebersamaan umat Islam di seluruh penjuru dunia.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar