Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arti Marhaban Ya Ramadhan, Kareem, dan Mubarak, Mana yang Tepat?

Kompas.com, 14 Februari 2026, 15:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah melalui sidang isbat pemerintah dan keputusan ormas Islam, ucapan selamat menyambut bulan puasa mulai ramai dibagikan.

Di antara yang paling sering terdengar adalah “Marhaban Ya Ramadhan”, “Ramadhan Kareem”, dan “Ramadhan Mubarak”.

Meski sama-sama digunakan untuk menyambut bulan suci, ketiganya memiliki nuansa makna yang berbeda. Lalu, apa arti masing-masing ungkapan tersebut dan mana yang lebih tepat digunakan?

Baca juga: Lirik dan Chord Marhaban Ya Ramadhan – Haddad Alwi feat. Anti, Lagu Wajib Sambut Bulan Puasa

Marhaban Ya Ramadhan: Selamat Datang Bulan Suci

Ungkapan “Marhaban Ya Ramadhan” secara harfiah berarti “Selamat datang, wahai Ramadhan”.

Kata marhaban dalam bahasa Arab merupakan kata seru untuk menyambut tamu dengan penuh penghormatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), marhaban diartikan sebagai “selamat datang”.

Menurut M. Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya tentang bahasa Al-Qur’an, kata marhaban berasal dari akar kata rahb atau rahab yang bermakna luas atau lapang. Artinya, tamu yang datang disambut dengan kelapangan dada dan kegembiraan.

Dalam buku Lentera Hati karya Quraish Shihab, dijelaskan bahwa menyambut Ramadhan dengan “Marhaban” mencerminkan kesiapan batin dan keluasan hati untuk menerima perubahan diri selama bulan suci.

Secara spiritual, ucapan ini selaras dengan firman Allah SWT:

Syahru Ramadhaanal ladzii unzila fiihil Qur’an.

“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)

Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah tamu istimewa karena di dalamnya Al-Qur’an diturunkan. Maka menyambutnya dengan “Marhaban” memiliki makna simbolis yang kuat.

Baca juga: Ramadhan 2026 Mulai 19 Februari? Ini Penetapan Resmi Sejumlah Negara

Ramadhan Kareem: Ramadhan yang Pemurah?

Ungkapan “Ramadhan Kareem” berasal dari dua kata Arab: Ramadhan dan Kareem (karim), yang berarti mulia atau pemurah.

Secara literal, frasa ini dapat diartikan “Ramadhan yang pemurah” atau “Ramadhan yang mulia”.

Dalam praktiknya, banyak orang memaknainya sebagai doa: “Semoga Ramadhan bermurah hati kepadamu”.

Dalam literatur Arab klasik, kata karim memang sering digunakan untuk menunjukkan kemuliaan dan kedermawanan. Namun, sebagian ulama berbeda pendapat mengenai penggunaannya.

Dikutip dari laman Muslim.or.id, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah menjelaskan bahwa penyebutan “Ramadhan Kareem” bisa dipahami sebagai ungkapan doa, bukan berarti bulan tersebut yang memberi, melainkan Allah yang memberi kemuliaan melalui Ramadhan.

Namun, ada pula pendapat yang berhati-hati karena khawatir maknanya seolah-olah menisbatkan sifat kemurahan kepada bulan, bukan kepada Allah SWT.

Meski demikian, dalam praktik global, ungkapan ini sangat populer di Timur Tengah dan digunakan secara luas tanpa dimaksudkan menyimpang dari akidah.

Baca juga: Keutamaan Bulan Ramadhan: Memahami Tarhib Ramadhan, Makna “Marhaban Ya Ramadhan”, dan Meluruskan Istilah “Tahrib Ramadhan”

Ramadhan Mubarak: Ramadhan yang Penuh Berkah

Berbeda dengan “Kareem”, kata Mubarak berarti diberkahi atau penuh keberkahan. Sehingga “Ramadhan Mubarak” dapat dimaknai sebagai “Ramadhan yang penuh berkah” atau “Selamat Ramadhan”.

Secara teologis, makna ini lebih langsung karena Al-Qur’an sendiri menyebut keberkahan sebagai karunia Allah.

Allah SWT berfirman:

Haa kitaabun anzalnaahu mubaarakun.

“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkahi.” (QS. Al-An’am: 92)

Kata mubarak dalam Al-Qur’an merujuk pada sesuatu yang diberkahi Allah. Maka penggunaan “Ramadhan Mubarak” dianggap lebih aman secara makna, karena jelas bahwa keberkahan bersumber dari Allah.

Dalam buku Fiqh Puasa karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan karena di dalamnya pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup.

Hadis riwayat Muhammad SAW yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menyebutkan:

“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.”

Hadis ini menguatkan makna keberkahan yang terkandung dalam ucapan “Ramadhan Mubarak”.

Baca juga: Niat Puasa Ramadhan 2026 Sebulan Penuh dan Sehari Lengkap dengan Artinya

Mana yang Lebih Tepat Digunakan?

Secara umum, ketiga ungkapan tersebut memiliki makna positif dan bertujuan mendoakan kebaikan.

“Marhaban Ya Ramadhan” menekankan sikap menyambut dengan hati lapang.
“Ramadhan Kareem” menonjolkan kemuliaan dan kemurahan yang dirasakan selama bulan suci.
“Ramadhan Mubarak” menegaskan keberkahan yang Allah limpahkan di bulan tersebut.

Sebagian ulama cenderung merekomendasikan “Ramadhan Mubarak” karena lebih jelas menisbatkan keberkahan kepada Allah. Namun dalam praktik sosial, ketiganya telah menjadi bagian dari tradisi saling mendoakan.

Yang terpenting bukan sekadar ucapan, melainkan kesiapan menyambut Ramadhan dengan amal.

Allah SWT berfirman:

Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu la’allakum tattaquun.

“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 183)

Ayat ini menegaskan tujuan utama Ramadhan yaitu membentuk ketakwaan.

Baca juga: 40 Ucapan Selamat Ramadhan 2026 dalam Bahasa Inggris dan Artinya untuk Unggahan Media Sosial

Lebih dari Sekadar Ucapan

Ucapan selamat menyambut Ramadhan pada dasarnya adalah doa dan pengingat. Ia menjadi jembatan silaturahmi sekaligus tanda kegembiraan menyambut bulan ibadah.

Baik “Marhaban Ya Ramadhan”, “Ramadhan Kareem”, maupun “Ramadhan Mubarak”, semuanya mengandung harapan yang sama, yaitu semoga Ramadhan membawa keberkahan, ampunan, dan perubahan diri yang lebih baik.

Pada akhirnya, makna terdalam dari setiap ucapan itu akan terwujud melalui kesungguhan menjalani puasa, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar