KOMPAS.com – Menjelang penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah melalui sidang isbat pemerintah dan keputusan ormas Islam, ucapan selamat menyambut bulan puasa mulai ramai dibagikan.
Di antara yang paling sering terdengar adalah “Marhaban Ya Ramadhan”, “Ramadhan Kareem”, dan “Ramadhan Mubarak”.
Meski sama-sama digunakan untuk menyambut bulan suci, ketiganya memiliki nuansa makna yang berbeda. Lalu, apa arti masing-masing ungkapan tersebut dan mana yang lebih tepat digunakan?
Baca juga: Lirik dan Chord Marhaban Ya Ramadhan – Haddad Alwi feat. Anti, Lagu Wajib Sambut Bulan Puasa
Ungkapan “Marhaban Ya Ramadhan” secara harfiah berarti “Selamat datang, wahai Ramadhan”.
Kata marhaban dalam bahasa Arab merupakan kata seru untuk menyambut tamu dengan penuh penghormatan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), marhaban diartikan sebagai “selamat datang”.
Menurut M. Quraish Shihab dalam berbagai kajiannya tentang bahasa Al-Qur’an, kata marhaban berasal dari akar kata rahb atau rahab yang bermakna luas atau lapang. Artinya, tamu yang datang disambut dengan kelapangan dada dan kegembiraan.
Dalam buku Lentera Hati karya Quraish Shihab, dijelaskan bahwa menyambut Ramadhan dengan “Marhaban” mencerminkan kesiapan batin dan keluasan hati untuk menerima perubahan diri selama bulan suci.
Secara spiritual, ucapan ini selaras dengan firman Allah SWT:
Syahru Ramadhaanal ladzii unzila fiihil Qur’an.
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185)
Ayat ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah tamu istimewa karena di dalamnya Al-Qur’an diturunkan. Maka menyambutnya dengan “Marhaban” memiliki makna simbolis yang kuat.
Baca juga: Ramadhan 2026 Mulai 19 Februari? Ini Penetapan Resmi Sejumlah Negara
Ungkapan “Ramadhan Kareem” berasal dari dua kata Arab: Ramadhan dan Kareem (karim), yang berarti mulia atau pemurah.
Secara literal, frasa ini dapat diartikan “Ramadhan yang pemurah” atau “Ramadhan yang mulia”.
Dalam praktiknya, banyak orang memaknainya sebagai doa: “Semoga Ramadhan bermurah hati kepadamu”.
Dalam literatur Arab klasik, kata karim memang sering digunakan untuk menunjukkan kemuliaan dan kedermawanan. Namun, sebagian ulama berbeda pendapat mengenai penggunaannya.
Dikutip dari laman Muslim.or.id, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin pernah menjelaskan bahwa penyebutan “Ramadhan Kareem” bisa dipahami sebagai ungkapan doa, bukan berarti bulan tersebut yang memberi, melainkan Allah yang memberi kemuliaan melalui Ramadhan.
Namun, ada pula pendapat yang berhati-hati karena khawatir maknanya seolah-olah menisbatkan sifat kemurahan kepada bulan, bukan kepada Allah SWT.
Meski demikian, dalam praktik global, ungkapan ini sangat populer di Timur Tengah dan digunakan secara luas tanpa dimaksudkan menyimpang dari akidah.
Berbeda dengan “Kareem”, kata Mubarak berarti diberkahi atau penuh keberkahan. Sehingga “Ramadhan Mubarak” dapat dimaknai sebagai “Ramadhan yang penuh berkah” atau “Selamat Ramadhan”.
Secara teologis, makna ini lebih langsung karena Al-Qur’an sendiri menyebut keberkahan sebagai karunia Allah.
Allah SWT berfirman:
Haa kitaabun anzalnaahu mubaarakun.
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan yang diberkahi.” (QS. Al-An’am: 92)
Kata mubarak dalam Al-Qur’an merujuk pada sesuatu yang diberkahi Allah. Maka penggunaan “Ramadhan Mubarak” dianggap lebih aman secara makna, karena jelas bahwa keberkahan bersumber dari Allah.
Dalam buku Fiqh Puasa karya Yusuf Al-Qaradawi, dijelaskan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh keberkahan karena di dalamnya pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka, dan pintu neraka ditutup.
Hadis riwayat Muhammad SAW yang tercantum dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menyebutkan:
“Apabila Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup.”
Hadis ini menguatkan makna keberkahan yang terkandung dalam ucapan “Ramadhan Mubarak”.
Baca juga: Niat Puasa Ramadhan 2026 Sebulan Penuh dan Sehari Lengkap dengan Artinya
Secara umum, ketiga ungkapan tersebut memiliki makna positif dan bertujuan mendoakan kebaikan.
“Marhaban Ya Ramadhan” menekankan sikap menyambut dengan hati lapang.
“Ramadhan Kareem” menonjolkan kemuliaan dan kemurahan yang dirasakan selama bulan suci.
“Ramadhan Mubarak” menegaskan keberkahan yang Allah limpahkan di bulan tersebut.
Sebagian ulama cenderung merekomendasikan “Ramadhan Mubarak” karena lebih jelas menisbatkan keberkahan kepada Allah. Namun dalam praktik sosial, ketiganya telah menjadi bagian dari tradisi saling mendoakan.
Yang terpenting bukan sekadar ucapan, melainkan kesiapan menyambut Ramadhan dengan amal.
Allah SWT berfirman:
Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumush shiyaamu la’allakum tattaquun.
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 183)
Ayat ini menegaskan tujuan utama Ramadhan yaitu membentuk ketakwaan.
Baca juga: 40 Ucapan Selamat Ramadhan 2026 dalam Bahasa Inggris dan Artinya untuk Unggahan Media Sosial
Ucapan selamat menyambut Ramadhan pada dasarnya adalah doa dan pengingat. Ia menjadi jembatan silaturahmi sekaligus tanda kegembiraan menyambut bulan ibadah.
Baik “Marhaban Ya Ramadhan”, “Ramadhan Kareem”, maupun “Ramadhan Mubarak”, semuanya mengandung harapan yang sama, yaitu semoga Ramadhan membawa keberkahan, ampunan, dan perubahan diri yang lebih baik.
Pada akhirnya, makna terdalam dari setiap ucapan itu akan terwujud melalui kesungguhan menjalani puasa, memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang