Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat Bersiap Hadapi "Ramadhan Kelabu"

Kompas.com, 17 Februari 2026, 15:44 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat bersiap menyambut Ramadhan 1447 Hijriah yang diperkirakan dimulai pada Rabu (18/2/2026) atau Kamis (19/2/2026).

Momentum bulan suci ini datang di tengah eskalasi kekerasan dan situasi kemanusiaan yang memburuk.

Dilansir dari Antara, sejumlah warga di wilayah tersebut menyebut Ramadhan tahun ini sebagai “Ramadhan kelabu” karena konflik yang belum mereda.

Menjelang Ramadhan 2026, warga Palestina di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem Timur menyatakan kesiapan mereka menghadapi bulan suci di tengah pembatasan pergerakan, pengamanan ketat, serta situasi keamanan yang belum stabil.

Ramadhan tahun ini diperkirakan berlangsung dalam suasana duka, kekhawatiran, dan tantangan kemanusiaan yang masih membayangi kehidupan sehari-hari warga Palestina.

Baca juga: Menlu Sugiono Tegaskan Dukungan untuk Palestina di Forum DK PBB

Gaza: Gencatan Senjata Dilanggar, Korban Terus Bertambah

Meski gencatan senjata diberlakukan di Gaza sejak 10 Oktober 2025, serangan Israel dilaporkan masih terjadi.

Pada Minggu (15/2/2026), sedikitnya 11 warga Palestina tewas dalam serangan di Gaza, menurut pejabat medis dan otoritas setempat, yang menyebut insiden itu sebagai pelanggaran gencatan senjata terbaru.

Otoritas kesehatan Gaza menyatakan sebanyak 603 warga Palestina tewas dan 1.618 orang luka-luka sejak gencatan senjata dimulai.

Secara keseluruhan, jumlah korban tewas di Gaza sejak Oktober 2023 disebut telah melampaui 72.000 orang, dengan lebih dari 171.000 lainnya mengalami luka-luka.

Di Gaza City, Pasar Zawiya yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas perdagangan di Kota Tua kini tampak lengang. Banyak toko tidak lagi ramai, dan barang dagangan menumpuk tanpa pembeli.

Sameh al-Bitar (40), pemilik toko rempah-rempah, mengenang suasana Ramadhan sebelum konflik berkepanjangan melanda wilayah tersebut.

"Dulu kami biasa menghias rumah, jalanan, dan pasar," katanya. Sekarang semuanya di Gaza tampak menyedihkan.

Al-Bitar mengaku kehilangan dua putranya akibat serangan udara. "Perang belum berakhir," katanya. Setiap hari terjadi pelanggaran, kematian, dan korban luka.

Ia memperkirakan Ramadhan tahun ini hanya akan diisi dengan pelaksanaan ibadah, tanpa tradisi kunjungan keluarga atau buka puasa bersama yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan sosial warga Gaza.

Pengamanan di Tepi Barat dan Yerusalem Timur Diperketat

Di Tepi Barat dan Yerusalem Timur, kekhawatiran meningkat terkait potensi pembatasan dan bentrokan selama Ramadhan 2026.

Pasukan Israel dilaporkan terus melakukan penyerbuan dan penangkapan di sejumlah kota dan kamp pengungsi.

Pos pemeriksaan militer diperkuat di berbagai pintu masuk kota dan desa, yang berdampak pada aktivitas warga menjelang bulan suci.

Kota-kota seperti Nablus, Jenin, dan Tulkarm dilaporkan mengalami konfrontasi sporadis antara pemuda Palestina dan pasukan Israel.

Warga juga melaporkan seringnya penyerbuan pada malam hari, penangkapan, perluasan permukiman, serta penyitaan tanah.

Akses ke Situs Keagamaan Dibatasi

Ketegangan disebut meningkat di sekitar lokasi-lokasi keagamaan yang sensitif.

Di Hebron, warga menyatakan akses menuju Masjid Ibrahimi dibatasi akibat pengamanan ketat dan keberadaan militer Israel di sekitar area yang berdekatan dengan permukiman Yahudi.

"Semua indikasi menunjukkan bahwa Ramadhan kali ini akan sangat berat," kata Saeed al-Awiwi (50), yang tinggal di dekat masjid tersebut.

Ia mengungkapkan kekhawatiran atas potensi meningkatnya serangan pemukim Israel di bawah perlindungan tentara.

Di Kota Tua Yerusalem, Abdul Rahman al-Alami (22) menyatakan kekhawatirannya terkait kemungkinan pembatasan akses bagi anak muda untuk beribadah di Masjid Al-Aqsa.

"Hanya tinggal beberapa hari lagi, dan orang-orang seusia kita mungkin akan dilarang masuk," katanya di dekat Gerbang Damaskus. Ia menambahkan bahwa otoritas kerap memasang penghalang, gerbang elektronik, dan melakukan pemeriksaan tambahan selama Ramadhan.

Pendaftaran Tanah di Tepi Barat Picu Kontroversi

Sementara itu, pemerintah Israel pada Minggu menyetujui dimulainya proses pendaftaran tanah di Tepi Barat untuk pertama kalinya sejak 1967, menurut pejabat Israel.

Langkah tersebut disebut berpotensi mengklasifikasikan wilayah luas sebagai tanah negara.

Kepresidenan Palestina mengutuk keputusan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan menyebutnya sebagai langkah menuju aneksasi de facto.

Israel merebut Tepi Barat dalam perang Timur Tengah 1967, sementara sebagian besar komunitas internasional menilai permukiman Israel di wilayah itu ilegal.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar