Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

8 Takjil Paling Laris Saat War Takjil, dari Gorengan hingga Timun Suri

Kompas.com, 21 Februari 2026, 15:23 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang pukul 16.00 WIB di bulan Ramadhan, suasana jalanan mendadak berubah.

Deretan lapak dadakan bermunculan, aroma gorengan menguar, dan antrean pembeli memadati trotoar.

Fenomena ini populer disebut “war takjil”, tradisi berburu makanan berbuka yang selalu dinanti setiap tahun.

Baca juga: Jadwal Buka Puasa Kota Bandung Hari Ini, 21 Februari 2026

Ramadhan sendiri bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum meningkatkan ketakwaan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183:

Yā ayyuhal-lażīna āmanū kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alal-lażīna min qablikum la‘allakum tattaqūn

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Namun dalam praktiknya, menjelang berbuka justru menjadi momen paling “menggoda”.

Lalu, apa saja ide takjil yang paling sering dibeli dan hampir tak pernah absen saat war takjil? Berikut beberapa menu takjil yang tidak pernah absen saat Ramadhan dari berbagai sumber:

Gorengan, Primadona yang Sulit Tergantikan

Aneka gorengan di Bazar Takjil Ramadhan Benhil 2026 atau bazar takjil di Benhil, Jumat (20/2/2026).Kompas.com/Krisda Tiofani Aneka gorengan di Bazar Takjil Ramadhan Benhil 2026 atau bazar takjil di Benhil, Jumat (20/2/2026).
Di antara semua menu, gorengan selalu jadi juara. Bakwan, tahu isi, tempe mendoan, hingga pisang goreng nyaris tak pernah sepi pembeli.

Dalam buku Fiqih Puasa karya Ahmad Sarwat, dijelaskan bahwa berbuka dengan makanan sederhana lebih dianjurkan sebelum melanjutkan makan besar. Gorengan kerap dipilih karena praktis, murah, dan cepat mengganjal perut.

Meski demikian, ahli gizi dalam buku Gizi Seimbang dalam Daur Kehidupan karya Sunita Almatsier mengingatkan agar konsumsi gorengan tidak berlebihan karena kandungan lemaknya cukup tinggi. Artinya, boleh saja menikmati, tetapi tetap bijak.

Baca juga: Menu Diet Ramadhan: Rekomendasi Berbuka dan Sahur Sehat

Kolak, Cita Rasa Manis yang Identik dengan Ramadhan

Kolak bola-bola ubi ungu untuk takjil buka puasa.DOK. PT AUSTINDO NUSANTARA JAYA TBK (ANJ) Kolak bola-bola ubi ungu untuk takjil buka puasa.
Kolak pisang, ubi, hingga kolang-kaling menjadi ikon Ramadhan di Indonesia. Kuah santan berpadu gula merah menghadirkan rasa manis-gurih yang khas.

Dalam Sejarah Kuliner Nusantara karya Fadly Rahman, kolak disebut sebagai adaptasi kuliner lokal yang kemudian melekat dengan tradisi Ramadhan karena bahan-bahannya mudah didapat dan bernilai energi tinggi.

Tak heran, kolak selalu habis lebih dulu. Selain mengenyangkan, rasa manisnya membantu mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.

Es Buah dan Minuman Dingin, Pelepas Dahaga Favorit

Ilustrasi es buah. DOK. Shutterstock/Ricky_herawan Ilustrasi es buah.
Setelah lebih dari 12 jam menahan haus, es buah, sop buah, hingga es blewah menjadi incaran utama. Warna sirup merah dan potongan buah segar menggoda siapa saja yang lewat.

Dalam buku Ilmu Pangan dan Gizi karya Sediaoetama, cairan dan gula alami dari buah membantu tubuh memulihkan hidrasi secara bertahap saat berbuka.

Karena itu, menu berbasis buah menjadi pilihan yang relatif lebih aman dibanding minuman tinggi gula buatan.

Baca juga: Ide Menu Takjil Kekinian dan Paling Dicari Cocok untuk Buka Puasa

Es Pisang Ijo, Primadona dari Timur Indonesia

Es Pisang Ijo di Pisang Ijo Cendana, Menteng.KOMPAS.com/MIFTAHUL RIZKY Es Pisang Ijo di Pisang Ijo Cendana, Menteng.
Kuliner khas Makassar ini kian populer di berbagai kota. Pisang raja dibalut adonan hijau, disajikan bersama bubur sumsum, sirup merah, dan es serut.

Kombinasi karbohidrat dan gula sederhana membuatnya cukup mengenyangkan. Banyak orang memilih menu ini sebagai pengganjal sebelum salat Maghrib.

Lontong Isi dan Arem-Arem, Andalan Tim Asin

Suherni (50) bersama tetangganya, Saodah (54) dan Nunung (47) membuat lontong untuk dibagikan secara gratis kepada warga sekitar. KOMPAS.com/BAHARUDIN AL FARISI Suherni (50) bersama tetangganya, Saodah (54) dan Nunung (47) membuat lontong untuk dibagikan secara gratis kepada warga sekitar.
Bagi yang kurang menyukai makanan manis, lontong isi oncom atau ayam jadi pilihan tepat. Teksturnya padat dan praktis dibawa pulang.

Dalam Ensiklopedia Kuliner Indonesia terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, lontong disebut sebagai salah satu pangan tradisional yang fleksibel dan mudah dikombinasikan dengan berbagai isian.

Menu ini sering diborong bersamaan dengan gorengan, menciptakan perpaduan rasa gurih dan mengenyangkan.

Bubur Sumsum, Candil, hingga Biji Salak

bubur sumsum campur di bazaar takjil ramadhan benhil Dok.KOMPAS.com/Aska Bagus Aldika bubur sumsum campur di bazaar takjil ramadhan benhil
Tekstur lembut bubur sumsum dengan kuah gula merah kerap jadi pilihan aman untuk lambung kosong. Begitu pula candil atau biji salak yang kenyal.

Dalam tradisi kuliner Jawa, hidangan berbasis santan dan gula merah banyak disajikan dalam momen penting, termasuk bulan puasa, karena dianggap menghangatkan tubuh.

Baca juga: Ide Menu Sahur Pertama Ramadhan: Praktis, Bergizi, dan Tahan Lapar

Bubur Kampiun dan Kekayaan Rasa Minang

Ilustrasi bubur kampiun, kuliner legendaris khas Minang.Dok. Mediakom Kementerian Kesehatan RI Ilustrasi bubur kampiun, kuliner legendaris khas Minang.
Bagi pencinta variasi, bubur kampiun menghadirkan campuran bubur sumsum, ketan hitam, candil, hingga kolak dalam satu wadah. Rasanya kompleks dan sangat mengenyangkan.

Menu ini menunjukkan bagaimana tradisi lokal memperkaya ragam takjil Nusantara.

Es Timun Suri, Buah Musiman yang Diburu

Ilustrasi es mentimun suri selasih jahe.Dok. Shutterstock/sri widyowati Ilustrasi es mentimun suri selasih jahe.
Saat Ramadhan, timun suri mendadak populer. Buah bertekstur lembut ini biasanya disajikan dengan sirup cocopandan dan es batu.

Karakteristiknya yang menyegarkan membuatnya cocok sebagai pelepas dahaga alami.

Antara Tradisi dan Makna Spiritual

Fenomena war takjil memang menghadirkan keceriaan tersendiri. Namun, esensi berbuka tetaplah kesederhanaan.

Rasulullah SAW menganjurkan berbuka secukupnya sebelum melanjutkan ibadah. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 185:

Syahru Ramaḍānal-lażī unzila fīhil-Qur’ān

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”

Artinya, berburu takjil boleh saja menjadi tradisi tahunan, tetapi jangan sampai melupakan tujuan utama puasa, yaitu membentuk ketakwaan dan pengendalian diri.

War takjil bukan sekadar soal makanan. Ia adalah cerminan budaya, kebersamaan, dan denyut ekonomi rakyat kecil yang menggeliat setiap sore Ramadhan.

Lalu, dari semua ide takjil paling laris ini, mana yang selalu masuk daftar belanja Anda setiap tahun?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com