Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Algoritma Menguasai, Tafakur Terlupakan? Peringatan Keras dari Lemhannas

Kompas.com, 28 Februari 2026, 05:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah lanskap kehidupan modern secara drastis.

Namun di balik kemudahan dan efisiensi yang ditawarkan teknologi, muncul pertanyaan mendasar tentang daya tahan mental, kedalaman spiritual, dan arah kebudayaan bangsa. Dalam konteks inilah seni Islam dipandang sebagai ruang refleksi yang kian relevan.

Gubernur Lemhannas RI, TB. Ace Hasan Syadzily, mengungkapkan bahwa pihaknya melakukan kajian internal yang melibatkan para ahli psikologi dan demografi untuk membaca dinamika generasi di Indonesia. Hasilnya menunjukkan temuan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan.

“Ada satu hal yang menarik, yaitu dalam setiap fase generasi demografi, misalnya baby boomer, dari aspek IQ dan kecerdasan emosionalnya itu lebih rendah dibandingkan dengan generasi setelahnya yaitu generasi X,” ujar Ace saat sambutan pameran seni "Ruang Tafakur," Jakarta, Jumat (27/2/2026).

Baca juga: Pameran Ruang Tafakur, Refleksi Spiritualitas Islam di Ramadan 2026

Ia melanjutkan, tren tersebut sempat menunjukkan peningkatan pada generasi berikutnya.

“Generasi X ketika memasuki generasi milenial itu lebih bagus kecerdasannya. Setelah itu, yaitu generasi Z, mengalami penurunan baik kecerdasan neurosciencenya maupun kecerdasan spiritual.” jelasnya.

Menurut Ace, salah satu faktor yang memengaruhi penurunan tersebut adalah pola konsumsi teknologi yang tidak diimbangi dengan ruang penguatan akademik dan spiritual.

“Salah satu penyebabnya adalah karena konsumsi terhadap teknologi yang tanpa disertai dengan kemampuan tadi, peluang akademik, apalagi ruang tafakur spiritual.” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa manusia membutuhkan ruang jeda dari derasnya arus digital.

“Karena itu saya ingin menegaskan kembali bahwa ketika kita menempatkan diri kita untuk berada pada ruangan spiritualitas itu artinya bahwa kita sedang membangun agar diri kita memiliki kesehatan mental yang kuat.” tegasnya.

Baca juga: AI Boleh Canggih, tapi Tak Bisa Gantikan Ulama dan Guru

Bagi Ace, dimensi tersebut tidak bisa dipisahkan dari konsep ketahanan nasional.

“Saya kira ketahanan budaya merupakan salah satu di antara elemen penting dari ketahanan nasional. Kira-kira begitulah relevansinya,” katanya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa seni dan spiritualitas bukan sekadar isu kultural, tetapi memiliki dimensi strategis dalam pembangunan bangsa.

Ketika AI mendorong percepatan, otomatisasi, dan logika efisiensi, seni Islam justru menawarkan kedalaman, kesadaran, dan pengendapan makna.

Di sisi lain, Ketua Umum Nahdlatul Ulama, Yahya Cholil Staquf, juga menyinggung pentingnya tafakur sebagai praktik refleksi yang melampaui sekadar intelektualitas.

“Tafakur itu kegiatan intelektual atau spiritual? Ini masih menjadi objek diskusi,” ujarnya.

Baca juga: Menag Soroti Tantangan AI bagi Umat Beragama di Era Perubahan Cepat

Dalam suasana Ramadan, seni Islam menghadirkan ruang hening di tengah kebisingan algoritma.

Kaligrafi, lukisan, dan instalasi tidak hanya menjadi objek visual, melainkan medium perenungan.

Di tengah generasi yang akrab dengan layar dan notifikasi tanpa henti, ruang tafakur menjadi sarana untuk menata ulang keseimbangan batin.

Dengan demikian, seni Islam dapat dibaca sebagai respons kebudayaan terhadap tantangan era AI.

Ia bukan penolakan terhadap teknologi, melainkan pengingat bahwa kemajuan harus berjalan beriringan dengan kesehatan mental, kecerdasan spiritual, dan ketahanan budaya bangsa.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar