Editor
KOMPAS.com - Nuzulul Quran yang diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam.
Momen ini menandai turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.
Peristiwa tersebut menjadi awal penyampaian petunjuk Allah SWT kepada umat manusia melalui kitab suci Al-Quran.
Baca juga: Dzikir Malam Nuzulul Quran: Doa, Makna, dan Waktu Mengamalkannya
Peringatan Nuzulul Quran juga menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali memahami makna serta ajaran yang terkandung dalam Al-Quran.
Di Indonesia, peringatan Nuzulul Quran tidak hanya diisi dengan ibadah, tetapi juga diramaikan oleh berbagai tradisi masyarakat.
Dilansir dari Kompas.tv, berikut ragam tradisi peringatan Nuzulul Quran yang telah berlangsung secara turun-temurun di sejumlah daerah.
Salah satu tradisi yang cukup dikenal adalah peringatan Nuzulul Quran di Kota Solo, Jawa Tengah.
Masyarakat setempat biasanya menggelar tradisi tumpengan atau seribu tumpeng yang juga dikenal dengan sebutan Maleman Sriwedari.
Dalam tradisi tersebut, masyarakat berkumpul pada malam ke-21 Ramadan untuk menunggu arak-arakan seribu nasi tumpeng. Tumpeng tersebut diarak dari Keraton Kasunanan Surakarta menuju Joglo Sriwedari.
Setelah prosesi arak-arakan selesai, masyarakat yang hadir diperbolehkan menikmati tumpeng tersebut secara bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Di Aceh, masyarakat memiliki tradisi tersendiri dalam memperingati Nuzulul Quran. Perayaan biasanya dilakukan dengan memasak Kuah Beulangong, salah satu masakan khas daerah tersebut.
Kegiatan memasak dilakukan secara gotong royong oleh warga pada tanggal 17 Ramadan. Dalam tradisi ini, masyarakat juga menyembelih sapi yang dibeli dari dana sumbangan warga.
Kuah Beulangong kemudian dimasak dalam jumlah besar dan dinikmati bersama sebagai bagian dari peringatan Nuzulul Quran.
Selain tradisi kuliner dan kebersamaan, masyarakat di berbagai daerah juga memperingati Nuzulul Quran dengan kegiatan keagamaan, salah satunya khataman Al-Quran.
Tradisi ini umum dilakukan di sejumlah daerah di Indonesia, termasuk di Bojonegoro, Jawa Timur. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat membaca Al-Quran hingga mencapai juz terakhir secara bersama-sama.
Setelah khataman selesai, kegiatan biasanya ditutup dengan makan bersama atau kenduri sebagai bentuk rasa syukur.
Berbagai tradisi tersebut menunjukkan bahwa peringatan Nuzulul Quran di Indonesia tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga mempererat kebersamaan serta memperkuat nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang