Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Keutamaan Lailatul Qadar: Niat Sholat Sunnah & Amalan Malam 1000 Bulan

Kompas.com, 9 Maret 2026, 20:48 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Bagi umat Islam, sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan selalu menjadi fase yang paling dinantikan.

Pada waktu inilah peluang bertemu malam yang disebut lebih baik daripada seribu bulan terbuka lebar.

Malam tersebut dikenal sebagai Lailatul Qadar, malam penuh kemuliaan yang diyakini sebagai waktu turunnya rahmat, ampunan, serta keberkahan dari Allah SWT.

Karena keutamaannya yang begitu besar, umat Islam dianjurkan meningkatkan kualitas ibadah pada periode ini.

Berbagai amalan seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bersedekah hingga i’tikaf menjadi cara untuk menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan dengan harapan memperoleh kemuliaan tersebut.

Fenomena meningkatnya ibadah pada fase ini bukan hanya tradisi spiritual, tetapi juga mengikuti teladan yang dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW.

Malam yang Lebih Baik dari Seribu Bulan

Keutamaan Lailatul Qadar dijelaskan secara jelas dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Qadr. Dalam ayat ketiga disebutkan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan.

Para ulama menafsirkan bahwa ibadah pada malam itu memiliki nilai yang setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun.

Makna ini menunjukkan betapa besar rahmat yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Dalam kitab Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab, dijelaskan bahwa Lailatul Qadar bukan hanya malam yang memiliki nilai pahala besar, tetapi juga malam penentuan berbagai urusan manusia.

Pada malam tersebut para malaikat turun ke bumi membawa berbagai ketetapan yang telah ditentukan Allah SWT.

Sementara itu dalam kitab Lathaiful Ma’arif karya Ibn Rajab al-Hanbali, dijelaskan bahwa Lailatul Qadar merupakan malam yang dipenuhi dengan rahmat, keselamatan, dan keberkahan hingga terbitnya fajar.

Baca juga: Kapan Lailatul Qadar Terjadi? Ini Tanda dan Keutamaannya

Mengapa Lailatul Qadar Begitu Istimewa?

Keistimewaan malam Lailatul Qadar tidak lepas dari peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa tersebut terjadi ketika malaikat Jibril menyampaikan ayat pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad di Gua Hira. Momentum tersebut menandai dimulainya penyebaran risalah Islam kepada umat manusia.

Menurut penjelasan dalam buku Durratun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan al-Khubawi, malam Lailatul Qadar juga disebut sebagai malam penuh kemuliaan karena pada saat itu para malaikat turun ke bumi membawa keberkahan dan mendoakan orang-orang yang sedang beribadah.

Dalam riwayat yang dijelaskan dalam kitab tersebut disebutkan bahwa orang yang menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan shalat dan doa akan memperoleh ampunan dosa, bahkan Allah SWT menyiapkan berbagai kenikmatan di surga bagi hamba yang bersungguh-sungguh beribadah pada malam itu.

Anjuran Menghidupkan Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Banyak hadits menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW meningkatkan kesungguhan ibadah ketika memasuki sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, disebutkan bahwa Rasulullah SAW mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam dengan ibadah, serta membangunkan keluarganya agar tidak melewatkan keutamaan tersebut.

Karena Lailatul Qadar diyakini terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, para ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak ibadah pada seluruh malam tersebut. Cara ini dilakukan agar peluang mendapatkan kemuliaan malam tersebut semakin besar.

Sholat Sunnah Lailatul Qadar

Salah satu amalan yang dianjurkan pada malam tersebut adalah melaksanakan sholat sunnah Lailatul Qadar.

Ibadah ini termasuk bagian dari qiyamul lail atau sholat malam yang dilakukan setelah sholat Isya hingga menjelang waktu Subuh.

Dalam buku Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq, dijelaskan bahwa berbagai bentuk sholat malam pada bulan Ramadhan memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi, terutama jika dilakukan dengan keikhlasan dan penuh kekhusyukan.

Sholat sunnah Lailatul Qadar umumnya dilaksanakan dua rakaat seperti sholat sunnah lainnya.

Niat Sholat Sunnah Lailatul Qadar

Berikut bacaan niat sholat sunnah Lailatul Qadar:

أُصَلِّى سُنَّةً فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ لِلَّهِ تَعَالَى اللهُ أَكْبَرُ

Ushalli sunnatan fi lailatil qadri rak‘ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta‘ala. Allahu Akbar.

Artinya: “Saya niat sholat sunnah Lailatul Qadar dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala. Allah Maha Besar.”

Niat tersebut diucapkan dalam hati ketika takbiratul ihram sebagaimana pelaksanaan sholat sunnah lainnya.

Baca juga: Doa Lailatul Qadar yang Dianjurkan Rasulullah, Dibaca Saat 10 Malam Terakhir Ramadhan

Tata Cara Sholat Sunnah Lailatul Qadar

Pelaksanaan sholat sunnah ini secara umum sama seperti sholat sunnah biasa. Namun beberapa ulama menganjurkan bacaan tertentu sebagai bentuk pengagungan terhadap malam yang mulia tersebut.

Tata cara yang banyak disebut dalam literatur keislaman antara lain:

  • Membaca Surah Al-Fatihah pada rakaat pertama.
  • Dilanjutkan membaca Surah Al-Ikhlas sebanyak tujuh kali.
  • Pada rakaat kedua membaca Al-Fatihah.
  • Kemudian membaca Surah Al-Ikhlas tujuh kali.
  • Setelah salam dianjurkan membaca istighfar sebanyak 70 kali.

Bacaan istighfar tersebut adalah:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Astaghfirullaha wa atubu ilaih

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya.”

Amalan istighfar ini menjadi simbol kerendahan hati seorang hamba yang berharap mendapatkan ampunan Allah SWT pada malam yang penuh rahmat tersebut.

Doa yang Dianjurkan pada Malam Lailatul Qadar

Selain sholat malam, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa khusus yang dianjurkan dibaca ketika mencari Lailatul Qadar.

Doa tersebut diriwayatkan dalam hadits dari Aisyah binti Abu Bakar yang tercatat dalam Sunan Tirmidzi.

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa‘fu ‘anni.

Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Doa ini menjadi salah satu bacaan paling populer yang diamalkan umat Islam di seluruh dunia ketika menghidupkan malam-malam terakhir Ramadhan.

Amalan Lain untuk Meraih Lailatul Qadar

Selain sholat malam, berbagai ibadah lain juga dianjurkan untuk memperbanyak amal pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Dalam kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi al-Bantani, disebutkan bahwa terdapat beberapa tingkatan dalam menghidupkan malam Lailatul Qadar.

Tingkatan tertinggi adalah sholat malam, kemudian dzikir dan doa, serta yang paling dasar adalah menjaga sholat wajib secara berjamaah.

Amalan lain yang dianjurkan antara lain membaca Al-Qur’an, memperbanyak sedekah, melakukan i’tikaf di masjid, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.

Baca juga: Dzikir di 10 Malam Terakhir Ramadhan, Kunci Mendapat Lailatul Qadar

Kesempatan Emas di Penghujung Ramadhan

Sepuluh malam terakhir Ramadhan sering disebut sebagai puncak perjalanan spiritual umat Islam selama satu bulan penuh.

Pada fase ini setiap ibadah memiliki nilai yang sangat besar, terutama jika dilakukan dengan penuh kesungguhan.

Lailatul Qadar bukan hanya sekadar malam penuh pahala, tetapi juga menjadi momentum refleksi diri bagi seorang Muslim untuk memperbaiki kualitas hubungan dengan Allah SWT.

Semakin besar kesungguhan seseorang dalam menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, semakin besar pula harapan untuk meraih keberkahan Lailatul Qadar.

Karena itu, banyak ulama mengingatkan bahwa kesempatan ini hanya datang sekali dalam setahun.

Bagi mereka yang memanfaatkannya dengan baik, malam tersebut dapat menjadi titik balik spiritual yang membawa keberkahan dalam kehidupan dunia maupun akhirat.

Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT



Terkini Lainnya
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Generasi Muda Dinilai Tak Siap Kerja, Gontor Tawarkan Pendidikan Holistik Pesantren
Aktual
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Miyos Gangsa Dimulai, Tradisi Sekaten di Keraton Yogyakarta Menyambut Maulid Nabi 2026
Aktual
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Biaya Haji 2027 Diusulkan Rp 107,34 Juta, BPKH Ingatkan Risiko Rp 6,87 Triliun
Aktual
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Kirab Merah Putih, Ribuan Pemuda Serukan Persatuan di Tengah Keberagaman
Aktual
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Hukum Memelihara Anjing dalam Islam, Benarkah Membuat Malaikat Tidak Masuk Rumah?
Aktual
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Masjid Tua Wapauwe, Jejak Sejarah Islam di Maluku yang Bertahan Sejak 1414
Aktual
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Thaharah Sebelum Shalat: Cara Bersuci, Najis yang Dibersihkan, Jenis Air, hingga Aturan Tayamum
Aktual
Kapan Libur Maulid Nabi 2026? Cek Tanggal dan Status Liburnya
Kapan Libur Maulid Nabi 2026? Cek Tanggal dan Status Liburnya
Aktual
Menag: Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral Simbol Toleransi Indonesia Perlu Dikenalkan ke Dunia
Menag: Terowongan Silaturahmi Istiqlal-Katedral Simbol Toleransi Indonesia Perlu Dikenalkan ke Dunia
Aktual
Baznas-BKKBN Sinergikan Zakat untuk Perkuat Ekonomi 37.000 Kelompok Usaha
Baznas-BKKBN Sinergikan Zakat untuk Perkuat Ekonomi 37.000 Kelompok Usaha
Aktual
Persiapan Muktamar Ke-35 NU Capai 80 Persen, 1.300 Stan UMKM Disiapkan
Persiapan Muktamar Ke-35 NU Capai 80 Persen, 1.300 Stan UMKM Disiapkan
Aktual
Yenny Wahid: Rekonsiliasi Wajib Dilakukan Usai Muktamar Ke-35 NU
Yenny Wahid: Rekonsiliasi Wajib Dilakukan Usai Muktamar Ke-35 NU
Aktual
Benarkah Makan Kurma Harus Ganjil? Ini Penjelasan Sunnah Sesuai Kebiasaan Rasulullah SAW
Benarkah Makan Kurma Harus Ganjil? Ini Penjelasan Sunnah Sesuai Kebiasaan Rasulullah SAW
Aktual
Lukman Hakim Minta NU Tinggalkan Pengelolaan Tambang yang Timbulkan Fitnah dan Mafsadah
Lukman Hakim Minta NU Tinggalkan Pengelolaan Tambang yang Timbulkan Fitnah dan Mafsadah
Aktual
Menag Dukung Guru PPPK Jadi Penuh Waktu dan PNS di 2027: Ini Detailnya
Menag Dukung Guru PPPK Jadi Penuh Waktu dan PNS di 2027: Ini Detailnya
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar