Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Lebaran Selalu Membuat Hati Haru dan Menangis? Ini Maknanya

Kompas.com, 11 Maret 2026, 12:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setiap kali gema takbir berkumandang menyambut Idul Fitri, tidak sedikit umat Islam yang merasakan getaran emosi yang sulit dijelaskan.

Sebagian orang bahkan meneteskan air mata saat mendengar lantunan takbir yang menggema dari masjid, televisi atau lingkungan sekitar.

Rasa haru itu muncul secara alami. Setelah menjalani ibadah selama sebulan penuh di bulan Ramadan, umat Muslim seakan sampai pada sebuah titik refleksi, antara rasa syukur, kerinduan, dan harapan agar dapat kembali dipertemukan dengan Ramadan pada tahun berikutnya.

Fenomena emosional ini bukan sekadar kebiasaan atau tradisi tahunan. Dalam perspektif spiritual dan psikologi Islam, perasaan haru saat Lebaran memiliki makna yang jauh lebih dalam, berkaitan dengan proses penyucian jiwa, pengalaman spiritual, serta hubungan sosial yang terbangun selama Ramadhan.

Baca juga: Mudik Lebaran Aman: 8 Obat yang Wajib Dibawa dan Bacaan Doa Safar

Lebaran sebagai Puncak Perjalanan Spiritual Ramadan

Idul Fitri secara harfiah berarti kembali kepada fitrah atau kesucian. Hari raya ini menandai berakhirnya perjalanan spiritual selama Ramadan, ketika umat Islam berusaha menahan diri dari hawa nafsu sekaligus memperbanyak ibadah.

Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan bahwa tujuan puasa adalah agar manusia mencapai derajat takwa, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Baqarah ayat 185.

Menurut ulama dan pemikir Muslim klasik Abu Hamid Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, emosi manusia tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga bagian dari perjalanan jiwa menuju penyucian diri (tazkiyatun nafs).

Al-Ghazali menjelaskan bahwa ibadah yang dilakukan dengan kesadaran spiritual dapat membersihkan hati dari sifat-sifat negatif seperti kesombongan, iri hati, dan kemarahan.

Ketika Ramadan berakhir, seseorang yang telah berusaha menjalani proses tersebut sering merasakan kelegaan sekaligus haru.

Ada rasa syukur karena mampu melewati bulan suci, tetapi juga ada kerinduan karena momen spiritual yang intens itu akan berakhir.

Baca juga: Hukum Penukaran Uang Baru Pinggir Jalan Jelang Lebaran, Bolehkah dalam Islam?

Takbir dan Ekspresi Emosi Spiritual

Malam menjelang Idul Fitri dikenal dengan tradisi takbiran, yaitu melantunkan kalimat Allahu Akbar sebagai ungkapan kebesaran Allah. Tradisi ini memiliki dimensi spiritual yang kuat.

Takbir bukan hanya seruan kemenangan setelah berpuasa, tetapi juga ekspresi syukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan untuk menahan diri selama Ramadan.

Dalam kajian psikologi agama, pengalaman seperti ini sering disebut sebagai peak experience, yaitu pengalaman emosional yang sangat mendalam ketika seseorang merasa dekat dengan sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Konsep ini dipopulerkan oleh psikolog humanistik Abraham Maslow.

Beberapa sarjana Muslim kemudian mengaitkan teori tersebut dengan pengalaman religius dalam Islam.

Psikolog Muslim Malik Badri, misalnya, menjelaskan dalam bukunya Contemplation: An Islamic Psychospiritual Study bahwa pengalaman spiritual dalam ibadah dapat menimbulkan perasaan damai, haru, dan kedekatan dengan Tuhan.

Dalam konteks Lebaran, lantunan takbir sering memicu pengalaman emosional yang mendalam karena menjadi simbol berakhirnya perjalanan spiritual selama Ramadan.

Mengingat Kenangan dan Kehangatan Keluarga

Selain dimensi spiritual, Lebaran juga memiliki makna sosial yang kuat. Hari raya ini identik dengan berkumpul bersama keluarga, bersilaturahmi, serta saling memaafkan.

Bagi banyak orang, momen ini membawa kenangan masa kecil, suasana rumah yang ramai, hidangan khas Lebaran atau kebersamaan dengan orang tua dan kerabat.

Dalam psikologi, kenangan positif seperti ini dapat memicu emosi nostalgia yang membuat seseorang merasa hangat sekaligus haru. Nostalgia sering kali menghadirkan campuran perasaan bahagia dan rindu terhadap masa lalu.

Namun, Lebaran juga bisa menghadirkan rasa kehilangan. Tidak sedikit orang yang merasakan kesedihan karena anggota keluarga yang dulu selalu hadir kini telah tiada.

Dalam tradisi Islam, kerinduan tersebut biasanya diungkapkan dengan berziarah ke makam keluarga serta mendoakan mereka.

Aktivitas ini menjadi bagian dari proses spiritual untuk menerima kehilangan sekaligus menjaga hubungan emosional dengan orang-orang tercinta.

Baca juga: 30 Ucapan Lebaran 2026 untuk Pacar yang Romantis dan Menyentuh Hati

Tradisi Saling Memaafkan dan Ketenangan Batin

Salah satu ciri khas Lebaran di Indonesia adalah tradisi saling memaafkan. Kalimat “mohon maaf lahir dan batin” menjadi ungkapan yang hampir selalu terdengar pada hari raya.

Tradisi ini memiliki dampak psikologis yang signifikan. Dalam perspektif psikologi Islam, memaafkan bukan hanya tindakan moral, tetapi juga cara untuk membersihkan hati dari beban emosi negatif.

Dalam buku Fiqh Sunnah, ulama Mesir Sayyid Sabiq menjelaskan bahwa menjaga hubungan baik dengan sesama merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Hubungan sosial yang harmonis akan membawa ketenangan bagi individu maupun masyarakat.

Ketika seseorang meminta maaf atau memaafkan orang lain, ia melepaskan beban emosional yang mungkin selama ini tersimpan.

Proses ini sering memunculkan perasaan lega, haru, bahkan tangis yang muncul tanpa disadari.

Lebaran sebagai Momentum Syukur dan Harapan

Rasa haru saat Lebaran juga muncul karena kesadaran bahwa Ramadan adalah kesempatan istimewa yang belum tentu dapat dirasakan kembali.

Bulan suci ini hanya datang sekali dalam setahun, dan setiap Muslim tidak pernah tahu apakah ia akan dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya.

Karena itu, Idul Fitri sering dipandang sebagai momen refleksi, apakah ibadah yang dilakukan selama Ramadan sudah cukup baik dan apakah seseorang mampu mempertahankan kebaikan tersebut setelah bulan suci berakhir.

Dalam buku Membumikan Al-Qur’an, ulama tafsir Indonesia Muhammad Quraish Shihab menulis bahwa Idul Fitri adalah saat manusia kembali kepada kesucian.

Momentum ini seharusnya menjadi titik awal untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah Ramadan.

Baca juga: Bingung Menulis Ucapan Lebaran? Ini Cara Membuat Kartu Idul Fitri Menarik dalam Hitungan Menit

Ketika Lebaran Menyentuh Sisi Terdalam Hati

Pada akhirnya, perasaan haru yang muncul saat Lebaran bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, itu menunjukkan bahwa hati manusia masih terhubung dengan fitrah dan spiritualitasnya.

Gema takbir, kenangan keluarga, tradisi saling memaafkan, hingga refleksi setelah Ramadan berpadu menjadi pengalaman emosional yang mendalam.

Lebaran bukan hanya perayaan kemenangan setelah berpuasa. Ia adalah perjalanan batin yang mengingatkan manusia untuk kembali kepada Tuhan, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta mensyukuri setiap kesempatan yang diberikan dalam hidup.

Tidak heran jika setiap kali takbir berkumandang, hati terasa lembut dan penuh harapan. Sebab pada momen itulah manusia diingatkan untuk kembali kepada fitrah, menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih damai, dan lebih dekat kepada Allah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar