Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

10 Malam Terakhir Ramadhan, Ribuan Peziarah Padati Makam Sunan Ampel Surabaya

Kompas.com, 16 Maret 2026, 16:16 WIB
Azwa Safrina,
Farid Assifa

Tim Redaksi

SURABAYA, KOMPAS.com - Berziarah ke makam para sunan atau wali penyebar agama Islam, memang menjadi suatu tradisi tersendiri bagi masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa.

Di Surabaya sendiri salah satu makam sunan yang selalu ramai dikunjungi khususnya pada malam-malam terakhir Ramadhan yakni wisata religi Sunan Ampel.

Para peziarah dari berbagai kota di Indoensia berbondong-bondong untuk memanjatkan doa sekaligus melancong mengunjungi situs sejarah itu.

Abdi dalem Masjid Sunan Ampel, Surabaya, Moestajab menuturkan biasanya pada 10 malam terakhir, terutamanya di malam-malam ganjil menjadi momen paling ramai datangnya para peziarah.

“Memang kan 10 malam terakhir Ramadhan itu dipercaya sebagai malam Lailatul Qadar sehingga banyak orang ramai-ramai pasti berkegiatan malam di sini,” kata Moestajab, Minggu (15/3/2026).

Baca juga: Hukum Wanita Haid Ziarah Kubur Jelang Ramadhan

Ia menuturkan, puncak keramaian peziarah umumnya terjadi pada malam 21 dan 29 Ramadhan.

“Kalau puasa biasa sedikit (peziarahnya) iasanya masuk malam 21 baru ramai, apalagi kalau pas weekend malah makin ramai, soalnya orang tua libur kerja anak-anak libur sekolah,” jelasnya.

Seperti halnya pada malam 25 Ramadhan yang jatuh pada Sabtu (15/3/2026) ada sekitar 1.000 sampai 1.500 pengunjung yang datang.

Namun, menurutnya jumlah jauh lebih sedikit dibandingkan bulan puasa tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun ini peziarah itu semakin menurun, beda sama beberapa tahun sebelumnya, makin sepi sekarang,” ungkapnya.

Biasanya banyak peziarah mulai datang untuk berdoa setelah jam buka puasa.

“Karena mereka kan buka di sini sekalian, jadi setelah itu shalat terus ziarah, nanti lanjut shalat isya sampai tarawih,” terangnya.

Ia mengungkapkan para peziarah yang datang berkunjung tidak hanya berasal dari Surabaya dan sekitarnya saja, tetapi juga luar pulau seperti Kalimantan dan Papua. Bahkan, mancanegara seperti Belanda dan negara-negara Timur Tengah.

Baca juga: Ziarah Kubur Jelang Ramadan, Ini Hukum dan Doanya

“Kebanyakan dari mereka biasanya rombongan, tapi kalau dari luar negeri umumnya bukan untuk ziarah, tapi untuk belajar sejarah karena ada kemiripan,” ujarnya.

Pada 10 malam terakhir itu, wisata Sunan Ampel sangat ramai dipenuhi wisatawan tidak hanya untuk berziarah, tetapi juga beriktikaf dan mengisi ibadah malam lainnya.

“Apalagi kalau Ramadhan kan orang-orang jualan di sini banyak yang 24 jam, jadi mereka mau sampai sahur meskipun juga ada dari masjid, tapi kalau mau beli makanan lengkap semua,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com