Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bacaan Takbiran Idul Fitri Versi Pendek dan Panjang, Lengkap Arab, Latin, serta Artinya

Kompas.com, 20 Maret 2026, 06:16 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber MUI

KOMPAS.com - Suara takbir mulai menggema saat bulan Ramadhan berakhir dan 1 Syawal ditetapkan sebagai Hari Raya Idul Fitri.

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.

Sehingga, sore nanti, lantunan takbir akan menjadi penanda datangnya hari kemenangan yang disambut penuh sukacita oleh umat Islam.

Takbiran dikumandangkan di berbagai tempat, mulai dari masjid, mushala, hingga lingkungan masyarakat.

Tradisi ini juga kerap dilakukan secara berjamaah maupun individu sebagai bagian dari syiar Islam.

Baca juga: Kapan Malam Takbiran Idul Fitri 2026? Ini Penjelasan dan Bacaan Lengkapnya

Bacaan Takbiran Idul Fitri

Dilansir dari laman MUI, berikut bacaan takbir pendek yang umum dilantunkan.

Bacaan Takbiran Idul Fitri versi Pendek

Dalam praktiknya, takbir di masjid biasanya dipimpin oleh petugas atau imam, kemudian diikuti jamaah secara bersama-sama dengan bacaan yang ringkas:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, lā ilāha illā Allāh, wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd.

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.”

Bacaan Takbiran Idul Fitri versi Panjang.

Bacaan takbir juga bisa dilafalkan lebih panjang. Diawali dengan membaca takbir pendek terlebih dahulu:

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Latin: Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar, lā ilāha illā Allāh, wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd.

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan selain Allah dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.”

Apabila takbir dilanjutkan lebih panjang maka akan dilanjutkan dengan bacaan:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Latin: Allāhu akbar kabīrā, wal-ḥamdu lillāhi katsīrā, wa subḥānallāhi bukratan wa aṣīlā, lā ilāha illā Allāh wa lā na’budu illā iyyāhu, mukhliṣīna lahud-dīna walau karihal-kāfirūn, lā ilāha illā Allāhu waḥdah, ṣadaqa wa’dah, wa naṣara ‘abdah, wa hazamal-aḥzāba waḥdah, lā ilāha illā Allāh wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd.

Artinya: “Allah Maha Besar dengan segala kebesaran. Segala puji bagi Allah dengan sebanyak-banyaknya pujian. Maha suci Allah di waktu pagi dan sore. Tiada Tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama, meskipun orang kafir tidak menyukainya. Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, menghancurkan pasukan musuh dengan keesaan-Nya. Tiada Tuhan selain Allah. Allah Maha Besar, dan segala puji bagi Allah.”

Ilustrasi malam takbiran.portalberita.lumajangkab.go.id Ilustrasi malam takbiran.

Takbiran sebagai Bentuk Dzikir dan Syukur

Takbiran bukan sekadar tradisi, tetapi merupakan bentuk dzikir kepada Allah SWT.

Melalui takbir, umat Islam mengagungkan kebesaran-Nya sekaligus mensyukuri nikmat setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Hal ini seperti ditegaskan dalam Alquran:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut mengandung anjuran untuk menampakkan dzikir sebagai bentuk rasa syukur.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam tafsirnya menyebutkan:

قَوْلُهُ تَعَالَى: وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ. وَقَدْ أَمَرَ اللَّهُ عِبَادَهُ بِشُكْرِ نِعْمَةِ صِيَامِ رَمَضَانَ بِإِظْهَارِ ذِكْرِهِ

“Firman Allah Ta’ala yang berbunyi: Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu agar kamu bersyukur, mengandung makna bahwa Allah SWT memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk mensyukuri nikmat puasa Ramadhan dengan menampakkan dzikir kepada-Nya.” (Rawa’i at-Tafsir [Riyadh: Dar al-Ashimah], vol. 1, h. 135)

Makna Takbir dalam Pandangan Ulama

Syekh Jamaluddin al-Qasimi (wafat 1332 H) menjelaskan bahwa bacaan takbir mendorong seorang hamba untuk mengenal keagungan Allah sehingga terdorong untuk terus bersyukur dan memuji-Nya:

وَفَائِدَةُ طَلَبِ الشُّكْرِ فِي هَذَا الْمَوْضِعِ هُوَ أَنَّهُ تَعَالَى لَمَّا أَمَرَ بِالتَّكْبِيرِ، وَهُوَ لَا يَتِمُّ إِلَّا بِأَنْ يَعْلَمَ الْعَبْدُ جَلَالَ اللَّهِ وَكِبْرِيَاءَهُ وَعِزَّتَهُ وَعَظَمَتَهُ، وَكَوْنَهُ أَكْبَرَ مِنْ أَنْ تَصِلَ إِلَيْهِ عُقُولُ الْعُقَلَاءِ... وَأَنْ يَصِيرَ ذَلِكَ دَاعِيًا لِلْعَبْدِ إِلَى الْإِشْتِغَالِ بِشُكْرِهِ، وَالْمُوَاظَبَةِ عَلَى الثَّنَاءِ عَلَيْهِ بِمِقْدَارِ قُدْرَتِهِ وَطَاقَتِهِ

“Adapun faedah diperintahkannya bersyukur pada ayat ini adalah bahwa Allah Ta’ala, ketika memerintahkan untuk bertakbir, maka hal itu tidak akan sempurna kecuali apabila seorang hamba mengetahui keagungan Allah, kebesaran-Nya, kemuliaan-Nya, dan keperkasaan-Nya, serta bahwa Dia lebih besar dari apa yang dapat dijangkau oleh akal manusia. Maka hal itu pasti mendorong seorang hamba untuk sibuk bersyukur kepada-Nya dan terus-menerus memuji-Nya sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya.” (Mahasin at-Ta’wil [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], vol. 2, h. 28)

Anjuran Mengeraskan Takbir pada Malam Idul Fitri

Dalam praktiknya, membaca takbir pada malam Idul Fitri disunnahkan dengan suara yang dikeraskan sebagai bentuk syiar Islam.

Syekh Ibrahim al-Bajuri (wafat 1276 H) menjelaskan:

قَوْلُهُ: (وَيُكَبِّرُ الْخُطَبَاءُ) وَيُسَنُّ رَفْعُ الصَّوْتِ بِالتَّكْبِيرِ؛ لِأَنَّ فِي رَفْعِ الصَّوْتِ إِظْهَارَ شِعَارِ الْعِيدِ. قَوْلُهُ: (نَدْبًا) أَيْ تَكْبِيرًا مَنْدُوبًا لِكُلِّ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَحَاضِرٍ وَمُسَافِرٍ

“Perkataan: bertakbir dan seterusnya, disunnahkan mengeraskan suara dalam bertakbir, karena dengan mengeraskan suara terdapat penampakan syiar hari raya. Perkataan: secara sunnah, yaitu takbir yang dianjurkan bagi setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan, baik yang berada di tempat tinggal maupun yang sedang dalam perjalanan.” (Hasyiyah al-Bajuri [Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiah], vol. 1, h. 434).

Takbiran Idul Fitri merupakan ibadah yang memiliki makna mendalam, bukan sekadar tradisi tahunan.

Lantunan takbir menjadi bentuk syukur sekaligus pengagungan kepada Allah SWT atas nikmat Ramadhan. Karena itu, takbir sebaiknya tidak hanya dilafalkan, tetapi juga dihayati dalam hati.

Dengan demikian, perayaan Idul Fitri dapat menjadi lebih bermakna dan penuh keberkahan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com