Editor
KOMPAS.com - Menjelang Idul Fitri 2026, umat Islam mulai bersiap mengumandangkan takbir sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadhan.
Takbiran menjadi tradisi yang dilakukan pada malam hari raya dengan penuh khidmat di berbagai tempat.
Perbedaan penetapan awal Syawal membuat waktu malam takbiran juga berbeda di Indonesia.
Hal ini terjadi antara Muhammadiyah dan pemerintah bersama Nahdlatul Ulama (NU).
Baca juga: Bacaan Takbiran Idul Fitri Lengkap Arab, Latin, dan Artinya
Malam takbiran Idul Fitri dimulai sejak terbenamnya matahari pada akhir bulan Ramadhan atau malam 1 Syawal.
Takbir dikumandangkan hingga menjelang pelaksanaan sholat Idul Fitri sebagai bentuk syukur dan pengagungan kepada Allah SWT.
Pada tahun 2026, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari ini Jumat, 20 Maret 2026.
Dengan demikian, malam takbiran bagi warga Muhammadiyah dimulai pada Kamis, 19 Maret 2026 setelah waktu Maghrib.
Baca juga: MUI Imbau Umat Rayakan Idul Fitri Sesuai Keyakinan, Hilal Belum Penuhi Kriteria
Sementara itu, pemerintah dan NU juga telah resmi menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Oleh karena itu, malam takbiran bagi masyarakat umum dan NU dimulai pada esok hari, yaitu Jumat, 20 Maret 2026 setelah Maghrib.
Berikut bacaan takbiran Idul Fitri yang umum dikumandangkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِـيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ،
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Latin:
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.
La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu.
Allahu akbar kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila,
La ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyahu. Mukhlishina lahud dina wa law karihal kafirun,
La ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundahu wa hazamal ahzaba wahdah,
La ilaha illallahu wallahu akbar.
Allahu akbar walillahil hamdu.
Artinya:
"Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar.
Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.
Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore.
Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya.
Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh.
Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.
Allah maha besar segala puji bagi-Nya."
Cara Mengumandangkan Takbiran Idul Fitri
Takbiran dapat dilakukan secara individu maupun berjamaah di masjid, mushala, rumah, maupun ruang publik.
Tradisi ini juga sering dilakukan dalam bentuk pawai takbiran di berbagai daerah.
Bagi laki-laki dianjurkan mengeraskan suara saat bertakbir, sedangkan perempuan disarankan melafalkannya dengan suara lebih pelan.
Dikutip dari laman MUI Sulsel, H. M. Zakka Herry mengingatkan pentingnya membaca takbir dengan pelafalan yang tepat agar tidak mengubah makna.
"Orang ada yang bertakbir diakhir itu memakai kata "ilham" padahal yang benar itu "Hilhamd" ada qolqolah diujung bacaan" jelas Zakka
Lebih lanjut, perbedaan waktu malam takbiran merupakan hal yang lumrah akibat perbedaan metode penetapan awal Syawal.
Meski demikian, esensi takbiran tetap sama sebagai bentuk syukur atas berakhirnya Ramadhan.
Umat Islam tetap dianjurkan mengumandangkan takbir dengan penuh khusyuk sesuai keyakinan masing-masing.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang