Editor
KOMPAS.com-Umat Islam merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026 setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh.
Momentum hari raya ini dinilai tidak hanya sebagai perayaan kemenangan spiritual, tetapi juga sebagai ajang memperkuat kepedulian sosial dan persaudaraan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pesan tersebut dalam Refleksi Idulfitri 1447 H pada Kamis (19/3/2026), dilansir dari laman Muhammadiyah.
Baca juga: Lokasi Sholat Idulfitri 1447 H Muhammadiyah Bisa Dicek via QR Code dan Aplikasi MASA
Ia mengajak umat Islam menjadikan Idul Fitri sebagai titik awal untuk membangun solidaritas, baik di tingkat nasional maupun global.
Haedar menekankan pentingnya membangun kepedulian sebagai bagian dari penguatan jaringan sosial umat.
Kepedulian tersebut tidak hanya ditujukan untuk masyarakat dalam negeri, tetapi juga bagi saudara di berbagai belahan dunia yang membutuhkan bantuan.
Ia menyinggung kondisi di Palestina, Iran, dan wilayah lain yang membutuhkan perhatian serta uluran tangan.
“Memberi adalah panggilan dari semangat ke-berislaman kita untuk siapapun tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, golongan, dan bangsa. Dan itulah yang harus kita hidupkan setelah bulan Ramadan,” ungkap Haedar.
Baca juga: 11 Lokasi Sholat Idul Fitri Muhammadiyah di Bali 20 Maret 2026, Lengkap dengan Imam dan Khotib
Selain kepedulian sosial, Haedar juga menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menyebut kemampuan menahan amarah sebagai salah satu jejak Ramadan yang harus dipertahankan.
Sikap marah yang berlebihan perlu dihindari agar tidak merusak hubungan antarindividu.
Haedar juga mengingatkan pentingnya memberi maaf kepada orang lain sebagai bagian dari akhlak seorang muslim.
Di sisi lain, setiap individu juga perlu memiliki kebesaran hati untuk meminta maaf atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Haedar menilai Idul Fitri menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi.
Tradisi silaturahmi dinilai mampu memperbaiki kualitas hubungan, baik dalam keluarga, masyarakat, hingga antarbangsa.
“Di bulan Syawal ketika kaum muslimin memulai satu Syawal sebagai hari pertama beridulfitri dan sekaligus memulai hari baru, maka kebiasaan yang sangat baik adalah berislaturahmi,” katanya.
Ia menambahkan bahwa rusaknya kemanusiaan sering kali dipicu oleh rusaknya hubungan antarindividu.
“Dari sinilah pentingnya kita membangun persaudaraan. Persaudaraan yang melintas batas, baik sesama iman maupun dengan seluruh anak bangsa dan siapapun yang ada,” tuturnya.
Baca juga: Daftar Lokasi Sholat Idul Fitri Muhammadiyah di Bandung 20 Maret 2026, Ini Titik Lengkapnya
Haedar menegaskan bahwa membangun persaudaraan harus berlandaskan nilai-nilai kebaikan dan ketakwaan.
Prinsip tersebut sejalan dengan ajaran dalam Al Maidah ayat 2 yang menekankan kerja sama dalam kebaikan.
Ia mengingatkan agar hubungan sosial tidak diarahkan pada hal yang merugikan atau bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Melalui momentum Idul Fitri, umat Islam diharapkan mampu memperkuat solidaritas dan membangun hubungan yang lebih harmonis di berbagai lini kehidupan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang