Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dokter NU Usul Kesehatan Jadi Agenda Strategis Muktamar NU, Soroti AI hingga Kesehatan Mental

Kompas.com, 5 Agustus 2026, 13:29 WIB
Farid Assifa

Editor

Sumber NU Online

KOMPAS.com — Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) mendorong agar isu kesehatan menjadi salah satu agenda strategis dalam Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Menurut PDNU, tantangan kesehatan masyarakat kini semakin kompleks sehingga membutuhkan perhatian serius organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.

Ketua Umum Pengurus Pusat PDNU, Muhammad S. Niam, menegaskan bahwa kesehatan merupakan bagian tak terpisahkan dari khidmah Nahdlatul Ulama kepada umat dan bangsa.

"PDNU ingin membawa satu pesan utama bahwa kesehatan harus menjadi bagian penting dari khidmah Nahdlatul Ulama kepada umat dan bangsa," ujar Niam dilansir NU Online, Selasa (4/8/2026).

Baca juga: Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur

Menurutnya, persoalan kesehatan saat ini tidak lagi hanya berkutat pada penyakit menular. Berbagai tantangan baru seperti penyakit tidak menular, penuaan penduduk, perubahan iklim, kesehatan mental, persoalan gizi, hingga transformasi digital di bidang kesehatan juga perlu menjadi perhatian.

"Tantangan kesehatan ke depan tidak lagi terbatas pada persoalan penyakit infeksi, tetapi juga penyakit tidak menular, penuaan penduduk, perubahan iklim, bencana, kesehatan lingkungan, kesehatan mental, persoalan gizi, hingga transformasi digital dan perkembangan teknologi kedokteran," jelasnya.

Jaringan NU Dinilai Jadi Kekuatan Besar

Niam menilai jaringan warga Nahdlatul Ulama yang tersebar di seluruh Indonesia merupakan modal besar untuk membangun masyarakat yang lebih sehat.

Melalui kekuatan tersebut, NU dinilai mampu mengembangkan program edukasi kesehatan, pencegahan penyakit, deteksi dini, hingga pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

"Potensi ini harus menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang lebih sehat melalui edukasi, pencegahan, deteksi dini, dan pemberdayaan masyarakat," tegasnya.

Dorong Jejaring Fasilitas Kesehatan NU

Selain memperkuat edukasi kesehatan, PDNU juga mengusulkan pembangunan sistem pelayanan kesehatan NU yang lebih terintegrasi.

Menurut Niam, rumah sakit, klinik, dan fasilitas kesehatan milik warga Nahdliyin perlu diperkuat agar mampu memberikan pelayanan yang profesional, bermutu, dan menjangkau masyarakat hingga pelosok daerah.

"Kita perlu membangun jejaring fasilitas kesehatan NU yang lebih terintegrasi, profesional, bermutu, dan mampu menjangkau masyarakat sampai ke daerah yang selama ini akses kesehatannya masih terbatas," ujarnya.

PDNU juga berharap dokter dan tenaga kesehatan Nahdliyin tidak hanya berperan sebagai klinisi, tetapi menjadi penggerak upaya promotif dan preventif, pendidik masyarakat, sekaligus mitra pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan kesehatan nasional.

Pesantren Sehat hingga Antisipasi Perubahan Iklim

Dalam usulannya, PDNU menempatkan pesantren sebagai salah satu pusat penguatan kesehatan masyarakat. Menurut Niam, pesantren tidak hanya menjadi tempat pendidikan agama, tetapi juga harus menjadi lingkungan yang sehat.

Beberapa aspek yang dinilai perlu mendapat perhatian antara lain sanitasi, gizi santri, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, kebersihan lingkungan, hingga akses layanan kesehatan.

Di sisi lain, PDNU juga meminta Nahdlatul Ulama memberi perhatian lebih terhadap dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat.

Cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, polusi udara, hingga perubahan pola penyakit dinilai membutuhkan sistem kesiapsiagaan kesehatan berbasis komunitas.

"NU perlu memiliki sistem kesiapsiagaan kesehatan berbasis komunitas untuk menghadapi perubahan tersebut," katanya.

Siap Hadapi AI dan Digitalisasi Kesehatan

PDNU turut mengingatkan pentingnya kesiapan menghadapi perkembangan teknologi kesehatan, mulai dari telemedicine, rekam medis elektronik, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga berbagai inovasi kedokteran lainnya.

Namun, menurut Niam, kemajuan teknologi harus tetap mengedepankan keselamatan pasien, etika profesi, serta nilai-nilai kemanusiaan.

"Kita harus siap menghadapi perkembangan telemedicine, rekam medis elektronik, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi kedokteran baru, tetapi tetap menempatkan keselamatan pasien, etika profesi, dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai landasan," ujarnya.

Baca juga: Hadapi Tantangan Kebangsaan, Gus Rozin Paparkan 5 Strategi NU

Menutup pernyataannya, Niam menegaskan bahwa ukuran keberhasilan khidmah kesehatan NU bukan semata banyaknya rumah sakit yang dimiliki, melainkan semakin sehatnya masyarakat dan semakin mudahnya akses layanan kesehatan.

"Inilah semangat yang ingin kami bawa ke Muktamar yaitu "NU Sehat, Umat Sehat, Indonesia Kuat". Karena itu motto PDNU memasuki abad kedua ini adalah Merawat Umat Menuju Indonesia Sehat," pungkasnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.

Baca tentang


Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar