Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

KH Imam Jazuli: Ber-NU Tak Cukup Warisan, Harus Dibangun dengan Kesadaran dan Argumen Ilmiah

Kompas.com, 5 Agustus 2026, 18:33 WIB
Farid Assifa

Penulis

KOMPAS.com – Ulama muda Nahdlatul Ulama (NU), KH Imam Jazuli Lc MA menegaskan bahwa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya dilandasi faktor keturunan atau tradisi keluarga.

Menurutnya, warga NU perlu membangun kesadaran intelektual dan ideologis melalui pemahaman yang mendalam terhadap fikrah, manhaj, dan harakah organisasi.

Pandangan itu disampaikan KH Imam Jazuli dalam ulasannya terkait buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin karya Hj Siti Haniatunnisa dan H Muhammad Zainal Arifin.

Ber-NU Harus 'Ala Bashirah

Imam Jazuli menilai salah satu gagasan paling penting dalam buku tersebut adalah konsep ber-NU 'ala bashirah, yakni berorganisasi dengan landasan ilmu, kesadaran, dan argumentasi yang kuat.

Baca juga: Dokter NU Usul Kesehatan Jadi Agenda Strategis Muktamar NU, Soroti AI hingga Kesehatan Mental

Menurutnya, KH Ma'ruf Amin mengingatkan bahwa kecenderungan ber-NU hanya karena faktor keluarga, lingkungan, atau kebiasaan amaliah tidak lagi memadai menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

"Ber-NU 'ala bashirah menuntut setiap kader memiliki pemahaman yang kokoh, keyakinan berbasis hujjah, serta kesadaran bahwa pengabdian di NU merupakan jalan menjaga agama, umat, bangsa, sekaligus peradaban," kata Imam Jazuli dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).

Ia menambahkan, konsep tersebut membuat warga NU tidak sekadar mengikuti keputusan para ulama, tetapi juga memahami dasar-dasar pemikiran dan pertimbangan yang melatarbelakanginya.

Fikroh, Manhaj, dan Harakah Tidak Bisa Dipisahkan

Dalam ulasannya, Imam Jazuli menjelaskan bahwa KH Ma'ruf Amin memandang NU dibangun di atas tiga pilar utama.

Pilar pertama adalah fikroh sebagai arah berpikir dan paradigma keagamaan. Pilar kedua ialah manhaj, yakni metode dalam memahami teks agama dengan mempertimbangkan realitas sosial dan kemaslahatan. Sementara pilar ketiga adalah harakah, yakni gerakan nyata yang diwujudkan dalam bidang keagamaan, kebangsaan, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Ia menegaskan, ketiga unsur tersebut saling melengkapi.

"Fikroh tanpa manhaj hanya menjadi gagasan yang tidak terarah. Manhaj tanpa harakah berhenti sebagai teori. Sebaliknya, harakah tanpa fikroh dan manhaj berisiko kehilangan arah dan mudah terjebak pada pragmatisme," jelasnya.

Apresiasi Sekaligus Catatan Kritis

Meski mengapresiasi kelengkapan isi buku, Imam Jazuli juga memberikan sejumlah catatan evaluatif.

Ia menilai karya ilmiah sebesar itu semestinya dilengkapi dengan sistem rujukan akademik yang lebih kuat melalui penggunaan catatan kaki atau endnote agar memudahkan penelusuran sumber primer.

Selain itu, ia menilai pembahasan mengenai kiprah politik KH Ma'ruf Amin seharusnya disampaikan lebih terbuka sebagai bagian dari harakah siyasiyah atau gerakan politik berbasis fikih siyasah.

"KH Ma'ruf Amin adalah contoh ulama yang mampu menjadikan politik sebagai instrumen khidmah, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Perspektif ini justru penting untuk pendidikan politik kader NU," ujarnya.

Imam Jazuli juga menyoroti belum adanya pembahasan khusus mengenai tata kelola organisasi modern atau Harakah Haukamiyah.

Menurutnya, memasuki abad kedua NU, tantangan organisasi bukan hanya menjaga tradisi dan pemikiran, tetapi juga membangun sistem manajemen yang profesional, transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi.

Layak Jadi Rujukan Pendidikan Kader NU

Di sisi lain, Imam Jazuli mengapresiasi format trilingual yang digunakan dalam buku tersebut karena membuka peluang pemikiran KH Ma'ruf Amin dikenal lebih luas di tingkat internasional sebagai representasi Islam moderat Indonesia.

Ia juga mengusulkan agar buku tersebut dijadikan salah satu referensi utama dalam pembelajaran Ke-NU-an di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma'arif maupun Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).

Selain itu, ia mendorong agar gagasan dalam buku tidak berhenti sebagai koleksi perpustakaan, melainkan ditindaklanjuti melalui halaqah, forum diskusi, pelatihan kepemimpinan kader, hingga penyusunan edisi ringkas agar lebih mudah dipahami warga NU di tingkat akar rumput.

Baca juga: Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur

"Buku ini menjadi kompas penting bagi generasi muda Nahdliyin. Pesan utamanya jelas, ber-NU tidak cukup karena warisan, tetapi harus dibangun dengan kesadaran, argumentasi ilmiah, dan orientasi pada kemaslahatan peradaban," pungkas Imam Jazuli.

Menurut Imam Jazuli, buku setebal 643 halaman yang ditulis dalam tiga bahasa—Indonesia, Arab, dan Inggris—tersebut merupakan dokumentasi komprehensif mengenai pemikiran KH Ma'ruf Amin sebagai ulama, organisator, negarawan, sekaligus intelektual yang berhasil memadukan khazanah pesantren dengan dinamika kebangsaan modern.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar