Penulis
KOMPAS.com – Ulama muda Nahdlatul Ulama (NU), KH Imam Jazuli Lc MA menegaskan bahwa menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya dilandasi faktor keturunan atau tradisi keluarga.
Menurutnya, warga NU perlu membangun kesadaran intelektual dan ideologis melalui pemahaman yang mendalam terhadap fikrah, manhaj, dan harakah organisasi.
Pandangan itu disampaikan KH Imam Jazuli dalam ulasannya terkait buku Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin karya Hj Siti Haniatunnisa dan H Muhammad Zainal Arifin.
Imam Jazuli menilai salah satu gagasan paling penting dalam buku tersebut adalah konsep ber-NU 'ala bashirah, yakni berorganisasi dengan landasan ilmu, kesadaran, dan argumentasi yang kuat.
Baca juga: Dokter NU Usul Kesehatan Jadi Agenda Strategis Muktamar NU, Soroti AI hingga Kesehatan Mental
Menurutnya, KH Ma'ruf Amin mengingatkan bahwa kecenderungan ber-NU hanya karena faktor keluarga, lingkungan, atau kebiasaan amaliah tidak lagi memadai menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
"Ber-NU 'ala bashirah menuntut setiap kader memiliki pemahaman yang kokoh, keyakinan berbasis hujjah, serta kesadaran bahwa pengabdian di NU merupakan jalan menjaga agama, umat, bangsa, sekaligus peradaban," kata Imam Jazuli dalam keterangan tertulis, Rabu (5/8/2026).
Ia menambahkan, konsep tersebut membuat warga NU tidak sekadar mengikuti keputusan para ulama, tetapi juga memahami dasar-dasar pemikiran dan pertimbangan yang melatarbelakanginya.
Dalam ulasannya, Imam Jazuli menjelaskan bahwa KH Ma'ruf Amin memandang NU dibangun di atas tiga pilar utama.
Pilar pertama adalah fikroh sebagai arah berpikir dan paradigma keagamaan. Pilar kedua ialah manhaj, yakni metode dalam memahami teks agama dengan mempertimbangkan realitas sosial dan kemaslahatan. Sementara pilar ketiga adalah harakah, yakni gerakan nyata yang diwujudkan dalam bidang keagamaan, kebangsaan, dan pemberdayaan ekonomi umat.
Ia menegaskan, ketiga unsur tersebut saling melengkapi.
"Fikroh tanpa manhaj hanya menjadi gagasan yang tidak terarah. Manhaj tanpa harakah berhenti sebagai teori. Sebaliknya, harakah tanpa fikroh dan manhaj berisiko kehilangan arah dan mudah terjebak pada pragmatisme," jelasnya.
Meski mengapresiasi kelengkapan isi buku, Imam Jazuli juga memberikan sejumlah catatan evaluatif.
Ia menilai karya ilmiah sebesar itu semestinya dilengkapi dengan sistem rujukan akademik yang lebih kuat melalui penggunaan catatan kaki atau endnote agar memudahkan penelusuran sumber primer.
Selain itu, ia menilai pembahasan mengenai kiprah politik KH Ma'ruf Amin seharusnya disampaikan lebih terbuka sebagai bagian dari harakah siyasiyah atau gerakan politik berbasis fikih siyasah.
"KH Ma'ruf Amin adalah contoh ulama yang mampu menjadikan politik sebagai instrumen khidmah, bukan sekadar perebutan kekuasaan. Perspektif ini justru penting untuk pendidikan politik kader NU," ujarnya.
Imam Jazuli juga menyoroti belum adanya pembahasan khusus mengenai tata kelola organisasi modern atau Harakah Haukamiyah.
Menurutnya, memasuki abad kedua NU, tantangan organisasi bukan hanya menjaga tradisi dan pemikiran, tetapi juga membangun sistem manajemen yang profesional, transparan, akuntabel, dan berbasis teknologi.
Di sisi lain, Imam Jazuli mengapresiasi format trilingual yang digunakan dalam buku tersebut karena membuka peluang pemikiran KH Ma'ruf Amin dikenal lebih luas di tingkat internasional sebagai representasi Islam moderat Indonesia.
Ia juga mengusulkan agar buku tersebut dijadikan salah satu referensi utama dalam pembelajaran Ke-NU-an di lingkungan Lembaga Pendidikan Ma'arif maupun Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (PTNU).
Selain itu, ia mendorong agar gagasan dalam buku tidak berhenti sebagai koleksi perpustakaan, melainkan ditindaklanjuti melalui halaqah, forum diskusi, pelatihan kepemimpinan kader, hingga penyusunan edisi ringkas agar lebih mudah dipahami warga NU di tingkat akar rumput.
Baca juga: Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Meneladani Kyai Idham Chalid dan Gus Dur
"Buku ini menjadi kompas penting bagi generasi muda Nahdliyin. Pesan utamanya jelas, ber-NU tidak cukup karena warisan, tetapi harus dibangun dengan kesadaran, argumentasi ilmiah, dan orientasi pada kemaslahatan peradaban," pungkas Imam Jazuli.
Menurut Imam Jazuli, buku setebal 643 halaman yang ditulis dalam tiga bahasa—Indonesia, Arab, dan Inggris—tersebut merupakan dokumentasi komprehensif mengenai pemikiran KH Ma'ruf Amin sebagai ulama, organisator, negarawan, sekaligus intelektual yang berhasil memadukan khazanah pesantren dengan dinamika kebangsaan modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang