Editor
KOMPAS.com - Setiap orang yang beriman pasti pernah merasakan sudah berdoa sungguh-sungguh, tapi yang diminta belum juga terwujud. Lalu muncul pertanyaan, apakah doa itu sia-sia?
Ternyata, menurut kajian Islam, tidak ada doa yang sia-sia. Yang perlu dipahami adalah bagaimana Allah SWT sesungguhnya mengabulkan doa hamba-Nya.
Hal ini dibahas dalam jurnal berjudul "Konsep Doa dalam Perspektif Islam" yang ditulis oleh Zhila Jannati dan Muhammad Randicha Hamandia dari Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, yang terbit di Jurnal Komunikasi Islam dan Kehumasan (JKPI) tahun 2022.
Baca juga: 5 Doa Kesembuhan dari Rasulullah: Panduan Sunnah untuk Orang Sakit
Menurut jurnal tersebut, doa yang dipanjatkan seorang hamba pada dasarnya pasti direspons oleh Allah SWT, hanya saja bentuknya bisa berbeda dari yang dibayangkan.
Zhila dan Randicha, dengan mengutip penelitian Mursalim dalam "Doa dalam Perspektif Al-Qur'an" (Jurnal Al-Ulum, 2011), menjelaskan tiga kemungkinan pengabulan doa:
1. Dikabulkan langsung sesuai dengan apa yang diminta.
2. Diganti dengan sesuatu yang lebih baik dari yang diharapkan atau didoakan.
3. Ditangguhkan hingga hari kemudian, sebagai ganjaran pahala di akhirat.
Dengan kata lain, doa yang belum terkabul di dunia bukan berarti ditolak. Bisa jadi Allah SWT sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, atau menyimpannya sebagai tabungan pahala kelak.
Karena itu seseorang tidak dianjurkan tergesa-gesa dalam berdoa. Sebab sikap terburu-buru justru bisa membuat doa dianggap "gagal" oleh pelakunya sendiri, padahal Allah SWT memiliki waktu terbaik untuk mengabulkannya.
Baca juga: Jangan Dihujat, Ini Doa ketika Melihat Orang yang Sakit
Selain itu, ada hubungan doa dengan takdir. Hadits riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim menyebutkan, doa bermanfaat baik terhadap sesuatu yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi.
Misal, bisa jadi seseorang telah "ditakdirkan" mengalami kecelakaan saat berkendara.
Namun, karena ia berdoa memohon perlindungan sebelum bepergian, dan doanya itu "lebih kuat" dari ketetapan tersebut, maka musibah itu bisa dihindarkan. Ini memperlihatkan bahwa tidak ada yang bisa menolak qadha selain doa.
Poin ini menegaskan bahwa doa bukan sekadar ritual pasrah, melainkan bentuk ikhtiar batin yang menurut kajian ini punya kekuatan untuk memengaruhi keputusan Allah SWT atas hamba-Nya.
Jurnal ini menegaskan bahwa doa adalah bukti penghambaan manusia kepada Allah SWT, sehingga semestinya dilakukan setiap saat, bukan hanya ketika tertimpa masalah.
Sikap terbaik seorang mukmin adalah tetap berbaik sangka bahwa apa pun hasil dari doanya, itu adalah bentuk kasih sayang Allah SWT kepadanya.
Jadi, jika doa yang dipanjatkan belum juga terwujud, bukan berarti Allah SWT tidak mendengar.
Bisa jadi jawabannya sedang menunggu waktu yang tepat, atau justru sudah datang dalam bentuk yang lain, yang bahkan lebih baik dari apa yang diminta.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang