Editor
KOMPAS.com - Menjelang Idul Fitri, umat Islam mengumandangkan takbir sebagai bentuk syukur atas berakhirnya Ramadhan.
Takbiran menjadi bagian penting dalam syiar hari raya yang dilaksanakan sejak malam 1 Syawal hingga sebelum sholat Id.
Takbiran Idul Fitri merupakan ungkapan pengagungan kepada Allah SWT yang dilantunkan secara individu maupun berjamaah.
Tradisi ini dilakukan di masjid, mushala, rumah, hingga di ruang publik seperti pawai takbiran.
Takbir dilantunkan dengan penuh kekhusyukan sebagai bentuk rasa syukur atas kesempatan menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan dan menyambut hari kemenangan.
Baca juga: Makan Sebelum Sholat Idul Fitri, Boleh atau Tidak? Berikut Penjelasan Hukumnya
Dikutip dari Antara, berikut bacaan takbiran Idul Fitri yang umum dikumandangkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِـيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ،
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ،
لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ،
اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
Latin:
Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.
La ilaha illallahu wallahu akbar. Allahu akbar wa lillahil hamdu.
Allahu akbar kabira, walhamdu lillahi katsira, wa subhanallahi bukratan wa ashila,
La ilaha illallahu wa la na'budu illa iyyahu. Mukhlishina lahud dina wa law karihal kafirun,
La ilaha illallahu wahdah, shadaqa wa'dah, wa nashara 'abdah, wa a'azza jundahu wa hazamal ahzaba wahdah,
La ilaha illallahu wallahu akbar.
Allahu akbar walillahil hamdu.
Artinya:
"Allah maha besar, Allah maha besar, Allah maha besar.
Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar. Segala puji bagi-Nya.
Allah maha besar. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore.
Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya, memurnikan bagi-Nya sebuah agama meski orang kafir tidak menyukainya.
Tiada tuhan selain Allah yang esa, yang menepati janji-Nya, membela hamba-Nya, dan sendiri memorak-porandakan pasukan musuh.
Tiada tuhan selain Allah. Allah maha besar.
Allah maha besar segala puji bagi-Nya."
Dilansir dari laman Kemenag Sumatera Selatan, H. M. Zakka Herry mengingatkan pentingnya membaca takbir dengan tajwid yang benar.
Kesalahan pelafalan dapat memengaruhi arti, terlebih jika dikumandangkan menggunakan pengeras suara.
"Orang ada yang bertakbir diakhir itu memakai kata "ilham" padahal yang benar itu "Hilhamd" ada qolqolah diujung bacaan" Jelas Zakka
Takbiran dapat dilakukan secara individu maupun berjamaah. Pelaksanaannya bisa dilakukan di masjid, rumah, maupun tempat umum lainnya.
Bagi laki-laki dianjurkan mengeraskan suara saat bertakbir, sedangkan perempuan disarankan melafalkannya dengan suara yang lebih pelan.
Sementara untuk waktu mengumandangkannya, terdapat ketentuan seperti dijelaskan di laman MUI.
Pelaksanaan takbiran dimulai sejak terbenam matahari pada akhir Ramadhan hingga sebelum pelaksanaan sholat Idul Fitri.
Rentang waktu ini menjadi momen utama untuk memperbanyak takbir sebagai syiar hari raya.
Takbiran Idul Fitri tidak hanya menjadi tradisi, tetapi juga bentuk ibadah yang sarat makna spiritual.
Dengan melafalkan takbir secara benar dan penuh kesadaran, umat Islam dapat memaksimalkan momen hari kemenangan.
Oleh karena itu, penting memahami bacaan, cara, dan waktu pelaksanaannya agar sesuai dengan tuntunan syariat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang