SURABAYA, KOMPAS.com - Lima malam ganjil di akhir Ramadhan di masjid semakin dipenuhi oleh kalangan generasi Z atau Gen Z untuk beribadah dan berzikir.
Menjelang waktu dini hari di lima malam ganjil terakhir Ramadhan, masjid-masjid di kota-kota besar maupun pedesaan akan dipenuhi jemaah untuk melaksanakan shalat Lailatul Qadar dan i’tikaf.
Tidak hanya para lansia, para Gen Z tak mau kalah mengejar berkah di malam ganjil Ramadhan. Seringkali, para Gen Z juga menggelar sahur on the road selepas dari masjid.
Dosen Fakultas Studi Islam dan Peradaban (FSIP) Universitas Muhammadiyah Surabaya, M Febriyanto Firman Wijaya, menyebut bahwa tingginya minat Gen Z melakukan i’tikaf tidak bisa sekadar dilihat sebagai peningkatan semangat ibadah.
Baca juga: 7 Amalan Itikaf di 10 Malam Terakhir Ramadhan yang Jarang Dilakukan, Padahal Pahalanya Besar
Menurutnya, ada perubahan cara generasi muda mencari ruang untuk mengekspresikan diri dan membangun kebersamaan di tengah sibuknya kehidupan kota yang sangat konsumtif.
Dalam kondisi seperti itu, masjid menjadi tempat berkumpul yang terbuka bagi siapa saja tanpa tekanan sosial maupun finansial.
“Bagi Gen Z yang sehari-hari dihadapkan pada tuntutan produktivitas, budaya hustle, hingga kekhawatiran ekonomi, masjid pada sepuluh malam terakhir Ramadan menjadi ruang yang nyaman dan setara bagi semua orang,” ujar Riyan, Kamis (19/3/2026).
Di ruang tersebut, perbedaan status sosial dan ekonomi menjadi tidak terlihat. Setiap orang datang dengan tujuan yang sama, yakni beribadah dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
Selain itu, i’tikaf menjadi waktu jeda istirahat sejenak dari kehidupan teknologi digital atau media sosial yang setiap hari menyibukkan Gen Z. Sebab, i’tikaf akan dihadapkan dengan perasaan tenang, doa dan refleksi diri.
“Sebagai generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial, Gen Z sering kali berada dalam arus informasi yang sangat cepat dan terus-menerus,” sambungnya.
Faktor lainnya adalah kebutuhan akan kebersamaan. Meski hidup di era yang sangat terkoneksi secara digital, banyak anak muda justru merasakan kesepian dalam kehidupan nyata.
Kegiatan i’tikaf yang dilakukan bersama-sama di masjid menciptakan rasa kebersamaan, seperti berbagi sahur, beribadah bersama, hingga berbincang setelah salat malam.
Tidak jarang Gen Z akan membagikan momen i’tikaf di media sosial masing-masing. Kondisi juga bisa memengaruhi orang lain untuk melakukan kegiatan serupa.
Tetapi menurutnya fenomena ini tidak bisa dianggap sekadar ikut-ikutan karena keputusan anak muda untuk bertahan berhari-hari di masjid menunjukkan adanya kebutuhan yang lebih dalam, yakni mencari ketenangan, komunitas, dan ruang yang terasa lebih autentik.
“Selain sebagai bentuk kesalehan, fenomena ini juga menunjukkan bahwa generasi muda sedang mencari ruang aman dan kebersamaan yang selama ini sulit mereka temukan dalam kehidupan modern,” tutupnya.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.