Editor
KOMPAS.com - Tradisi sungkeman saat Idul Fitri bukan sekadar formalitas tahunan atau rangkaian kata maaf yang diucapkan berulang. Lebih dari itu, sungkeman adalah momen sakral yang mempertemukan kerendahan hati seorang anak dengan ketulusan kasih orang tua—sebuah jembatan batin yang sarat makna spiritual dan budaya.
Di hari kemenangan, ketika gema takbir masih terasa hangat, seorang anak menundukkan diri, mencium tangan orang tuanya, dan memohon maaf dengan hati yang terbuka. Dalam Islam, sikap ini mencerminkan birrul walidain—bakti kepada orang tua yang nilainya sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Tak semua perasaan mudah diungkapkan. Namun, kata-kata berikut bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan ketulusan. Berikut 9 sungkeman Idul Fitri yang sangat mengharukan:
Baca juga: 30 Ucapan Sungkem Lebaran Bahasa Jawa kepada Bapak dan Ibu, Penuh Doa yang Menyentuh Hati
Penggunaan bahasa halus ini mencerminkan penghormatan yang mendalam:
Bagi mereka yang orang tuanya telah tiada, sungkeman berubah menjadi doa yang lirih. Lebaran sering menghadirkan rindu yang tak terucap, namun tetap tersampaikan lewat doa:
Agar sungkeman tidak sekadar simbol, lakukan dengan penuh kesadaran:
1. Dekati dengan lembut, tundukkan badan sebagai bentuk hormat
2. Bersimpuh dan cium tangan, hadirkan ketulusan dalam setiap gerakan
3. Ucapkan dengan hati, tanpa tergesa, dan dengarkan doa orang tua
Di balik haru dan air mata, sungkeman menyimpan manfaat yang tak terlihat. Secara psikologis, meminta dan memberi maaf terbukti mampu menurunkan stres, meredakan kecemasan, dan memperbaiki kesehatan mental.
Baca juga: 30 Contoh Ucapan Sungkem Lebaran dalam Bahasa Jawa Lengkap dengan Artinya
Sungkeman juga memperkuat ikatan keluarga yang mungkin renggang oleh waktu dan kesibukan. Di momen ini, ego runtuh, gengsi melebur, dan yang tersisa hanyalah cinta.
Idul Fitri bukan hanya tentang kembali ke nol, tetapi tentang kembali kepada hati—tempat di mana maaf menjadi bahasa paling jujur antara anak dan orang tua.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.