Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisht, Jubah Tradisional Arab Saudi yang Jadi Simbol Kehormatan dan Tradisi Saat Idul Fitri

Kompas.com, 24 Maret 2026, 19:07 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Bisht menjadi salah satu busana tradisional pria yang tetap dipertahankan di Arab Saudi hingga kini.

Pakaian ini memiliki nilai budaya dan simbol kehormatan dalam berbagai momen penting.

Penggunaannya semakin menonjol saat perayaan Idul Fitri sebagai bagian dari identitas sosial masyarakat.

Pemerintah Arab Saudi juga menetapkan aturan penggunaan bisht bagi kelompok tertentu dalam acara resmi.

Baca juga: Mengintip Tradisi Idul Fitri di Arab Saudi: Dari “Early Hour” hingga Silaturahmi Usai Shalat Ied

Apa itu Bisht?

Bisht merupakan jubah tradisional yang identik dengan kesan elegan, berwibawa, dan sarat nilai warisan budaya di Arab Saudi.

Bisht dikenal dengan penggunaan bahan berkualitas tinggi seperti bulu unta dan kasmir halus. Selain itu, jubah ini dihiasi bordir yang rumit dengan detail yang presisi.

Kualitas bahan, ketelitian bordir, serta perhatian pada detail menjadi faktor utama dalam memilih bisht.

Tersedia dalam berbagai warna dan desain, bisht tidak hanya menjadi pakaian, tetapi juga simbol kebanggaan budaya dan identitas nasional.

Tradisi penggunaan Bisht saat Idul Fitri

Penggunaan bisht semakin terlihat saat Idul Fitri, di mana pakaian ini menjadi bagian dari estetika perayaan yang mencerminkan kehormatan dalam masyarakat Saudi.

Menjelang hari raya, para pria bersama anak-anak mereka ramai mengunjungi toko bisht untuk mendapatkan jubah yang dibuat secara khusus.

Tradisi ini menjadi bagian dari persiapan menyambut hari besar keagamaan.

Bisht biasa dikenakan saat shalat Id, kunjungan keluarga, serta berbagai kegiatan sosial selama Idul Fitri.

Aturan penggunaan Bisht di Acara Resmi

Otoritas Arab Saudi mengeluarkan edaran terkait pedoman penggunaan bisht bagi kategori tertentu dalam acara resmi dan lingkungan kerja.

Berdasarkan edaran tersebut, sejumlah pejabat diwajibkan mengenakan bisht saat memasuki dan meninggalkan tempat kerja serta menghadiri acara resmi.

Kelompok tersebut meliputi emir dan wakil emir provinsi, gubernur, menteri termasuk menteri dengan pangkat istimewa, asisten menteri, wakil menteri, pejabat setingkat 15 atau setara, kepala lembaga independen beserta wakilnya, serta pimpinan dan wakil pusat pemerintahan daerah.

Seperti Anggota Dewan Syura yang diwajibkan mengenakan bisht saat memasuki dan meninggalkan sidang serta selama mengikuti persidangan.

Hakim juga diwajibkan mengenakan bisht saat bertugas di pengadilan, termasuk saat memasuki, meninggalkan, dan menjalani proses persidangan.

Aturan ini juga berlaku bagi jaksa, pegawai unit penuntutan di Otoritas Pengawasan dan Antikorupsi (Nazaha), serta pengacara saat berada di pengadilan.

Bisht, jubah tradisional untuk pria di Arab Saudi.Pexels/B_S Media Production Bisht, jubah tradisional untuk pria di Arab Saudi.

Sementara, bagi perempuan yang termasuk dalam kategori tersebut diwajibkan mengenakan pakaian resmi perempuan sesuai ketentuan.

Kementerian Media dan Nazaha bertanggung jawab melakukan pengawasan terhadap penerapan aturan penggunaan bisht. Pelanggaran terhadap ketentuan ini akan dikenakan sanksi sesuai aturan yang berlaku.

Edaran tersebut tidak mengesampingkan aturan lain yang mewajibkan penggunaan bisht bagi kelompok tertentu atau ketentuan internal masing-masing instansi.

Selain itu, profesi tertentu yang memerlukan seragam khusus tetap mengikuti aturan pakaian yang berlaku sesuai bidang pekerjaan masing-masing.

Hingga kini, Bisht tidak hanya berfungsi sebagai pakaian tradisional, tetapi juga mencerminkan nilai budaya, kehormatan, dan identitas nasional di Arab Saudi, terutama dalam momen penting seperti Idul Fitri.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar