Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bolehkah Puasa Syawal Tidak 6 Hari dan Tidak Berurutan? Ini Hukumnya

Kompas.com, 26 Maret 2026, 15:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Setelah menuntaskan ibadah Ramadan dan merayakan Idulfitri, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan amalan dengan puasa Syawal.

Ibadah sunah ini kerap disebut sebagai penyempurna Ramadan karena keutamaannya yang begitu besar.

Namun di tengah praktiknya, muncul sejumlah pertanyaan yang cukup sering dicari: apakah puasa Syawal harus dilakukan penuh 6 hari? Bolehkah tidak berurutan? Dan bagaimana jika hanya mampu menjalankan sebagian saja?

Pertanyaan-pertanyaan ini penting dipahami agar ibadah tetap sah sekaligus bernilai maksimal di sisi Allah SWT.

Baca juga: Khutbah Jumat 27 Maret 2026: Menjaga Ruh Ramadhan di Bulan Syawal dan Seterusnya

Puasa Syawal dan Keutamaannya dalam Islam

Puasa Syawal adalah ibadah sunah yang dikerjakan selama enam hari di bulan Syawal, dimulai sejak tanggal 2 Syawal hingga akhir bulan.

Keutamaannya didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa orang yang berpuasa Ramadan lalu diikuti enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan pahala seperti berpuasa selama satu tahun penuh.

Para ulama menjelaskan bahwa hal ini berkaitan dengan prinsip pelipatgandaan amal dalam Al-Qur’an, di mana satu kebaikan dilipatgandakan sepuluh kali.

Dengan demikian, 30 hari Ramadan setara 300 hari dan 6 hari Syawal setara 60 hari, sehingga genap menjadi 360 hari.

Dalam kitab Al-Mughni, Ibnu Qudamah menegaskan bahwa puasa enam hari di bulan Syawal merupakan sunnah yang dianjurkan oleh jumhur ulama, termasuk mazhab Syafi’i.

Baca juga: Hukum Menggabung Puasa Qadha dan Syawal, Boleh atau Harus Dipisah? Ini Penjelasan Ulama

Apakah Puasa Syawal Harus 6 Hari Penuh?

Secara ideal, puasa Syawal memang dianjurkan untuk dilakukan selama enam hari penuh. Inilah bentuk pelaksanaan yang sesuai dengan redaksi hadis dan menjadi pendapat mayoritas ulama.

Namun, jika seseorang hanya mampu menjalankan sebagian, misalnya dua atau tiga hari, maka puasanya tetap sah sebagai puasa sunah.

Hanya saja, keutamaan yang dijanjikan yaitu pahala seperti puasa setahun penuh, tidak diperoleh secara sempurna.

Dalam buku 10 Masalah Fiqih Puasa Syawal karya Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar as-Sidaw dijelaskan bahwa pahala penuh hanya didapat jika enam hari tersebut disempurnakan. Sementara jika kurang dari itu, pahala tetap ada, tetapi tidak mencapai derajat maksimal.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam tetap memberi ruang bagi keterbatasan manusia, tanpa menghilangkan nilai ibadah yang telah dilakukan.

Bolehkah Puasa Syawal Tidak Berurutan?

Salah satu fleksibilitas dalam puasa Syawal adalah tidak adanya kewajiban untuk melaksanakannya secara berturut-turut.

Para ulama sepakat bahwa puasa Syawal boleh dilakukan secara terpisah selama masih berada dalam bulan Syawal.

Pendapat ini dijelaskan oleh Abdurrahman bin Umar, yang menyebutkan bahwa yang terpenting adalah jumlah enam hari terpenuhi, bukan urutannya.

Meski demikian, menyegerakan puasa Syawal setelah Idul fitri dan melaksanakannya secara berurutan dinilai lebih utama. Hal ini mencerminkan semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan.

Dalam kitab Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq juga menekankan bahwa ibadah sunah memiliki kelonggaran dalam waktu pelaksanaan, selama tidak keluar dari batas yang ditentukan syariat.

Baca juga: Jangan Berhenti di Lebaran, Ini Ibadah Sunnah di Bulan Syawal

Bagaimana Jika Puasa Syawal Tidak Selesai?

Dalam praktiknya, tidak semua orang mampu menyelesaikan puasa Syawal karena berbagai alasan, seperti kesibukan, kondisi kesehatan, atau faktor lainnya.

Jika seseorang meninggalkan sebagian puasa karena uzur syar’i, seperti sakit atau safar, maka ia tetap berpeluang mendapatkan pahala penuh.

Hal ini merujuk pada hadis Nabi SAW yang menyatakan bahwa seseorang yang terhalang karena uzur tetap dicatat sebagaimana amal yang biasa ia lakukan.

Namun, jika puasa ditinggalkan tanpa alasan yang dibenarkan, maka ia hanya mendapatkan pahala sesuai jumlah hari yang dikerjakan.

Apakah Puasa Syawal Boleh Dibatalkan?

Puasa Syawal termasuk puasa sunah, sehingga hukumnya lebih fleksibel dibanding puasa wajib. Dalam kondisi tertentu, seseorang diperbolehkan membatalkan puasa sunah.

Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah berbuka ketika disuguhi makanan, meskipun sebelumnya sedang berpuasa. Hal ini menjadi dasar bahwa membatalkan puasa sunah tidaklah haram.

Meski demikian, para ulama memandang bahwa membatalkan puasa tanpa alasan yang jelas hukumnya makruh. Artinya, lebih baik disempurnakan agar mendapatkan pahala yang utuh.

Baca juga: Bolehkah Puasa Syawal Digabung Senin Kamis? Ini Niat, Cara & Hukumnya

Apakah Harus Mengqadha Jika Puasa Syawal Batal?

Berbeda dengan puasa Ramadan, puasa Syawal tidak wajib diqadha jika batal di tengah jalan.

Dalam buku Yang Harus Diketahui dari Puasa Syawal karya Ahmad Zakarsih dijelaskan bahwa qadha hanya berlaku untuk ibadah wajib. Sementara puasa sunah tidak memiliki kewajiban pengganti jika tidak selesai.

Namun, menyempurnakan puasa tetap dianjurkan sebagai bentuk kesungguhan dalam beribadah.

Antara Kemudahan dan Kesempurnaan Ibadah

Puasa Syawal pada dasarnya mencerminkan keseimbangan dalam ajaran Islam: antara kemudahan dan kesempurnaan.

Di satu sisi, umat Islam diberikan kelonggaran untuk melaksanakan puasa tidak berurutan, bahkan tidak penuh enam hari jika memiliki keterbatasan. Namun di sisi lain, kesempurnaan tetap menjadi tujuan utama yang dianjurkan.

Dengan memahami ketentuan ini, umat Islam dapat menjalankan puasa Syawal dengan lebih tenang, tanpa rasa ragu.

Yang terpenting bukan sekadar jumlah hari, tetapi komitmen untuk menjaga kesinambungan ibadah setelah Ramadan.

Pada akhirnya, puasa Syawal bukan hanya tentang menambah hari berpuasa, tetapi juga menjaga ruh spiritual yang telah dibangun selama bulan suci, agar tetap hidup dalam keseharian.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar