KOMPAS.com – Pemerintah terus memperkuat layanan kesehatan bagi jemaah haji Indonesia, terutama kelompok lanjut usia (lansia) yang jumlahnya kian meningkat setiap tahun.
Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah menghadirkan layanan mobile clinic serta optimalisasi klinik satelit di kawasan Armuzna, Arafah, Muzdalifah, dan Mina yang menjadi titik krusial dalam rangkaian ibadah haji.
Kebijakan ini disampaikan oleh Wakil Menteri Haji dan Umrah, Dahnil Anzar Simanjuntak, yang menegaskan bahwa aspek kesehatan menjadi isu utama dalam penyelenggaraan ibadah haji.
“Isu kesehatan haji adalah isu utama dari tahun ke tahun, mengingat sekitar 25 persen jemaah haji Indonesia adalah lansia dan 177 ribu lainnya masuk kategori risiko tinggi,” ujar Dahnil saat mengunjungi Saudi German Hospital, dikutip dari laman resmi Kemenhaj, Selasa (31/3/2026).
Baca juga: Wamenhaj Tinjau Layanan Kesehatan Haji di Makkah untuk Pastikan Pelayanan Optimal
Wilayah Armuzna yang mencakup Arafah, Muzdalifah, dan Mina merupakan titik puncak ibadah haji yang menuntut kesiapan fisik ekstra.
Di fase ini, jutaan jemaah berkumpul dalam waktu bersamaan, menghadapi suhu ekstrem dan mobilitas tinggi.
Kondisi tersebut membuat risiko kesehatan meningkat drastis, terutama bagi lansia dan jemaah dengan penyakit penyerta.
Dahnil menekankan perlunya perubahan pendekatan dalam pelayanan kesehatan.
“Model pelayanan kesehatan harus banyak berubah,” tegasnya.
Baca juga: 3 Macam Pelaksanaan Ibadah Haji: Ifrad, Tamattu, dan Qiran, Ini Perbedaannya
Sebagai solusi, pemerintah akan menghadirkan mobile clinic atau klinik berjalan yang mampu menjangkau jemaah secara langsung di titik-titik padat di Armuzna.
Tidak hanya itu, klinik satelit di setiap sektor juga akan dimaksimalkan untuk memperkuat pengawasan kesehatan jemaah.
“Kami akan memaksimalkan klinik satelit dan mobile clinic di Armuzna untuk melayani dan mengawasi kesehatan jemaah secara lebih optimal,” lanjut Dahnil.
Pendekatan ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat penanganan medis tanpa harus memindahkan jemaah ke fasilitas kesehatan utama yang jaraknya lebih jauh.
Dalam implementasinya, pemerintah Indonesia menggandeng berbagai fasilitas kesehatan di Arab Saudi, termasuk Saudi German Hospital.
Kolaborasi ini mencakup dukungan tenaga medis, sistem rujukan pasien, hingga penguatan layanan darurat bagi jemaah haji Indonesia.
Kerja sama lintas negara ini dinilai penting untuk memastikan kualitas layanan tetap optimal di tengah tingginya jumlah jemaah.
Baca juga: Sambut Haji 2026, 45 Klinik Kesehatan Disiagakan di Makkah dan Madinah
Upaya peningkatan layanan kesehatan tidak hanya dilakukan di Tanah Suci, tetapi juga dimulai sejak di dalam negeri.
Pemerintah berencana menghadirkan klinik permanen di asrama haji yang dapat beroperasi sepanjang tahun.
“Ke depan, asrama haji akan dilengkapi klinik permanen agar pelayanan kesehatan bisa berjalan sepanjang tahun, baik untuk haji maupun umrah,” kata Dahnil.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapan kesehatan jemaah sejak sebelum keberangkatan, sehingga risiko dapat ditekan lebih awal.
Tingginya jumlah jemaah lansia menjadi perhatian serius pemerintah. Dalam berbagai kajian kesehatan haji, kelompok ini memiliki kerentanan lebih besar terhadap kelelahan, dehidrasi, hingga penyakit kronis.
Dalam buku Manajemen Kesehatan Haji karya dr. H. M. Subuh dijelaskan bahwa pendekatan pelayanan kesehatan haji harus mencakup aspek promotif, preventif, hingga kuratif, terutama bagi jemaah berisiko tinggi.
Dengan demikian, kehadiran mobile clinic bukan hanya solusi teknis, tetapi juga bagian dari strategi perlindungan menyeluruh.
Baca juga: Seruan Wamenhaj: Redam Konflik Dunia Demi Haji 2026 Berjalan Aman
Dalam perspektif Islam, menjaga kesehatan merupakan bagian penting dari kemampuan (istitha’ah) dalam berhaji.
Hal ini juga dijelaskan dalam Fiqh Ibadah Haji dan Umrah karya Prof. Dr. Wahbah Az-Zuhaili, bahwa kesiapan fisik menjadi syarat utama sahnya pelaksanaan ibadah haji.
Melalui inovasi layanan kesehatan seperti mobile clinic dan penguatan klinik satelit di Armuzna, pemerintah berharap jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan lebih aman dan nyaman.
Langkah ini menjadi bukti bahwa pelayanan haji tidak hanya berfokus pada aspek ritual, tetapi juga pada perlindungan jiwa, agar setiap jemaah dapat menunaikan rukun Islam kelima dengan tenang dan khusyuk.
Dengan pendekatan yang lebih adaptif, kolaboratif, dan berbasis kebutuhan jemaah, diharapkan:
Di tengah tantangan penyelenggaraan haji yang semakin kompleks, inovasi layanan seperti ini menjadi kunci untuk memastikan bahwa setiap jemaah, khususnya lansia, tetap dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang