Editor
KOMPAS.com - Bencana alam seperti gempa bumi dalam Islam dipahami sebagai bagian dari ketetapan Allah SWT yang mengandung ujian bagi manusia.
Dalam kondisi tersebut, umat Muslim dianjurkan untuk kembali kepada nilai-nilai keimanan dengan bersabar, bertawakal, dan memperbanyak doa.
Ajaran ini juga menuntun umat untuk membaca doa-doa yang diajarkan dalam menghadapi musibah.
Selain itu, setiap peristiwa bencana mengandung hikmah yang dapat dipetik sebagai penguatan iman dan refleksi diri.
Baca juga: Makna Musibah dalam Islam, Bukan Sekadar Hukuman
Dalam ajaran Islam, terdapat doa yang dianjurkan dibaca saat seorang Muslim menghadapi musibah.
Doa ini menjadi bentuk pengakuan atas ketetapan Allah sekaligus permohonan agar diberikan kekuatan dan ganti yang lebih baik.
Rasulullah SAW kemudian menegaskan keutamaan membaca doa tersebut dalam sebuah hadis:
ما مِن مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ، فيَقولُ ما أمَرَهُ اللَّهُ: {إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156]، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي في مُصِيبَتِي، وأَخْلِفْ لي خَيْرًا مِنْها، إلَّا أخْلَفَ اللَّهُ له خَيْرًا مِنْها
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu dia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah, (redaksi doa di atas), melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik” (HR Muslim no 1525).
Baca juga: Doa Saat Terjadi Gempa Bumi, Bisa Dibaca untuk Menenangkan Hati serta Meminta Perlindungan
Dilansir dari laman MUI, salah satu doa yang dianjurkan dibaca ketika tertimpa musibah, seperti ketika terjadi gempa bumi adalah sebagai berikut:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ اؤْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
Latin: “Inaa lillahi wainnaa ilaihi raaji’uun. Allahumma'jurnii fii mushiibati wa akhlif lii khairan minhaa.”
Artinya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena musibah ini dan tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya”.
Selain itu, Imam Nawawi dalam kitab al-Adzkar juga menyebutkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali saat menghadapi kesulitan:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلاَّ باللَّهِ العَلِيّ العَظِيمِ.
Latin: “Bismillahirrahmanirrahim wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim.”
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Tiada daya dan kekuatan (bagi kami) melainkan hanya dengan pertolongan Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung” (Abu Zakariya an-Nawawi, al-Adzkar, Daarul Fikr, hal 123).
Dalam Al Quran, doa Nabi Musa ketika menghadapi bencana gempa bumi juga dapat diamalkan:
رَبِّ لَوْ شِئْتَ اَهْلَكْتَهُمْ مِّنْ قَبْلُ وَاِيَّايَۗ اَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاۤءُ مِنَّاۚ اِنْ هِيَ اِلَّا فِتْنَتُكَۗ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاۤءُ وَتَهْدِيْ مَنْ تَشَاۤءُۗ اَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الْغٰفِرِيْنَ. وَاكْتُبْ لَنَا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰخِرَةِ اِنَّا هُدْنَآ اِلَيْكَۗ
Latin: “Rabbi lau syi’ta ahlaktahum min qablu wa iyyaya, atuhlikunaa bimaa fa’alas-sufahaau minnaa, in hiya illa fitnatuka tudhillu bihaa man tasyaau wa tahdhi man tasyaa, anta waliyyuna faghfir lanaa warhamnaa, wa anta khairul-ghaafirin, waktub lanaa fiii haadzihid-dunya hasanatan wa fiil-akhirat inna hudna ilaika”.
Artinya: “Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari-Mu. Engkau menyesatkan siapa yang Engkau kehendaki dengan cobaan itu dan Engkau memberi petunjuk siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Pelindung kami. Maka, ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah sebaik-baik pemberi ampun. Tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat. Sesungguhnya kami kembali (bertobat) kepada Engkau” (QS Al-Araf [7]: 155-156).
Dalam ajaran Islam, gempa bumi tidak semata diperdebatkan sebagai azab atau ujian. Al Quran justru menunjukkan adanya hikmah di balik setiap bencana yang terjadi.
Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu ayat yang mengisahkan gempa bumi adalah Surat Al Araf ayat 155.
Dari ayat tersebut, Muhammad Rasyid Ridla menafsirkan kata “fitnah” dalam ayat tersebut sebagai ujian atau proses pemurnian jiwa. Ia menjelaskan bahwa seperti logam mulia yang dimurnikan melalui panas, manusia juga diuji agar menjadi lebih baik (Muhammad Rasyid Ridla, Tafsir al-Manar, juz 9 hlm 189-190).
Pandangan bencana sebagai ujian juga diungkap Nabi Muhammad SAW seperti diriwayatkan Imam al-Bukhari bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Orang yang dikehendaki Allah menjadi pribadi yang lebih baik, Allah akan mengujinya terlebih dahulu” (HR al-Bukhari no 5645).
Selain itu, Al Quran juga menegaskan bahwa apabila suatu masyarakat sering berbuat kebaikan maka hal itu bisa melindungi mereka dari becana, sebagaimana tercantum dalam ayat berikut:
وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرٰى بِظُلْمٍ وَّاَهْلُهَا مُصْلِحُوْنَ
“Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim sedangkan penduduknya berbuat kebaikan” (QS Hud ayat 117).
Fakhruddin al-Razy menjelaskan bahwa kehancuran suatu masyarakat tidak semata karena keyakinan, tetapi karena perilaku buruk terhadap sesama manusia dan alam (Fakhruddin al-Razy, Mafatihul Ghaib, juz 18 hlm. 410).
Dari penjelasan tersebut, terdapat beberapa hikmah yang dapat dipetik:
Pertama, gempa bumi menjadi bentuk kasih sayang Allah SWT sebagai proses pemurnian diri bagi orang beriman.
Kedua, ujian tidak hanya ditujukan kepada korban, tetapi juga kepada masyarakat yang tidak terdampak, terutama dalam hal kepedulian sosial.
Ketiga, pentingnya komunikasi dan kerja sama antara masyarakat dan pemerintah dalam mitigasi bencana untuk meminimalkan dampak kerusakan.
Doa dan kesabaran menjadi kunci utama bagi umat Muslim dalam menghadapi musibah, termasuk gempa bumi.
Di balik setiap bencana, terdapat hikmah yang dapat memperkuat keimanan dan kepedulian sosial.
Dengan memahami nilai-nilai ini, umat Islam diharapkan mampu menyikapi bencana secara bijak dan penuh keikhlasan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang