Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tren “Dumb Phone” di Arab Saudi, Upaya Warga Kurangi Distraksi Digital

Kompas.com, 5 April 2026, 23:16 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Arab News

KOMPAS.com - Sejumlah warga Arab Saudi mulai beralih ke ponsel sederhana atau “dumb phone” untuk mengurangi penggunaan layar atau “screen time”.

Fenomena ini muncul di tengah tingginya paparan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Banyak pengguna merasa konektivitas tanpa batas justru memicu kelelahan mental.

Peralihan ini menjadi bagian dari upaya mengembalikan fokus dan keseimbangan hidup.

Baca juga: Upaya Arab Saudi Meningkatkan Budidaya Lebah Madu untuk Dukung Ketahanan Pangan dan Lingkungan

“Digital Minimalism” Jadi Tren Baru

Dilansir dari Arab News (4/4/2026), peralihan ke ponsel sederhana dikenal secara global sebagai digital minimalism.

Konsep ini menekankan pengurangan konsumsi digital dengan membatasi penggunaan aplikasi, notifikasi, dan media sosial.

Di Arab Saudi, tren ini mulai terlihat di kalangan mahasiswa, pekerja kreatif, hingga profesional muda yang menilai penggunaan smartphone berlebihan dapat mengganggu konsentrasi.

Data dari DataReportal menunjukkan tingkat penetrasi media sosial di Arab Saudi telah melampaui 90 persen, dengan rata-rata penggunaan lebih dari tiga jam per hari.

Tingginya angka ini mendorong perhatian peneliti terhadap dampaknya pada fokus, tidur, dan kelelahan kognitif.

Baca juga: Apa Itu Side Hustle? Tren Baru Anak Muda Arab Saudi yang Ubah Cara Kerja dan Hidup

Pengalaman Pengguna: Dari Distraksi ke Fokus

Kreator konten asal Riyadh, Noura Al-Qahtani, memutuskan beralih ke ponsel sederhana setelah bertahun-tahun aktif secara online.

“Saya tidak menyadari betapa banyak waktu saya habis hanya untuk scrolling,” ujarnya.

“Saat beralih ke ponsel sederhana, hal pertama yang saya rasakan adalah keheningan. Awalnya terasa tidak nyaman, tetapi kemudian menjadi kejernihan. Saya bisa duduk, berpikir, dan benar-benar menyelesaikan pekerjaan tanpa gangguan.”

Pengalamannya sejalan dengan studi yang dipublikasikan di Nature Communications pada 2021, yang menemukan bahwa pengurangan gangguan digital dapat meningkatkan fokus dan kontrol kognitif.

Bukan Anti Teknologi, Tapi Soal Kendali

Daya tarik “dumb phone” bukan karena penolakan terhadap teknologi, melainkan keinginan untuk mengontrol penggunaannya.

Dengan menghilangkan akses ke aplikasi dan notifikasi, pengguna menciptakan lingkungan yang lebih minim distraksi.

Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan bahwa gangguan digital yang sering dapat menurunkan perhatian dan meningkatkan kelelahan mental.

Mahasiswa di Dammam, Abdulrahman Al-Harbi, merasakan manfaatnya saat masa ujian.

“Saya sering duduk untuk belajar, tetapi setiap beberapa menit tanpa sadar malah mengecek ponsel,” katanya.

“Setelah beralih ke ponsel sederhana saat ujian akhir, saya menyadari betapa lebih mudah untuk tetap fokus. Bukan berarti belajar jadi lebih mudah, tapi pikiran saya tidak lagi meloncat-loncat.”

Dampak pada Tidur dan Pola Pikir

Paparan layar juga berdampak pada kualitas tidur. Menurut Harvard Medical School, penggunaan perangkat sebelum tidur dapat menekan produksi melatonin, sehingga mengganggu siklus tidur.

Selain itu, ketergantungan pada teknologi, termasuk kecerdasan buatan seperti ChatGPT, mulai memengaruhi cara berpikir pengguna.

Spesialis komunikasi asal Riyadh, Omar Al-Salem, mengaku mulai terlalu bergantung pada teknologi tersebut.

“Saya mulai menggunakannya untuk hal-hal kecil, seperti menulis email atau menyusun ide, tetapi lama-lama menjadi kebiasaan untuk hampir semua hal,” ujarnya.

“Pada titik tertentu, saya menyadari cara berpikir saya tidak lagi sama. Saya memang lebih cepat, tetapi belum tentu lebih tajam.”

“Tidak mudah berhenti bergantung pada hal itu,” katanya. “Namun setelah beberapa waktu, fokus saya mulai kembali. Saya merasa berpikir lebih lambat, tetapi lebih mendalam. Rasanya seperti mendapatkan kembali sebagian perhatian saya,” jelasnya lagi.

Ilustrasi telepon genggam.Pexels/Gylfi Gylfason Ilustrasi telepon genggam.

Pendekatan Hybrid Semakin Populer

Tidak semua pengguna sepenuhnya meninggalkan smartphone. Konsultan asal Jeddah, Sara Al-Zahrani, memilih pendekatan hybrid.

“Saya tidak sepenuhnya meninggalkan smartphone, tetapi saya tidak lagi membawanya ke mana-mana,” ujarnya.

“Saya meninggalkannya di ruangan lain saat di rumah dan menggunakan ponsel sederhana saat keluar. Perbedaan terbesar adalah pikiran saya terasa lebih tenang. Saya tidak terus-menerus bereaksi.”

Pendekatan ini sejalan dengan studi dalam jurnal Computers in Human Behavior yang menyebut pembatasan penggunaan smartphone dapat menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesejahteraan tanpa harus sepenuhnya terputus dari teknologi.

Batasan Jadi Kunci Memegang Kendali Diri di Era Digital

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa digital minimalism bukan solusi universal.

Smartphone tetap menjadi alat penting untuk komunikasi, pekerjaan, dan akses layanan, terutama di negara dengan tingkat digitalisasi tinggi seperti Arab Saudi.

Permasalahan utama bukan pada keberadaan teknologi, melainkan pada kurangnya batasan dalam penggunaannya.

Di tengah budaya yang mengaitkan konektivitas dengan produktivitas, memilih perangkat sederhana mungkin terlihat tidak biasa.

Namun, bagi sebagian orang, langkah ini menjadi cara untuk merebut kembali kendali atas waktu, fokus, dan kesehatan mental.

Tren penggunaan “dumb phone” mencerminkan perubahan cara pandang terhadap teknologi di era modern.

Pengguna mulai menyadari pentingnya mengatur interaksi dengan perangkat digital.

Kesadaran ini menjadi langkah awal untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental.

Ke depan, kemampuan mengelola teknologi akan menjadi keterampilan penting di masyarakat digital.

Bagi sebagian orang, kembali ke ponsel sederhana bukan berarti mundur, melainkan strategi untuk hidup lebih terarah dan fokus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar