Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dari Banyuwangi untuk Dunia: Puisi “Rubaiyat Hormuz” Suarakan Luka Kemanusiaan Timur Tengah

Kompas.com, 17 April 2026, 08:26 WIB
Fitri Anggiawati,
Farid Assifa

Tim Redaksi

BANYUWANGI, KOMPAS.com - Di sebuah sudut sanggar seni Langgar Art, Banyuwangi, bait-bait puisi yang dilantunkan puluhan sastrawan dan aktivis mengalun membelah sunyi malam.

Mereka berkumpul bukan sekadar untuk berdeklamasi, melainkan membawa misi besar untuk menyuarakan solidaritas kemanusiaan melalui tajuk "Rubaiyat Hormuz".

Acara yang diinisiasi Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Banyuwangi Kota tersebut menjadi ruang refleksi atas eskalasi konflik geopolitik yang tengah memanas di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.

Ketua MWCNU Banyuwangi Kota, Barur Rohim, mengatakan bahwa kegiatan yang digelar pada Selasa (14/4/2026) tersebut berangkat dari keresahan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang kian tergerus akibat ambisi politik kekuasaan.

Baca juga: Dimulai dari Banyuwangi, NU Perkuat Kesejahteraan dan Gerakan di Akar Rumput

Menurutnya, penderitaan manusia di medan perang adalah duka bagi seluruh umat manusia.

"Kita sebagai rakyat Banyuwangi berdiri di atas nilai-nilai kemanusiaan. Bagaimana sebuah negara yang berdaulat diserang dengan alasan yang tak menentu," kata Barur.

Ia menambahkan bahwa pesan damai dan pembelaan terhadap hak hidup manusia tidak boleh terkotak-kotak oleh batas negara, aliran keagamaan, maupun kepentingan politik tertentu.

"Untuk mengekspresikannya bisa dengan berbagai bentuk. Salah satunya melalui kedalaman makna puisi dan sastra," tambahnya.

Solidaritas pun tidak hanya diikuti oleh warga nahdliyin, tetapi juga merangkul lintas komunitas.

Mulai dari Komite Bahasa dan Sastra Dewan Kesenian Blambangan (DKB), Lentera Sastra, Hiski Banyuwangi, hingga Forum 28.

Baru menceritakan bahwa salah satu momen menyentuh muncul saat Muttafaqur Rohmah dari Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi membacakan puisi berjudul "Nadi Kecil".

Puisi ini memotret Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan detak jantung dunia yang jika terganggu, maka goyah pula keseimbangan global.

"Hormuz memang bukan sekadar selat

Ia seperti nadi kecil di tubuh dunia yang besar

Tidak selalu terlihat

Tapi dipikirkan

Mungkin itulah yang membuatnya menakutkan," bunyi penggalan puisi tersebut.

Dampak nyata dari konflik yang jauh di mata namun dekat di perut juga disuarakan oleh Gus Fathan melalui puisi "Doa Petani Banyuwangi".

Dengan iringan musik akustik, Gus Fathan menggambarkan bagaimana gejolak di Timur Tengah berimbas langsung pada nasib petani lokal.

"Ketika selat yang jauh itu bergejolak, tanahku akhirnya ikut bergetar. Karena harga pupuk yang naik membubung tinggi," lantun Gus Fathan, mengingatkan bahwa dunia saat ini saling terhubung secara erat.

Baca juga: Pelantikan PCNU Banyuwangi 2026–2030 Digelar Mendadak, Dirangkai Haul Pendiri Pesantren

Diurai Barur, kegiatan Rubaiyat Hormuz menjadi bukti bahwa dari ujung timur Pulau Jawa, semangat Islam yang Rahmatan Lil Alamin terus berdenyut.

Melalui sastra, masyarakat diajak untuk tidak apatis terhadap isu global dan terus mengedepankan empati sebagai fondasi ukhuwah basyariyah (persaudaraan sesama manusia).

Lantunan doa dan puisi di Langgar Art malam itu menjadi pengingat sederhana namun tajam: bahwa di balik setiap kebijakan perang dan strategi politik, ada nyawa dan martabat manusia yang harus tetap dijunjung tinggi.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
MUI Akan Luncurkan Wajib Halal Oktober di Bengkulu pada 1 Oktober 2026
Aktual
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Imam Besar Dunia Shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Doakan Persatuan Umat dan Kembalinya Masjid Al Aqsa
Aktual
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Menag Ajak Imam Gunakan Bahasa Agama untuk Bangun Kesadaran Menjaga Lingkungan
Aktual
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Menag: Imam Harus Jadi Jembatan Perdamaian dan Diplomat Komunitas
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar