Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kisah Siti Hajar, Keteguhan Perempuan dalam Ujian Keimanan

Kompas.com, 21 April 2026, 16:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Dalam setiap peringatan Idul Adha, umat Islam kerap mengingat kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan ketaatan Nabi Ismail.

Namun, di balik peristiwa agung tersebut, ada satu sosok yang sering luput dari sorotan, yaitu Siti Hajar, seorang perempuan yang keteguhan imannya menjadi fondasi penting dalam sejarah ibadah haji.

Kisahnya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan refleksi mendalam tentang keteguhan, kesabaran, dan peran perempuan dalam membangun peradaban spiritual.

Baca juga: Makna Idul Adha Menurut Al-Qur’an: Jejak Ketakwaan, Pengorbanan, dan Kepedulian Sosial

Awal Ujian: Dari Lembah Sunyi ke Kepercayaan Total

Perjalanan dimulai ketika Nabi Ibrahim membawa Siti Hajar dan putranya, Nabi Ismail, ke sebuah lembah tandus yang kelak dikenal sebagai Mekkah. Tanpa sumber air dan kehidupan, tempat itu tampak mustahil untuk ditinggali.

Dalam berbagai riwayat, momen ketika Siti Hajar ditinggalkan menjadi titik penting. Ia tidak memberontak, tetapi bertanya dengan keyakinan: “Apakah ini perintah Allah?” Ketika jawabannya “ya”, ia pun menerima dengan penuh tawakal.

Dari sinilah dimulai pelajaran besar: iman bukan sekadar keyakinan, tetapi keberanian untuk percaya di tengah ketidakpastian.

Baca juga: 9 Tokoh Perempuan Muslim Indonesia yang Menginspirasi hingga Dunia

Sa’i: Jejak Perjuangan Seorang Ibu

Ketika persediaan air habis dan tangisan Nabi Ismail semakin lirih, Siti Hajar berlari antara Bukit Safa dan Bukit Marwah sebanyak tujuh kali.

Gerakan ini bukan sekadar usaha fisik, tetapi simbol keteguhan seorang ibu yang tidak menyerah pada keadaan.

Hingga akhirnya, atas izin Allah, muncullah Air Zamzam, sumber kehidupan yang terus mengalir hingga hari ini.

Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam rukun haji, yaitu sa’i. Artinya, perjuangan seorang perempuan diabadikan menjadi bagian inti ibadah umat Islam sepanjang masa.

Ujian Pengorbanan Siti Hajar

Ketika Nabi Ismail beranjak remaja, ujian berikutnya datang. Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya.

Dalam Al-Qur’an (QS. Ash-Shaffat: 102), Nabi Ismail dengan penuh ketaatan berkata: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”

Namun menariknya, Al-Qur’an tidak secara eksplisit mengisahkan reaksi Siti Hajar. Di sinilah perspektif reflektif menjadi penting.

Sebagai seorang ibu yang sebelumnya telah melalui ujian berat di padang tandus, dapat dipahami bahwa keimanan Siti Hajar telah mencapai tingkat keteguhan luar biasa.

Ia telah belajar bahwa setiap perintah Allah selalu mengandung hikmah, meski melampaui logika manusia.

Dalam perspektif keimanan, diamnya Siti Hajar bukan berarti pasif, melainkan bentuk penerimaan tertinggi terhadap kehendak Ilahi.

Baca juga: Kartini Bukan Sekadar Simbol, Ini Peran Nyatanya bagi Muslimah Kini

Simbol Kolektif Pengorbanan

Peristiwa penyembelihan yang akhirnya digantikan oleh hewan kurban menjadi dasar perayaan Idul Adha.

Namun, jika ditarik lebih dalam, Idul Adha bukan hanya tentang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ia juga tentang Siti Hajar, tentang bagaimana seorang perempuan mampu menanggung beban ujian dengan iman yang kokoh.

Dalam konteks ini, pengorbanan tidak hanya berbentuk tindakan, tetapi juga kesabaran, keteguhan hati, dan keikhlasan menerima takdir.

Perempuan dan Spirit Seorang Ibu

Jika ditarik ke konteks kehidupan yang lebih luas, kisah Siti Hajar menghadirkan gambaran utuh tentang perjuangan seorang ibu yang tidak hanya berperan dalam ranah domestik, tetapi juga menjadi penopang lahirnya peradaban.

Dalam sunyi dan keterbatasan, ia menunjukkan bahwa kekuatan perempuan tidak selalu tampak dalam sorotan, melainkan hadir dalam keteguhan, kesabaran, dan keyakinan yang tidak tergoyahkan.

Seorang ibu, dalam banyak peradaban, adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia menanamkan nilai, membentuk karakter, sekaligus menjaga arah kehidupan keluarga.

Apa yang dilakukan Siti Hajar di lembah tandus bukan sekadar upaya bertahan hidup, tetapi juga fondasi bagi perjalanan spiritual yang kelak menjadi bagian inti ibadah umat Islam.

Dalam konteks modern, semangat ini menemukan relevansinya. Perempuan hari ini tidak lagi hanya dihadapkan pada keterbatasan fisik, tetapi juga tantangan intelektual dan sosial.

Di titik inilah, lahir gagasan tentang pentingnya perempuan untuk berpikir, belajar, dan mengambil peran aktif dalam masyarakat, sebuah semangat yang kemudian diperjuangkan oleh Raden Ajeng Kartini.

Meski hidup dalam ruang dan waktu yang berbeda, keduanya memiliki benang merah yang sama: perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak perubahan.

Jika gagasan emansipasi berbicara tentang “terang” dalam dimensi ilmu dan sosial, maka kisah Siti Hajar menghadirkan “terang” dalam bentuk ketauhidan, kesabaran, dan keteguhan iman.

Dari sinilah dapat dipahami bahwa perjuangan seorang ibu bukan hanya tentang pengorbanan, tetapi juga tentang membangun generasi, menjaga nilai, dan menghadirkan cahaya di tengah berbagai keterbatasan.

Baca juga: Jarang Dibahas, Saat Muslimah Pimpin Ilmu Dunia di Era Keemasan Islam

Pelajaran untuk Muslimah Masa Kini

Kisah Siti Hajar mengajarkan bahwa perempuan memiliki peran sentral, baik dalam keluarga maupun dalam membangun peradaban.

Ia adalah simbol ketahanan, keberanian, dan keyakinan. Dari lembah tandus di Mekkah, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghadirkan perubahan besar.

Di era modern, tantangan perempuan mungkin berbeda—bukan lagi soal bertahan di gurun, tetapi menghadapi arus informasi, tekanan sosial, dan kompleksitas kehidupan.
Namun prinsipnya tetap sama, iman, ilmu, dan keteguhan adalah kunci.

Lebih dari Sekadar Sejarah

Kisah ini pada akhirnya bukan hanya tentang masa lalu. Ia adalah cermin bagi masa kini.
Bahwa di balik setiap ibadah besar dalam Islam, terdapat jejak perjuangan manusia, termasuk perempuan yang sering kali tersembunyi, tetapi memiliki makna yang sangat dalam.

Dan mungkin, di situlah letak pelajaran terpentingnya bahwa keteguhan iman seorang perempuan bisa menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban yang besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar