Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kapan Shalat Jumat Pertama Kali Dilaksanakan? Berawal dari Hijrah Nabi

Kompas.com, 23 April 2026, 12:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Shalat Jumat hari ini mungkin terasa sebagai rutinitas mingguan bagi sebagian umat Islam.

Namun, di balik ibadah yang tampak sederhana itu, tersimpan sejarah panjang yang berkaitan langsung dengan perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Pertanyaan tentang sejak kapan shalat Jumat mulai didirikan bukan sekadar rasa ingin tahu sejarah, tetapi juga membuka pemahaman tentang bagaimana ibadah ini lahir di tengah dinamika perjuangan Islam pada masa awal.

Lantas, kapan sebenarnya shalat Jumat pertama kali dilaksanakan?

Baca juga: Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Ibadah Haji, Ora Mung Lunga, Nanging Ngganti Diri

Perintah Shalat Jumat: Sudah Ada Sejak di Mekkah

Secara normatif, perintah shalat Jumat telah disebutkan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 9. Ayat ini menegaskan kewajiban bagi orang-orang beriman untuk segera memenuhi panggilan shalat ketika azan Jumat dikumandangkan.

Namun demikian, para ulama menjelaskan bahwa meskipun perintahnya telah ada, pelaksanaan shalat Jumat secara berjamaah belum dapat dilakukan secara optimal ketika Nabi Muhammad SAW masih berada di Mekkah.

Dalam kitab Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa tekanan dan intimidasi dari kaum Quraisy membuat umat Islam belum memiliki ruang yang aman untuk melaksanakan ibadah secara terbuka, termasuk shalat Jumat.

Baca juga: 3 Kali Tinggalkan Shalat Jumat, Benarkah Jadi Kafir? Ini Peringatan Rasulullah

Momentum Hijrah: Awal Pelaksanaan Shalat Jumat

Peristiwa penting yang menandai awal pelaksanaan shalat Jumat terjadi saat Rasulullah SAW melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun ke-13 kenabian.

Dalam perjalanan tersebut, Nabi sempat singgah di wilayah Quba, yang kini dikenal dengan Masjid Quba.

Di tempat ini, Rasulullah membangun masjid pertama dalam sejarah Islam dan tinggal selama beberapa hari bersama para sahabat.

Namun, momen bersejarah terjadi ketika perjalanan dilanjutkan menuju Madinah. Tepat pada hari Jumat, rombongan Nabi tiba di sebuah lembah bernama Wadi Ranuna.

Di lokasi inilah, Rasulullah SAW untuk pertama kalinya mendirikan shalat Jumat bersama para sahabat.

Peristiwa ini kemudian diabadikan dengan berdirinya Masjid Al-Jumu'ah, yang diyakini sebagai lokasi shalat Jumat pertama dalam sejarah Islam.

Mengapa Tidak Dilaksanakan di Mekkah?

Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa shalat Jumat tidak dilaksanakan sejak awal di Mekkah?

Jawabannya terletak pada kondisi sosial dan politik saat itu. Umat Islam berada dalam tekanan yang sangat kuat dari kaum Quraisy. Aktivitas ibadah secara terbuka berisiko menimbulkan ancaman keselamatan.

Dalam berbagai literatur sejarah Islam, termasuk Sirah Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, dijelaskan bahwa fase Mekkah lebih difokuskan pada penguatan akidah, bukan pada pembentukan sistem sosial keagamaan yang kompleks seperti shalat Jumat berjamaah.

Baru setelah hijrah ke Madinah, umat Islam memiliki kebebasan untuk menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh, termasuk mendirikan shalat Jumat dengan khutbah sebagai bagian pentingnya.

Baca juga: 7 Sunnah Sebelum Shalat Jumat yang Sering Terlewat, Ini Dalilnya

Khutbah Pertama: Pesan yang Menggugah

Shalat Jumat pertama yang dipimpin Rasulullah SAW tidak hanya menjadi tonggak sejarah ibadah, tetapi juga ditandai dengan khutbah yang sarat makna.

Dalam riwayat yang dinukil dari kitab Nur al-Yaqin karya Muhammad Khudri Bek, Rasulullah menyampaikan pesan yang sangat menyentuh tentang kehidupan, tanggung jawab, dan pentingnya amal kebaikan.

Isi khutbah tersebut menekankan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah dilakukan di dunia.

Bahkan, amal sekecil apa pun, seperti sedekah atau ucapan yang baik, memiliki nilai besar di sisi Allah.

Pesan ini menjadi fondasi spiritual yang terus relevan hingga hari ini.

Dari Sejarah Menjadi Kewajiban Umat

Sejak peristiwa di Wadi Ranuna itu, shalat Jumat kemudian menjadi ibadah wajib bagi laki-laki muslim yang memenuhi syarat.

Dalam buku Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa shalat Jumat bukan hanya pengganti shalat Dzuhur, tetapi juga sarana pembinaan umat melalui khutbah yang berisi nasihat, ilmu, dan pengingat.

Hal ini diperkuat oleh penjelasan dalam Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi yang menegaskan bahwa khutbah merupakan bagian integral dari sahnya shalat Jumat.

Dengan demikian, shalat Jumat tidak hanya berdimensi ibadah individual, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan edukatif dalam kehidupan umat Islam.

Baca juga: Tata Cara Wudhu, Tayamum, dan Shalat di Pesawat untuk Panduan Jemaah Haji

Jejak Sejarah yang Masih Terjaga

Hingga kini, lokasi-lokasi bersejarah yang berkaitan dengan awal pelaksanaan shalat Jumat masih dapat ditemukan di Madinah.

Masjid Quba dan Masjid Al-Jumu’ah menjadi saksi bisu perjalanan dakwah Rasulullah SAW, sekaligus pengingat bahwa ibadah yang kini kita jalankan memiliki akar sejarah yang kuat.

Bagi sebagian umat Islam, mengunjungi tempat-tempat tersebut bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual untuk merasakan kembali jejak langkah Nabi.

Lebih dari Sekadar Ibadah Mingguan

Memahami sejarah shalat Jumat membawa kita pada satu kesadaran penting: ibadah ini lahir dari perjuangan, bukan sekadar rutinitas.

Ia hadir setelah fase panjang tekanan, hijrah, dan pembentukan masyarakat Islam yang kokoh di Madinah.

Karena itu, setiap kali azan Jumat dikumandangkan, sejatinya bukan hanya panggilan untuk berkumpul di masjid, tetapi juga ajakan untuk mengingat kembali nilai-nilai yang dibawa Rasulullah tentang kebersamaan, keimanan, dan tanggung jawab sebagai seorang muslim.

Dari sebuah lembah di Madinah, hingga jutaan masjid di seluruh dunia hari ini, shalat Jumat terus menjadi simbol hidupnya ajaran Islam yang menyatukan umat dalam satu waktu, satu arah, dan satu tujuan, yaitu mendekat kepada Allah SWT.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar