Editor
KOMPAS.com - Suasana ibadah di sekitar Masjidil Haram kini disertai pengawasan ketat dari otoritas Arab Saudi.
Sejak Kamis (23/4/2026), petugas keamanan mulai melakukan pemeriksaan acak kepada jamaah haji di sejumlah titik strategis di Kota Makkah.
Kebijakan ini perlu menjadi perhatian jamaah haji Indonesia agar aktivitas ibadah tetap berjalan lancar.
Baca juga: Sistem Rombongan Jadi Kunci Penataan Jamaah Haji Indonesia Sejak Tiba di Madinah
Jamaah diimbau selalu membawa dokumen resmi setiap kali keluar hotel maupun menuju tempat ibadah.
Pantauan di lapangan menunjukkan pemeriksaan dilakukan di jalur utama menuju Masjidil Haram, termasuk kawasan terminal Jabal Ka’bah dan akses pejalan kaki.
Jamaah yang melintas diminta menunjukkan dokumen resmi seperti Kartu Nusuk dan visa haji.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah Arab Saudi menertibkan penyelenggaraan ibadah haji sekaligus membedakan jamaah resmi dan non-prosedural.
Baca juga: Kartu Nusuk untuk Haji 2026: Fungsi, Cara Pakai, dan Aturan Jika Kartu Hilang
Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah, Ihsan Faisal, menegaskan pentingnya kedisiplinan jamaah Indonesia untuk selalu membawa identitas resmi selama berada di Tanah Suci.
“Kartu Nusuk harus selalu dibawa, terutama saat beraktivitas di luar hotel atau saat menuju tempat ibadah. Itu menjadi syarat utama akses,” tegasnya, Jumat (24/6/2026) pagi waktu Arab Saudi.
Dengan meningkatnya pengawasan, jamaah diminta tidak meninggalkan kartu identitas di hotel.
Kartu Nusuk kini menjadi dokumen penting untuk menunjang kelancaran mobilitas jamaah selama musim haji.
Lebih dari sekadar kartu identitas, Kartu Nusuk berfungsi sebagai kunci akses jamaah selama berada di Arab Saudi.
Di dalam kartu tersebut tersimpan data penting jamaah, seperti nama, foto, tanggal lahir, hingga lokasi penginapan. Seluruh informasi itu terintegrasi dengan sistem layanan haji Arab Saudi.
Keberadaan kartu ini memudahkan proses verifikasi identitas, pengaturan akses, hingga pelayanan jamaah di lapangan.
Untuk musim haji 2026, distribusi Kartu Nusuk dilakukan lebih awal. Jamaah bahkan telah menerima dan mengaktifkan kartu tersebut sejak berada di embarkasi di Indonesia melalui kerja sama dengan pihak syarikah.
Ihsan menyebut langkah tersebut dilakukan agar seluruh jamaah tiba di Arab Saudi dalam kondisi siap, baik dari sisi administrasi maupun teknis.
“Komitmennya, sebelum berangkat jamaah sudah memegang Kartu Nusuk yang aktif. Jadi tidak ada lagi kendala saat di lapangan,” ujarnya.
Dengan sistem pengawasan yang semakin tertib dan terintegrasi, jamaah diimbau tidak lengah selama beraktivitas di Makkah.
Membawa Kartu Nusuk kini bukan lagi sekadar formalitas, tetapi menjadi penentu kelancaran ibadah, akses layanan, dan mobilitas jamaah di sekitar Masjidil Haram.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul "Waspada di Tanah Suci: Pemeriksaan Acak, Kartu Nusuk Jadi 'Tiket Hidup' Jamaah Haji".
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.