Editor
KOMPAS.com-Bekerja mencari nafkah sering dipandang sebagai rutinitas harian yang melelahkan, padahal dalam Islam aktivitas tersebut memiliki nilai ibadah yang besar apabila dilakukan dengan cara halal dan niat yang benar.
Islam tidak hanya memerintahkan umatnya untuk beribadah secara ritual, tetapi juga mendorong setiap Muslim menjadi pribadi produktif, mandiri, jujur, dan bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Khutbah Jumat yang disampaikan KH Zaki Mubarok, Lc, Sekretaris 4 MUI Kota Tangerang yang dilansir dari laman MUI, mengingatkan bahwa mencari nafkah halal untuk keluarga merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.
Baca juga: Khutbah Jumat 1 Mei 2026: Hari Buruh dan Seruan Keadilan dalam Islam
Melalui dalil Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW, khutbah ini menegaskan bahwa kerja keras, kejujuran, amanah, dan keseimbangan antara dunia dan akhirat menjadi kunci keberkahan hidup seorang Muslim.
اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَركَاتُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَنْعَمَ عَلَيْنَا بِالْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ، وَاَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزَّلُ بِشَرِيْعَةِ الْاِسْلَامِ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْ لُهُ خَيْرُ الْاَنَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ هُمْ سَلَاطِيْنُ الْأَئِمَّةِ وَالْإِمَامِ
اَمَّا بَعْدُ، فَيَا اَيُّهَاالْحَاضِرُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَّقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالٰى: اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ (وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ)
صدق الله العظيم
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Islam adalah agama yang sangat memuliakan kerja keras dan usaha mencari nafkah yang halal. Dalam pandangan Islam, bekerja bukan sekadar aktivitas duniawi, tetapi juga bagian dari ibadah kepada Allah SWT.
Allah Ta’ala berfirman dalam Alquran:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
Artinya: “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.’” (QS. At-Taubah: 105)
Bekerja adalah bagian dari tanggung jawab manusia, dan setiap usaha yang dilakukan akan dinilai oleh Allah. Bekerja bukan sekadar aktivitas untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga merupakan wujud tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang diberi amanah.
Dalam setiap langkah usaha yang dilakukan—baik kecil maupun besar—tersimpan nilai ibadah jika dilandasi niat yang baik. Tidak ada jerih payah yang sia-sia, karena setiap usaha akan dinilai oleh Allah dengan penuh keadilan.
Oleh karena itu, bekerja dengan sungguh-sungguh, jujur, dan penuh tanggung jawab bukan hanya mendatangkan hasil di dunia, tetapi juga menjadi bekal berharga di akhirat.
Jamaah Jumat yang Dimuliakan Allah,
Dalam ajaran Islam, setiap amaliah yang baik akan mendapatkan ganjaran pahala dari Allah SWT, sekecil apa pun kebaikan itu. Tidak hanya ibadah yang bersifat ritual seperti shalat dan puasa, tetapi juga aktivitas sehari-hari yang diniatkan karena Allah, termasuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga.
Baca juga: Hukum Tidur Saat Khutbah Jumat, Batal Wudhu atau Tetap Sah?
Mencari rezeki yang halal untuk memenuhi kebutuhan istri dan anak adalah bagian dari tanggung jawab yang mulia. Ketika dilakukan dengan niat ibadah, kerja keras tersebut berubah menjadi amal shalih yang bernilai pahala. Bahkan, setiap rupiah yang diberikan kepada keluarga dapat menjadi sedekah di sisi Allah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَا أَنْفَقْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Apa saja yang engkau nafkahkan untuk keluargamu, maka itu adalah sedekah bagimu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, seorang muslim tidak perlu memisahkan antara urusan dunia dan akhirat. Selama dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang ikhlas, bekerja mencari nafkah bukan hanya mendatangkan manfaat dunia, tetapi juga menjadi jalan meraih pahala dan keberkahan di akhirat.
Mencari nafkah yang halal merupakan kewajiban, terutama bagi seorang kepala keluarga. Bahkan, Rasulullah SAW menegaskan keutamaan bekerja dengan tangan sendiri:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR Bukhari)
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga bersabda:
مَنْ سَعَى عَلَى عِيَالِهِ فَهُوَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ
“Seseorang yang mencari nafkah untuk keluarganya termasuk di jalan Allah.” (HR Thabrani)
Bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga bukan hanya kewajiban, tetapi juga bernilai jihad di jalan Allah.
Oleh karena itu, hendaknya setiap muslim meluruskan niat dalam bekerja, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dunia, tetapi juga untuk meraih ridha Allah. Dengan niat yang benar, lelah menjadi berkah, dan penghasilan menjadi jalan menuju pahala.
Nabi Daud ‘alaihis salam adalah sosok teladan yang menunjukkan kemuliaan bekerja dengan tangan sendiri. Meskipun beliau seorang nabi dan juga raja, beliau tidak bergantung kepada orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Beliau memilih untuk bekerja dan makan dari hasil jerih payahnya sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi Daud makan dari hasil kerja tangannya.” (HR Bukhari)
Bekerja adalah sesuatu yang mulia, bukanlah hina. Bahkan seorang nabi yang mulia pun tetap berusaha dengan tangannya sendiri. Maka, tidak sepantasnya seseorang merasa rendah karena bekerja keras, selama itu dilakukan dengan cara yang halal. Justru di situlah letak kehormatan dan keberkahan hidup.
Orang yang bersusah payah mencari nafkah halal sepanjang hari, dengan niat menunaikan tanggung jawab dan mencari ridha Allah, tidak hanya mendapatkan rezeki untuk kehidupannya, tetapi juga limpahan ampunan dari Allah SWT. Setiap rasa lelah, panas, dan letih yang ia rasakan menjadi saksi kesungguhan usahanya di jalan yang benar.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ
“Barang siapa yang sore hari merasa letih karena bekerja mencari nafkah yang halal, maka ia diampuni dosanya.” (HR Thabrani)
Kerja keras yang dilakukan dengan cara yang halal dan niat yang tulus bukanlah sesuatu yang sia-sia. Bahkan, kelelahan itu menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa. Maka, jangan pernah meremehkan usaha mencari nafkah, karena di balik lelah itu tersimpan rahmat dan ampunan dari Allah.
Setiap keringat yang jatuh, setiap lelah yang dirasakan, dan setiap usaha yang ditempuh untuk mendapatkan rezeki yang halal akan bernilai ibadah besar di sisi Allah. Bahkan, perjuangan itu sebanding dengan jihad karena mengandung pengorbanan, kesungguhan, dan tanggung jawab.
Hadirin yang Berbahagia,
Islam juga mengajarkan kita untuk menjauhi sifat malas dan bergantung kepada orang lain. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi pribadi yang aktif, mandiri, dan tidak bermalas-malasan. Sifat malas dipandang sebagai hal yang dapat melemahkan potensi diri dan menghambat kemajuan hidup.
Selain itu, bergantung kepada orang lain tanpa usaha yang sungguh-sungguh juga tidak dianjurkan, karena setiap manusia memiliki tanggung jawab untuk berikhtiar memenuhi kebutuhannya sendiri.
Dengan bekerja keras dan berusaha secara mandiri, seseorang tidak hanya menjaga harga dirinya, tetapi juga menjalankan ajaran Islam yang mendorong kemandirian dan semangat berjuang dalam kehidupan.
Baca juga: Tidak Mendengar Khutbah Jumat, Apakah Shalat Tetap Sah? Ini Kata Ulama
Ma’syiral Muslimin Rahimakumullah,
Mencari nafkah yang halal merupakan kewajiban sekaligus bentuk ketaatan seorang hamba kepada Allah. Setiap rezeki yang diperoleh dengan cara yang baik akan membawa keberkahan, ketenangan hati, dan kebaikan dalam kehidupan.
Sebaliknya, menjauhi yang haram adalah upaya menjaga diri dari hal-hal yang dapat merusak moral dan menghilangkan keberkahan. Dengan berpegang pada prinsip halal dan haram, seseorang tidak hanya menjaga kehidupannya di dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal yang bernilai di akhirat.
Dalam bekerja kita harus mengedepankan kejujuran dan amanah; ini adalah fondasi utama yang membangun kepercayaan dan kehormatan diri. Kejujuran membuat setiap tugas dikerjakan tanpa manipulasi, sementara amanah memastikan tanggung jawab diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Sikap ini tidak hanya berdampak pada kualitas hasil kerja, tetapi juga menciptakan hubungan yang sehat dan saling percaya dengan orang lain.
Dengan menjaga kejujuran dan amanah, seseorang tidak hanya meraih keberhasilan di dunia, tetapi juga memperoleh nilai kebaikan yang bernilai di sisi Allah.
Jamaah Shalat Jumat yang Berbahagia,
Bekerja tidak seharusnya membuat seseorang melalaikan ibadah kepada Allah. Di tengah kesibukan dan tuntutan pekerjaan, seorang hamba tetap dituntut untuk menjaga hubungan dengan Tuhannya melalui shalat, doa, dan mengingat-Nya. Justru dengan menyeimbangkan antara kerja dan ibadah, hidup menjadi lebih terarah dan penuh keberkahan.
Kesungguhan dalam bekerja akan semakin bernilai jika tidak mengabaikan kewajiban kepada Allah, karena keduanya dapat berjalan seiring sebagai bentuk pengabdian yang utuh.
Dalam bekerja, kita juga harus menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat, karena menjaga keseimbangan antara dunia dan akhirat adalah kunci hidup yang harmonis dan bermakna. Kehidupan dunia perlu dijalani dengan kerja keras, tanggung jawab, dan usaha terbaik, namun tidak boleh melupakan tujuan akhir sebagai bekal menuju akhirat.
Dengan menyeimbangkan keduanya, seseorang dapat meraih keberhasilan lahiriah sekaligus ketenangan batin. Setiap aktivitas duniawi pun dapat bernilai ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar, sehingga hidup menjadi lebih terarah dan penuh keberkahan.
Allah berfirman di dalam surat Al-Munafiqun ayat 9:
يٰٓاَيُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚوَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah,
Setiap tetes keringat yang kita keluarkan dalam mencari nafkah yang halal akan menjadi saksi di hadapan Allah. Rasulullah SAW pernah mencium tangan seorang sahabat yang kasar karena bekerja, lalu beliau bersabda:
هَذِهِ يَدٌ يُحِبُّهَا اللّٰهُ وَرَسُولُهُ
“Ini adalah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.” (HR Thabrani)
Betapa mulianya orang yang bekerja keras dengan cara yang halal, hingga Rasulullah menegaskan demikian.
Oleh karena itu jangan pernah merasa rendah dengan pekerjaan yang halal. Hindari segala bentuk kecurangan dan kezaliman dan niatkan bekerja sebagai ibadah.
Semoga Allah memberkahi pekerjaan kita, melapangkan rezeki kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang bersyukur.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Halaman 11 dari 11
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang