Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Simak Fakta Lebaran Haji, Asal-usul Nama Idul Adha di Indonesia

Kompas.com, 3 Mei 2026, 08:30 WIB
Norma Desvia Rahman,
Farid Assifa

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Menjelang Idul Adha, masyarakat Indonesia kerap menyebutnya dengan istilah lain, yaitu Lebaran Haji.

Sebutan ini begitu populer, bahkan terasa lebih akrab di telinga sebagian orang. Namun, dari mana sebenarnya asal-usul nama tersebut?

Di balik istilah yang sederhana ini, tersimpan keterkaitan erat dengan rangkaian ibadah haji di Tanah Suci, sebuah momen spiritual yang terjadi dalam waktu yang bersamaan dengan perayaan Idul Adha.

Lebaran Haji dan Keterkaitannya dengan Ibadah Haji

Secara historis dan kultural, istilah “Lebaran Haji” muncul karena perayaan Idul Adha bertepatan dengan puncak pelaksanaan ibadah haji di Makkah.

Dalam tradisi Islam, sehari sebelum Idul Adha, jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.

Wukuf merupakan rukun haji yang paling utama. Tanpa wukuf, ibadah haji tidak sah. Dalam praktiknya, jemaah berhenti (berdiam diri) di Arafah sejak tergelincirnya matahari pada 9 Dzulhijjah hingga menjelang fajar 10 Dzulhijjah.

Dalam buku Tuntunan Manasik Haji dan Umrah terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia dijelaskan bahwa selama wukuf, jemaah dianjurkan memperbanyak doa, zikir, dan shalawat sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah.

Momentum inilah yang kemudian menguatkan keterkaitan antara ibadah haji dan Idul Adha, sehingga masyarakat Indonesia menyebutnya sebagai Lebaran Haji.

Baca juga: Penjualan Kambing Kurban di Kebumen Meningkat Jelang Idul Adha 2026, Harga Rp 1,5 sampai 3,5 Jutaan

Tradisi Lokal dan Istilah “Lebaran”

Kata “lebaran” sendiri bukan berasal dari bahasa Arab, melainkan berkembang dalam budaya Nusantara.

Dalam kajian linguistik Jawa, “lebaran” sering dihubungkan dengan kata lebar yang berarti selesai atau usai, merujuk pada berakhirnya suatu ibadah besar.

Jika pada Idul Fitri disebut sebagai “Lebaran Puasa”, maka Idul Adha dikenal sebagai “Lebaran Haji” karena bertepatan dengan ibadah haji.

Dalam buku Ensiklopedi Islam Nusantara karya Azyumardi Azra dijelaskan bahwa istilah keagamaan di Indonesia sering mengalami akulturasi budaya lokal, sehingga melahirkan istilah yang khas namun tetap berakar pada ajaran Islam.

Sejarah Idul Adha: Ujian Nabi Ibrahim

Lebaran Haji tidak dapat dilepaskan dari sejarah besar yang melatarbelakangi Idul Adha, yakni kisah Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Dalam Surah As-Saffat ayat 100–111, dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim menerima perintah melalui mimpi untuk menyembelih putranya. Sebagai nabi, ia meyakini bahwa mimpi tersebut adalah wahyu dari Allah.

Ketika perintah itu disampaikan kepada Ismail, sang anak justru menunjukkan ketaatan luar biasa.

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu. Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Peristiwa ini mencapai puncaknya saat Allah menggantikan Ismail dengan seekor domba. Kisah ini menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban pada Idul Adha.

Dalam buku Fiqh Kontemporer karya Sudirman dijelaskan bahwa peristiwa ini mengandung nilai ketundukan total manusia kepada kehendak Allah.

Baca juga: Idul Adha 2026: Cek Syarat dan Ciri Hewan Kurban Layak Disembelih

Makna Spiritual di Balik Lebaran Haji

Lebaran Haji tidak hanya sekadar perayaan, tetapi juga sarat makna spiritual. Dalam perspektif keislaman, Idul Adha mengajarkan tentang pengorbanan, keikhlasan, dan ketaatan.

Menurut Badan Pengelola Keuangan Haji, nilai utama Idul Adha terletak pada kesiapan seorang hamba untuk mengorbankan sesuatu yang dicintainya demi ketaatan kepada Allah.

Makna ini tidak hanya tercermin dalam penyembelihan hewan kurban, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana seseorang rela berkorban waktu, tenaga, dan harta untuk kebaikan.

Antara Haji dan Umat di Seluruh Dunia

Menariknya, Idul Adha menjadi momen yang menyatukan umat Islam di seluruh dunia, baik yang sedang berhaji maupun yang tidak.

Saat jemaah haji melanjutkan rangkaian ibadah di Mina dengan melempar jumrah, umat Islam di berbagai negara melaksanakan salat Id dan menyembelih hewan kurban.

Keterhubungan ini menunjukkan bahwa meskipun berbeda lokasi, umat Islam tetap berada dalam satu ritme ibadah yang sama.

Baca juga: Kalender Mei 2026 Lengkap: 10 Tanggal Merah, Long Weekend, Weton Jawa hingga Idul Adha

Prediksi Idul Adha 2026

Berdasarkan kalender Hijriah yang dirilis Kementerian Agama Republik Indonesia, Idul Adha 1447 H diperkirakan jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Penetapan resminya akan ditentukan melalui sidang isbat.

Sementara itu, Muhammadiyah telah lebih dulu menetapkan tanggal yang sama melalui maklumat resmi.

Jika tidak ada perbedaan hasil rukyat, Idul Adha 2026 berpotensi dirayakan secara serentak di Indonesia.

Lebaran yang Sarat Makna

Istilah Lebaran Haji bukan sekadar sebutan populer, melainkan cerminan dari keterkaitan erat antara Idul Adha dan ibadah haji.

Di baliknya, terdapat nilai-nilai universal tentang pengorbanan, keikhlasan, dan kedekatan kepada Allah, nilai yang diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim hingga kini.

Lebaran Haji pun menjadi pengingat bahwa setiap ibadah, sekecil apa pun, memiliki makna besar ketika dijalankan dengan hati yang tulus.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar