Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baru Pisah 5 Menit, Keluarga CJH Sumenep Sudah Menangis Kangen

Kompas.com, 12 Mei 2026, 06:27 WIB
Nur Khalis,
Farid Assifa

Tim Redaksi

SUMENEP, KOMPAS.com - Astri tak kuasa menahan air mata saat mobil patroli yang mengawal keberangkatan bus calon jemaah haji (CJH) mulai bergerak keluar dari sisi timur GOR A. Yani, Kecamatan Kota Sumenep, Jawa Timur, Senin (11/5/2026).

Tangannya terus melambai ke arah bus yang membawa neneknya, Suwani (70), CJH asal Kecamatan Manding.

Dari balik kaca bus, Suwani juga membalas lambaian tangan cucunya itu.

Siang itu, suasana pelepasan ratusan CJH asal Sumenep dipenuhi tangis haru keluarga.

Baca juga: Tangis Haru Jemaah Haji Indonesia Disambut Mawar di Bandara Jeddah

Astri mengaku baru berpisah beberapa menit, rasa rindu sudah muncul.

Sebenarnya, Astri sudah menyiapkan diri sejak beberapa hari terakhir.

Namun, saat bus benar-benar bergerak meninggalkan lokasi, air matanya tidak terbendung.

“Baru jalan saja sudah kangen,” kata Astri kepada Kompas.com di Sumenep.

Beruntung, Suwani tidak berangkat sendirian.

Dia berangkat bersama empat anggota keluarga lainnya, termasuk saudara dan keponakannya.

Mereka juga tergabung dalam satu kloter dan rombongan yang sama sehingga tidak terpisah dengan jemaah lain.

Hal itu membuat keluarga sedikit lebih tenang.

“Alhamdulillah satu rombongan semua, jadi ada keluarga yang bisa saling bantu,” sambungnya.

Setelah bus keluar menuju jalan raya, Astri langsung berusaha menghubungi salah satu anggota keluarganya melalui telepon genggam.

Sejak jauh hari, keluarga memang sudah menyiapkan alat komunikasi agar tetap bisa terhubung selama di Tanah Suci.

Namun, Suwani tidak memegang ponsel sendiri karena tidak bisa membaca dan menulis.

Untuk berkomunikasi dengan keluarga di rumah, dia akan dibantu anggota keluarga lain yang ikut berangkat haji.

“Kalau nenek tidak pegang ponsel sendiri karena memang tidak bisa baca tulis. Nanti video call dibantu keluarga yang lain,” ungkapnya

Meski begitu, keluarga tetap berharap komunikasi bisa berjalan lancar agar rasa rindu sedikit terobati.

Mereka berencana rutin melakukan video call untuk memastikan kondisi Suwani selama menjalankan ibadah haji.

Meski ada anggota keluarga yang sudah pernah menunaikan ibadah umrah, Astri mengaku rasa kehilangan tetap terasa berbeda saat keluarga berangkat haji dalam waktu cukup lama.

“Sudah disiapkan supaya nanti bisa video call. Tapi tetap saja sedih,” jelasnya.

Suasana haru juga dialami Ismi.

Dia bahkan tidak sanggup melambaikan tangan saat bus mulai bergerak meninggalkan area GOR A Yani.

Anak perempuan itu langsung menangis tersedu-sedu sambil memeluk kakeknya yang ikut mengantar keberangkatan ibunya ke Tanah Suci.

Tangis Ismi pecah ketika satu per satu bus pengangkut CJH keluar dari lokasi pelepasan.

Dia terus menundukkan kepala sambil sesekali menghapus air mata.

Baca juga: Ini Cara Arab Saudi Ciptakan Suasana Sejuk di Arafah saat Puncak Haji 2026

Sang kakek berusaha menenangkan Ismi sambil memintanya mendoakan ibunya agar diberi kesehatan dan kelancaran selama menjalankan ibadah haji.

"Ibunya yang berangkat (haji)," ujar Karim, kakek Ismi kepada Kompas.com.

Di sekitar lokasi, suasana tangis haru terlihat di banyak sudut.

Sejumlah keluarga terus melambaikan tangan hingga bus tidak lagi terlihat.

Ada yang merekam momen keberangkatan menggunakan telepon genggam, ada pula yang memilih diam sambil menahan tangis.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar