Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sejarah Kiswah Ka’bah: Siapa Sosok Pertama yang Menyelimutinya?

Kompas.com, 18 Mei 2026, 18:00 WIB
Norma Desvia Rahman,
Khairina

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Di balik megahnya bangunan Ka’bah di Masjidil Haram, terdapat sebuah kain hitam bersulam benang emas yang selalu menarik perhatian jutaan umat Islam dari seluruh dunia.

Kain itu dikenal dengan nama kiswah, penutup Ka’bah yang bukan sekadar hiasan, melainkan simbol penghormatan, kemuliaan, dan sejarah panjang peradaban Islam.

Setiap tahun, kiswah Ka’bah diganti pada 9 Dzulhijjah, tepat ketika jutaan jamaah haji bergerak menuju Arafah untuk menjalankan wukuf.

Tradisi tersebut telah berlangsung selama berabad-abad dan mengalami banyak perubahan dari masa ke masa.

Mulai dari bahan sederhana seperti kulit dan kain kasar, hingga kini menggunakan sutra hitam berkualitas tinggi dengan sulaman ayat-ayat Al-Qur’an berbahan emas dan perak, kiswah Ka’bah menyimpan sejarah panjang yang penuh makna spiritual dan politik.

Lalu bagaimana awal mula kiswah Ka’bah dibuat? Siapa orang pertama yang menyelimuti Ka’bah? Dan mengapa warna kiswah kini identik dengan hitam?

Baca juga: Ke Mana Perginya Kiswah Lama Kabah Setelah Diganti?

Awal Mula Ka’bah Diselimuti Kain

Sejarah kiswah Ka’bah sudah dimulai jauh sebelum Islam datang.

Ada beberapa riwayat yang menyebut Nabi Ismail AS sebagai sosok pertama yang menutup Ka’bah.

Namun catatan sejarah yang paling banyak dirujuk menyebut bahwa orang pertama yang secara resmi menyelimuti Ka’bah adalah Raja Himyariyah dari Yaman bernama Abu Karb As’ad atau Tubba’.

Dalam buku Sejarah Ka’bah karya Ali Husni al-Kharbutli dijelaskan bahwa Raja As’ad bermimpi untuk menutupi Ka’bah dengan kain ketika kembali dari perjalanan ke Yatsrib sebelum masa Islam.

Setelah melewati Makkah, ia kemudian memenuhi mimpinya dengan menutup Ka’bah menggunakan kulit dan kain kasar khas Yaman.

Riwayat lain menyebutkan bahwa awalnya Ka’bah ditutup menggunakan daun kurma dan kain beraroma wangi dari Ma’afir.

Namun karena dianggap terlalu berat, kain tersebut kemudian diganti dengan kain tenun Yaman yang lebih ringan.

Sejak saat itu, tradisi memberikan kiswah kepada Ka’bah menjadi bentuk penghormatan yang sangat mulia di kalangan bangsa Arab.

Baca juga: Disulam Benang Emas, Ini Proses Pembuatan Kiswah Kabah

Kiswah Menjadi Simbol Kehormatan

Pada masa berikutnya, berbagai suku Arab berlomba-lomba menghadiahkan kain terbaik untuk Ka’bah.

Tradisi itu terus berkembang hingga masa Qushay bin Kilab, buyut Nabi Muhammad SAW. Ia kemudian membuat sistem pengumpulan dana dari berbagai suku Quraisy untuk membeli kiswah baru setiap tahun.

Dalam buku Ka’bah: Rahasia Kiblat Dunia karya Muhammad Abdul Hamid al-Syarqawi dan Muhammad Raja’i ath-Thahlawi dijelaskan bahwa sejak masa itu, penyediaan kiswah mulai dianggap sebagai tanggung jawab kehormatan sekaligus tugas keagamaan.

Masyarakat Arab ketika itu meyakini bahwa menyelimuti Ka’bah merupakan bentuk pengabdian tertinggi kepada Baitullah.

Oleh karena itu, kiswah bukan hanya kain penutup bangunan, melainkan simbol kemuliaan dan kekuasaan.

Perempuan Pertama yang Membuat Kiswah Sutra

Sejarah kiswah Ka’bah juga mencatat peran seorang perempuan bernama Natilah binti Janab, ibu dari Abbas bin Abdul Muthalib.

Ia disebut sebagai perempuan pertama yang membuat dan menyelimuti Ka’bah dengan kain sutra.

Kisah itu bermula ketika Abbas kecil sempat hilang. Natilah kemudian bernazar bahwa apabila anaknya ditemukan, ia akan menutupi Ka’bah dengan kain sutra.

Setelah Abbas ditemukan, nazar tersebut dipenuhi.

Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu awal penggunaan kain sutra dalam sejarah kiswah Ka’bah.

Pada masa selanjutnya, penggunaan bahan kiswah terus berkembang, mulai dari kain putih Mesir, brokat merah, hingga sutra mewah yang digunakan para khalifah Islam.

Kiswah pada Masa Nabi Muhammad SAW

Ketika Nabi Muhammad SAW berhasil membebaskan Kota Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah, Ka’bah masih menggunakan kiswah peninggalan zaman Jahiliyah.

Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Nabi tetap mempertahankan kiswah tersebut hingga akhirnya rusak akibat terkena bara dupa.

Setelah itu, Ka’bah kemudian ditutup menggunakan kain Yaman bergaris merah dan putih.

Dalam buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq dijelaskan bahwa Rasulullah SAW sangat memuliakan Ka’bah sebagai pusat tauhid umat Islam.

Tradisi mengganti kiswah kemudian diteruskan oleh para khalifah setelah beliau wafat.

Khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan pernah menggunakan kain putih Mesir sebagai kiswah. Sementara Abdullah bin Zubair menggunakan brokat merah untuk menyelimuti Ka’bah.

Baca juga: Kiswah Ka’bah Diangkat, Isyarat Dimulainya Perjalanan Haji 2026

Mengapa Kiswah Ka’bah Berwarna Hitam?

Warna kiswah Ka’bah ternyata tidak selalu hitam seperti sekarang.

Dalam sejarahnya, Ka’bah pernah diselimuti kain putih, merah, hijau, bahkan kombinasi beberapa warna.

Direktur Pusat Sejarah Makkah, Fawaz al-Dahas, mengatakan bahwa perubahan warna kiswah sangat dipengaruhi faktor ekonomi dan kualitas bahan pada setiap era.

“Ka’bah pernah ditutup dengan kain putih, merah, dan hitam. Pemilihan warna tersebut berdasarkan kondisi finansial dan kualitas bahan pada masa itu,” ujar Fawaz al-Dahas seperti dikutip Arab News.

Menurutnya, kain putih memang tampak indah dan terang, tetapi cepat kotor dan mudah rusak karena sering disentuh jamaah.

Oleh karena itu, pada akhir masa Dinasti Abbasiyah dipilihlah warna hitam karena dianggap lebih awet dan tahan lama.

Sejak saat itu, warna hitam kemudian menjadi identitas utama kiswah Ka’bah hingga sekarang.

Kiswah dari Mesir hingga Arab Saudi

Selama berabad-abad, pembuatan kiswah Ka’bah banyak dilakukan di Mesir.

Dalam sejarah Islam, Mesir dikenal sebagai salah satu pusat produksi kain terbaik untuk Ka’bah, terutama sejak masa Khalifah Umar bin Khattab.

Pabrik khusus kiswah bahkan pernah didirikan di distrik Kharnafasy, Kairo, pada masa Dinasti Fatimiyah.

Dalam buku The Power of Ka’bah: Mengungkap Keagungan Baitullah karya Zainurrofieq dijelaskan bahwa kiswah pada masa itu dibuat sangat mewah dengan hiasan emas, permata, minyak kasturi, dan kaligrafi ayat Al-Qur’an.

Tradisi pengiriman kiswah dari Mesir berlangsung hingga awal abad ke-20.

Namun setelah Kerajaan Saudi berdiri, Raja Abdul Aziz mengambil alih produksi kiswah dan mendirikan pabrik khusus di kawasan Ajyad, dekat Masjidil Haram.

Kini produksi kiswah dilakukan di Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Kiswah Ka’bah di Umm al-Joud, Makkah.

Pabrik modern tersebut mempekerjakan ratusan pengrajin khusus yang menenun, menyulam, dan merakit kiswah secara manual maupun menggunakan teknologi modern.

Baca juga: 5 Fungsi Kiswah Penutup Kabah, Menjaga Kesucian hingga Simbol Persatuan Umat Muslim

Teknologi Modern di Balik Kiswah Ka’bah

Pembuatan kiswah Ka’bah saat ini melibatkan teknologi tinggi dan biaya yang sangat besar.

Dilansir dari Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, satu kiswah Ka’bah membutuhkan:

  • Sekitar 670 kilogram sutra hitam
  • 120 kilogram benang emas
  • 100 kilogram benang perak

Ayat-ayat Al-Qur’an disulam menggunakan benang emas dan perak dengan teknik khusus.

Biaya produksinya diperkirakan mencapai lebih dari 17 juta riyal Saudi atau puluhan miliar rupiah.

Selain penutup luar Ka’bah, pabrik tersebut juga memproduksi tirai pintu Ka’bah dan kain khusus untuk bagian dalam bangunan suci itu.

Mengapa Kiswah Diganti Setiap Tahun?

Tradisi penggantian kiswah tahunan dilakukan untuk menjaga kesucian dan kualitas kain Ka’bah.

Pada masa Dinasti Umayyah, kiswah baru pernah ditumpuk di atas kiswah lama hingga lapisannya menjadi sangat berat.

Khalifah Al-Mahdi dari Dinasti Abbasiyah kemudian memerintahkan agar kiswah lama dilepas dan diganti baru setiap tahun agar tidak membebani struktur Ka’bah.

Tradisi itu terus berlangsung hingga sekarang.

Penggantian kiswah biasanya dilakukan pada 9 Dzulhijjah ketika jamaah haji berada di Arafah.

Momen tersebut menjadi simbol pembaruan spiritual sekaligus penghormatan kepada Baitullah.

Makna Spiritual Kiswah Ka’bah

Bagi umat Islam, kiswah bukan sekadar kain penutup bangunan suci.

Ia menjadi simbol penghormatan kepada rumah Allah SWT sekaligus lambang persatuan umat Islam dunia.

Dalam kitab Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa Ka’bah merupakan pusat spiritual umat Islam yang dimuliakan sejak zaman Nabi Ibrahim AS.

Oleh karena itu, segala hal yang berkaitan dengan Ka’bah, termasuk kiswahnya, memiliki nilai penghormatan yang sangat tinggi dalam sejarah Islam.

Setiap helaian kiswah mengingatkan umat Islam pada perjalanan panjang sejarah tauhid, pengorbanan Nabi Ibrahim, dan jutaan manusia yang datang dari seluruh dunia untuk menghadap kiblat yang sama.

Di tengah modernisasi Arab Saudi dan perkembangan teknologi haji, kiswah Ka’bah tetap menjadi simbol sakral yang menjaga hubungan spiritual umat Islam dengan Baitullah sejak berabad-abad lalu.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar