Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Dokter Ibu-Anak di Lampung Ini Layani Pasien dengan Kotak Infak, Terinspirasi Dokter yang Tak Pernah Pasang Tarif

Kompas.com, 24 Mei 2026, 09:33 WIB
Add on Google
Farid Assifa

Penulis

LAMPUNG, KOMPAS.com - Sore itu, Jumat (22/5/2026), suasana di Rumah Sehat Baznas tampak sibuk. Di ruang tunggu kecil yang berada di Jalan Raya Lintas Pantai Timur Sumatera, Kecamatan Seputih Banyak, Kabupaten Lampung Tengah, sejumlah warga duduk menanti giliran pemeriksaan kesehatan.

Seorang perempuan berhijab terlihat tekun mencatat data pasien di meja pendaftaran. Di sudut lain, seorang ibu mendampingi anaknya yang sedang ditimbang berat dan diukur tinggi badannya.

Tak ada kesan mewah di tempat itu. Namun dari bangunan sederhana tersebut, denyut pelayanan kemanusiaan terasa hidup.

Di balik ruang pemeriksaan, dua dokter perempuan tampak melayani pasien satu per satu. Keduanya ternyata ibu dan anak yang memilih mengabdikan diri sebagai relawan kesehatan untuk masyarakat kecil.

Baca juga: Baznas Permudah Kurban 2026 lewat Digitalisasi, Bisa Bayar via E-Commerce hingga Mobile Banking

Mereka adalah dr Intan Juliana O M.Epid Sp KKLP dan putrinya, dr Reza Khairunnisa.

Bagi masyarakat sekitar, Rumah Sehat Baznas bukan sekadar klinik pengobatan. Tempat itu menjadi ruang harapan bagi warga yang sering kali kesulitan mengakses layanan kesehatan karena keterbatasan biaya.

Di sini, pasien tak dibebani tarif pasti. Di depan meja pendaftaran hanya tersedia sebuah kotak infak. Siapa yang mampu boleh mengisi seikhlasnya. Yang tak punya uang pun tetap dilayani.

“Kalau warga yang bisa berinfak ya silakan. Kalau enggak ada juga ya enggak apa-apa,” kata dr Intan kepada Kompas.com.

Ia tersenyum ketika menceritakan lembaran-lembaran uang kecil yang sering masuk ke kotak infak tersebut.

“Bapak bisa lihat pecahan uangnya. Ada Rp 2.000, Rp 4.000. Bahkan ada yang bilang, ‘Bu Dok, saya terus terang enggak punya duit.’ Ya sudah, enggak apa-apa,” ujarnya.

Dokter Intan bukan sosok baru di dunia pelayanan kesehatan Lampung Tengah. Ia adalah aparatur sipil negara yang bertugas di puskesmas wilayah tersebut dan sudah puluhan tahun hidup di tengah masyarakat desa.

Namun jauh sebelum bergabung dengan Rumah Sehat Baznas pada 2023, ia sudah menyimpan satu cita-cita: membuka layanan kesehatan untuk masyarakat miskin tanpa mematok bayaran.

Inspirasi itu datang dari sosok almarhum Prof dr Aznan Lelo yang melayani pasien tanpa tarif.

dr Intan mengatakan, ia mengabdi sebagai dokter relawan di Baznas terinspirasi oleh Prof dr Aznan Lelo yang sudah meninggal.

Menurut dr Intan, Prof Aznan dikenal sebagai dokter yang membuka praktik hanya dengan kotak infak.

“Kalau masyarakat berobat, dr Aznan enggak pakai bayaran, dia pakai kotak infak aja seikhlasnya. Jadi tukang becak dan siapapun semuanya,” katanya.

Ia mengaku sejak lama ingin melakukan hal serupa, tetapi tak memiliki modal untuk membuka layanan sendiri.

“Saya senang kayak gitu, tapi ya apa ya mampu saya, saya enggak punya modal,” ujarnya.

Hingga akhirnya ia mendengar bahwa Baznas membutuhkan dokter relawan untuk Rumah Sehat Baznas di Lampung Tengah.

“Saya dengar ini membutuhkan dokter relawan, ini cocok. Modalnya dari dia (Baznas), jasanya biar dari saya. Saya tenaga aja dan pikiran,” katanya.

Bagi dr Intan, kehadirannya di Rumah Sehat Baznas terasa seperti jawaban dari doa panjang yang selama ini ia simpan diam-diam.

“Mungkin saya pikir, oh ini jawaban Allah. Cita-cita yang saya apa itu, mungkin ya inilah tempatnya, wadahnya,” ucapnya pelan.

Perjalanan dr Intan

dr Intan Juliana O M.Epid Sp KKLP  Kepala Rumah Sehat Baznas.KOMPAS.com/ FARID ASSIFA dr Intan Juliana O M.Epid Sp KKLP Kepala Rumah Sehat Baznas.

Perjalanan hidup dr Intan sendiri penuh cerita perjuangan.

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara itu pertama kali ditempatkan di wilayah pedalaman Lampung Tengah saat awal menjadi PNS.

Ia masih mengingat kondisi daerah yang jauh dari fasilitas.

“Saya ditempatkan di Sido Binangun dulu. Enggak ada lampu. Enggak ada ojek. Sendiri. Ya Allah kok saya dapat di tengah kebun singkong,” kenangnya sambil tertawa.

Perempuan asal Medan itu juga harus beradaptasi dengan budaya baru di tengah masyarakat Jawa pedesaan.

“Di sini kan Jawa, mayoritas. Saya orang Medan. Bahasa Jawa halus. Pusing lah kepala saya,” katanya.

Di tanah perantauan itulah ia bertemu dengan suaminya yang bekerja sebagai tenaga kesehatan.

Sebelum menikah, ia kemudian memutuskan menjadi mualaf.  

Kini, nilai pengabdian itu coba ia wariskan kepada anak-anaknya, termasuk dr Reza Khairunnisa yang ikut membantunya melayani pasien di Rumah Sehat Baznas.

Lulusan Universitas Muhammadiyah Surakarta itu sengaja diajak sang ibu untuk melihat langsung kehidupan masyarakat kecil.

“Saya ajak ke sini. Menanamkan nilai-nilai,” kata dr Intan lantas mengungkapkan bahwa suaminya meninggal 40 hari lalu.

Ia berharap anaknya tetap memiliki semangat pengabdian di tengah kehidupan modern yang semakin materialistis.

“Kita cintanya pengen kaya raya, tapi pengen ngabdi juga,” timpal dr Reza sambil tersenyum saat ditanya harapan ke depannya sebagai dokter.

Rumah Sehat Baznas Lampung Tengah sendiri memiliki sekitar 19 tenaga medis dan nonmedis. Layanan yang diberikan meliputi pengobatan umum, kesehatan ibu dan anak, home care, hingga penanganan luka diabetes untuk pasien yang tak bisa datang ke klinik.

“Jadi ada yang enggak bisa dibawa ke sini, luka-luka DM, ya kita dipanggil,” kata dr Intan.

Tak jarang mereka juga membantu pasien miskin yang kesulitan biaya ambulans, bahkan menjemput jenazah warga yang meninggal dunia.

“Yang enggak bayar, yang bayar yang kasih infak dia di situ,” katanya.

Tantangan Stok Obat

Ruang Pendaftaran Rumah Sehat Baznas di Lampung Tengah, Provinsi Lampung, Jumat (22/5/2026).KOMPAS.com/ FARID ASSIFA Ruang Pendaftaran Rumah Sehat Baznas di Lampung Tengah, Provinsi Lampung, Jumat (22/5/2026).

Namun pelayanan berbasis kemanusiaan itu tentu bukan tanpa tantangan.

Masalah biaya operasional dan obat-obatan menjadi persoalan yang hampir selalu menghantui.

“Kalau operasional telat, ya telat saya bayar obat. Nanti ditanya-tanya jatuh tempo,” ujarnya.

Meski demikian, dr Intan tetap bertahan.

Baca juga: Dari Mustahik ke Muzaki, Program Kurban BAZNAS 2026 Ubah Nasib Peternak Desa

Baginya, pengabdian bukan soal menjadi kaya, melainkan soal kebermanfaatan bagi orang lain.

“Sedekah enggak nunggu kaya,” katanya singkat.

Di tengah hiruk-pikuk dunia medis yang sering diidentikkan dengan tarif mahal dan layanan eksklusif, kisah dr Intan dan putrinya menghadirkan wajah lain pelayanan kesehatan: sederhana, tulus, dan manusiawi.

Dari sebuah kotak infak kecil di sudut ruangan, mereka menjaga harapan banyak orang agar tetap bisa berobat tanpa rasa takut pada biaya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Wukuf di Arafah Jadi Puncak Haji, Ini Doa dan Dzikir yang Dibaca
Wukuf di Arafah Jadi Puncak Haji, Ini Doa dan Dzikir yang Dibaca
Doa dan Niat
Dokter Ibu-Anak di Lampung Ini Layani Pasien dengan Kotak Infak, Terinspirasi Dokter yang Tak Pernah Pasang Tarif
Dokter Ibu-Anak di Lampung Ini Layani Pasien dengan Kotak Infak, Terinspirasi Dokter yang Tak Pernah Pasang Tarif
Aktual
Dulu Berdesakan dan Jalan Kaki, Kini Haji Makin Nyaman Berkat Teknologi dan Kereta Cepat
Dulu Berdesakan dan Jalan Kaki, Kini Haji Makin Nyaman Berkat Teknologi dan Kereta Cepat
Aktual
Baznas Permudah Kurban 2026 lewat Digitalisasi, Bisa Bayar via E-Commerce hingga Mobile Banking
Baznas Permudah Kurban 2026 lewat Digitalisasi, Bisa Bayar via E-Commerce hingga Mobile Banking
Aktual
Firdaus Ditemukan, Istri Ungkap Pesan Haru untuk Petugas di Tanah Suci
Firdaus Ditemukan, Istri Ungkap Pesan Haru untuk Petugas di Tanah Suci
Aktual
Wakapolri Berkoordinasi dengan Otoritas Saudi untuk Perkuat Perlindungan Jamaah Haji Indonesia
Wakapolri Berkoordinasi dengan Otoritas Saudi untuk Perkuat Perlindungan Jamaah Haji Indonesia
Aktual
Ketegaran Nafsiah Dampingi Suami Sejak Berangkat Haji Hingga Harus Dimakamkan di Makkah
Ketegaran Nafsiah Dampingi Suami Sejak Berangkat Haji Hingga Harus Dimakamkan di Makkah
Aktual
Baznas Kota Tangerang Buka Pelatihan Sekuriti Gratis untuk Mustahik
Baznas Kota Tangerang Buka Pelatihan Sekuriti Gratis untuk Mustahik
Aktual
MTQ Internasional di Masjid Istiqlal Diikuti Peserta dari 9 Negara dan 28 Provinsi
MTQ Internasional di Masjid Istiqlal Diikuti Peserta dari 9 Negara dan 28 Provinsi
Aktual
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Saudi, Kemenhaj Matangkan Layanan Armuzna
Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Saudi, Kemenhaj Matangkan Layanan Armuzna
Aktual
Batas Waktu Potong Kuku dan Rambut Bukan Sesudah Shalat Idul Adha 2026, Lalu Kapan?
Batas Waktu Potong Kuku dan Rambut Bukan Sesudah Shalat Idul Adha 2026, Lalu Kapan?
Aktual
Arab Saudi Tangkap Pelaku Penipuan Haji Palsu dan Pendatang Tanpa Izin di Makkah
Arab Saudi Tangkap Pelaku Penipuan Haji Palsu dan Pendatang Tanpa Izin di Makkah
Aktual
Arab Saudi Perketat Pengamanan Haji 2026, Akses ke Makkah Diawasi Ketat
Arab Saudi Perketat Pengamanan Haji 2026, Akses ke Makkah Diawasi Ketat
Aktual
Daging Dam Jemaah Haji Indonesia akan Disalurkan untuk Palestina
Daging Dam Jemaah Haji Indonesia akan Disalurkan untuk Palestina
Aktual
DPR Minta Pemerintah Siapkan Skenario Darurat Jelang Puncak Haji Armuzna
DPR Minta Pemerintah Siapkan Skenario Darurat Jelang Puncak Haji Armuzna
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com