Editor
MAKKAH, KOMPAS.com — Jumlah jemaah haji yang tiba di Arab Saudi tahun 2026 melampaui capaian tahun lalu meski kawasan Timur Tengah sempat diguncang perang dan gangguan penerbangan akibat konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Otoritas Arab Saudi mencatat lebih dari 1,5 juta jemaah dari luar negeri telah tiba untuk menunaikan ibadah haji. Angka itu bahkan sudah melampaui jumlah kedatangan internasional pada musim haji tahun sebelumnya.
Komandan Pasukan Paspor Haji Arab Saudi, Saleh Al-Murabba, mengatakan total jemaah dari luar negeri yang tiba mencapai 1.518.153 orang hingga Jumat malam waktu setempat.
Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah dalam dua hari ke depan menjelang dimulainya rangkaian puncak ibadah haji pada Senin.
Sebagai perbandingan, total jemaah haji tahun lalu mencapai 1.673.320 orang, termasuk 1.506.576 jemaah dari luar Arab Saudi.
Baca juga: Mengintip Fasilitas Arafah 2 Hari Sebelum Puncak Haji
Lonjakan jemaah tahun ini terjadi di tengah situasi keamanan kawasan yang sempat memanas setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada akhir Februari lalu. Konflik tersebut memicu serangan balasan Iran ke sejumlah target di Arab Saudi dan kawasan Teluk.
Situasi itu menyebabkan penutupan wilayah udara, pembatalan penerbangan, hingga kenaikan biaya perjalanan ke Timur Tengah.
Namun, maskapai-maskapai besar di kawasan Teluk seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain perlahan memulihkan operasional penerbangan mereka setelah beberapa pekan terganggu.
Di tengah kekhawatiran tersebut, jutaan Muslim tetap memutuskan berangkat haji.
“Bahkan jika perang masih berlangsung, saya tidak akan membatalkan perjalanan ini,” ujar Fadel, warga Amerika Serikat berusia 49 tahun kepada AFP.
Ia menyebut Makkah sebagai “tempat paling aman di dunia” sambil mengutip ayat Al Quran.
Sentimen serupa juga disampaikan banyak jemaah asal negara Barat yang tetap datang ke Tanah Suci meski pemerintah mereka mengeluarkan peringatan perjalanan.
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Riyadh sebelumnya meminta warganya mempertimbangkan kembali perjalanan haji tahun ini karena situasi keamanan dan gangguan perjalanan yang masih mungkin terjadi.
Pakar Timur Tengah dari University of Birmingham Inggris, Umer Karim, menilai risiko gangguan perjalanan tetap ada jika konflik kembali pecah.
“Mereka bisa terlantar dan itu akan menciptakan tantangan logistik tambahan,” katanya.
Meski demikian, banyak jemaah mengaku keyakinan spiritual mengalahkan rasa takut terhadap perang.
Sayed, jemaah asal Australia yang sudah tujuh kali berhaji, mengatakan dirinya tidak pernah ragu datang ke Makkah.
“Ketika Anda sudah berniat datang, Anda datang dengan tujuan ibadah dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan,” ujarnya di pelataran Masjidil Haram.
Sementara itu, jemaah asal Jerman Ibrahim Diab mengatakan kesempatan berhaji terlalu berharga untuk dilewatkan.
“Ini kesempatan yang mungkin hanya datang sekali seumur hidup,” katanya.
Baca juga: Jemaah Haji Diimbau Pakai Payung, Suhu Makkah Bisa Capai 47 Derajat Celsius
Meski suasana Makkah dipenuhi semangat ibadah, sebagian jemaah mengaku tetap sempat dihantui kecemasan akibat konflik kawasan.
“Saya sangat cemas,” ujar Imad Ahmad, akuntan asal Inggris berusia 36 tahun.
Perjalanannya sempat terganggu di Yordania setelah militer negara itu menembak jatuh drone misterius di wilayah udaranya.
Namun, ia tetap melanjutkan perjalanan menuju Makkah.
“Saya akan tetap datang dengan cara apa pun, insya Allah,” katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang