Editor
KOMPAS.com - PPIH Arab Saudi menyiapkan penguatan layanan kesehatan menjelang puncak ibadah haji 2026 di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Langkah ini dilakukan untuk memastikan jamaah haji Indonesia mendapatkan penanganan medis cepat selama fase paling padat dalam rangkaian ibadah haji.
Dua pos kesehatan telah disiagakan masing-masing di kawasan Arafah dan Mina mulai Selasa, 26 Mei 2026.
Baca juga: PPIH Arab Saudi Gelar Safari Wukuf untuk Jamaah Haji Lansia dan Sakit
Selain layanan kesehatan, ratusan petugas juga diterjunkan untuk mengawal pergerakan jamaah agar tetap tertib dan aman.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj), Maria Assegaf, mengatakan pos kesehatan tersebut disiapkan sebagai bentuk penguatan layanan selama fase Armuzna.
"Kami menyiagakan masing-masing satu Pos Kesehatan Indonesia di Arafah dan di Mina untuk memastikan layanan kesehatan dapat diberikan secara cepat dan optimal selama fase Armuzna," kata Maria dalam konferensi pers, Senin (25/5/2026).
Baca juga: Jamaah Asal Sidrap Tempati Tenda Maktab 60 Mina Jelang Puncak Ibadah Haji
Selain pos kesehatan, sebanyak 657 petugas Satgas Arafah juga telah disiagakan untuk mendukung kelancaran operasional puncak haji.
Petugas tersebut terdiri dari Adhoc Arafah, Koordinator Markas, Pengawas Konsumsi, hingga petugas layanan lainnya yang ditempatkan di berbagai titik strategis.
Mereka bertugas memastikan pergerakan jamaah berjalan tertib, aman, dan tetap terpantau selama proses perpindahan menuju Armuzna.
Diketahui, jamaah haji mulai diberangkatkan dari Makkah menuju Arafah sejak Senin pagi pukul 07.00 waktu Arab Saudi.
"Ini adalah fase yang sangat penting dan membutuhkan kesiapan fisik, mental, serta kedisiplinan seluruh jemaah," tambahnya.
Maria menjelaskan, pergerakan jamaah menuju Arafah dilakukan dalam tiga tahap untuk mengurangi kepadatan dan menjaga kelancaran arus jamaah.
Tahapan keberangkatan dibagi pada pukul 07.00, 11.30, dan 16.30 waktu Arab Saudi.
"Kami mengimbau seluruh jemaah agar mengikuti jadwal yang telah ditentukan, tidak bergerak sendiri, tidak mendahului rombongan, dan selalu mematuhi arahan petugas kloter, sektor, maupun pembimbing ibadah agar seluruh proses berjalan tertib dan aman," lanjutnya.
Selain kesiapan teknis, Kemenhaj juga mengingatkan jamaah untuk mematuhi ketentuan ihram selama menjalani rangkaian ibadah haji.
"Bagi jemaah laki-laki, kami ingatkan agar tidak memakai pakaian berjahit yang membentuk anggota badan, tidak menutup kepala dengan penutup yang melekat seperti peci atau sorban, serta tidak menggunakan alas kaki yang menutupi mata kaki dan tumit," jelas Maria.
Sementara bagi jamaah perempuan, selama dalam keadaan ihram tidak diperkenankan menutup wajah dengan cadar maupun menggunakan sarung tangan.
Jamaah juga diminta menghindari larangan ihram lainnya seperti memotong kuku, mencabut rambut, memakai wewangian setelah niat ihram, serta menjaga ucapan dan perilaku agar ibadah tetap khusyuk.
Maria menekankan pentingnya menjaga kondisi tubuh selama fase Armuzna yang membutuhkan stamina tinggi dan mobilitas intensif.
"Kami meminta seluruhnya jemaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan istirahat cukup, makan teratur, memperbanyak minum air putih, serta menghindari aktivitas yang tidak perlu agar energi tetap terjaga selama puncak ibadah haji," ujarnya.
Jamaah juga diimbau menggunakan payung, masker, dan alas kaki yang nyaman saat beraktivitas di luar ruangan guna mengurangi risiko kelelahan akibat cuaca panas.
"Bagi jemaah yang memiliki riwayat penyakit tertentu, pastikan obat pribadi selalu dibawa dan mudah dijangkau," tambahnya.
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul “2 Pos Kesehatan Disiagakan di Arafah dan Mina”.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang