Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Idul Adha 2026 di Gaza Kembali Dirayakan Tanpa Tradisi Sembelih Hewan Kurban

Kompas.com, 26 Mei 2026, 16:48 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

Sumber Antara

KOMPAS.com - Perayaan Idul Adha 2026 di Jalur Gaza kembali berlangsung tanpa tradisi penyembelihan hewan kurban bagi sebagian besar warga Palestina.

Krisis kemanusiaan yang berkepanjangan akibat perang dan pembatasan ketat membuat hewan ternak sulit diperoleh serta harganya melonjak tajam.

Kondisi tersebut menyebabkan banyak keluarga di Gaza hanya bisa mengenang tradisi Idul Adha yang dahulu identik dengan kebersamaan dan berbagi.

Baca juga: MUI Imbau Imam dan Khatib Shalat Jumat dan Idul Adha Bacakan Qunut Nazilah untuk Gaza

Tahun ini menjadi tahun ketiga berturut-turut warga Gaza menjalani Idul Adha tanpa kurban secara normal.

Warga Gaza Kenang Tradisi Idul Adha Sebelum Perang

Menjelang Idul Adha yang di banyak negara Muslim identik dengan suasana perayaan, bagi Ahmed Nashwan, warga Palestina dari Jalur Gaza, hari raya justru menjadi pengingat penderitaan akibat perang.

Baca juga: MUI Serukan Imam Baca Qunut Nazilah untuk Gaza dan Palestina

Untuk tahun ketiga berturut-turut, dia tidak lagi pergi bersama saudara laki-laki dan putra-putranya ke pasar ternak untuk memilih hewan kurban, yang selama ini menjadi salah satu tradisi khas Idul Adha.

"Sebelum perang, Idul Adha merupakan momen penuh kebahagiaan bagi kami," kata Nashwan kepada Xinhua.

"Kami biasanya berkumpul sebagai keluarga untuk memilih hewan kurban, mempersiapkan hari raya, dan membagikan daging kepada kerabat serta keluarga miskin," lanjutnya.

Idul Adha yang berlangsung selama empat hari dan dimulai pekan ini merupakan salah satu hari raya besar umat Islam.

Hari raya tersebut biasanya ditandai dengan penyembelihan hewan ternak bagi Muslim yang mampu.

"Kini, hari raya itu bagi kami hanya tinggal doa dan kenangan karena tidak ada ternak yang masuk ke Gaza, dan sebagian besar orang hampir tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari," kata Nashwan.

Harga Hewan Kurban di Gaza Melonjak Drastis

Meski gencatan senjata antara Hamas dan Israel tercapai pada Oktober 2025, Israel disebut masih mempertahankan pembatasan ketat di Jalur Gaza.

Kondisi itu membuat arus barang, termasuk hewan ternak, sangat terbatas masuk ke wilayah tersebut.

Domba dan anak sapi yang menjadi kebutuhan utama kurban Idul Adha kini sulit ditemukan dan jumlahnya jauh dari kebutuhan masyarakat Gaza.

Menurut Maher al-Tabbaa, Direktur Kamar Dagang Gaza, harga seekor hewan kurban melonjak drastis dari sekitar 500 dolar AS sebelum perang menjadi sekitar 6.000 hingga 7.000 dolar AS saat ini.

Mohammed al-Hissi (40), ayah empat anak dari Gaza City, mengatakan hewan kurban kini hampir mustahil diperoleh karena kelangkaan dan tingginya harga.

"Idul Adha dulunya selalu menjadi salah satu masa paling membahagiakan bagi keluarga kami. Anak-anak saya biasanya bangun pagi, mengenakan pakaian baru, dan menemani saya mengunjungi kerabat setelah kami membagikan daging," katanya.

"Tetapi saat ini, semuanya telah berubah akibat perang dan memburuknya kondisi kemanusiaan di Gaza," jelasnya.

"Sebagian besar keluarga tidak lagi dapat memikirkan untuk membeli hewan kurban karena harganya sangat tinggi dan masyarakat telah kehilangan pendapatan serta rumah mereka."

Peternakan dan Pasokan Ternak Gaza Hancur

Di Gaza selatan, Mohammed Shallah mengenang tradisi Idul Adha keluarganya saat berdiri di samping makam sang ayah yang tewas akibat serangan udara Israel di Khan Younis.

"Dulu, kami pergi bersama ayah dan kerabat saya untuk memilih hewan kurban," kata Shallah (22) kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa dia tidak lagi mampu melanjutkan tradisi tersebut.

"Bahkan jika ternak masih bisa ditemukan, harganya sangat mahal," katanya. "Saya tidak lagi mampu membeli hewan kurban sama sekali," ujarnya.

Pedagang ternak Salah Afana mengatakan harga hewan kurban meningkat berkali-kali lipat sejak perang meletus. Di sisi lain, permintaan masyarakat hampir hilang akibat kemiskinan yang meluas.

"Banyak hewan mati karena serangan udara, kekurangan pakan, dan kolapsnya layanan veteriner. Pada saat bersamaan, tidak ada ternak yang masuk ke Gaza akibat penutupan perlintasan," tambahnya.

Raafat Asaliya, juru bicara Kementerian Pertanian yang dikelola Hamas, mengatakan sebelum perang Gaza biasanya mengimpor sekitar 10.000 hingga 20.000 anak sapi serta 30.000 hingga 40.000 domba menjelang Idul Adha setiap tahun.

"Dengan adanya perang dan penutupan perlintasan, impor berhenti total," kata Asaliya kepada Xinhua, seraya menambahkan bahwa banyak peternakan, kandang, dan gudang pakan telah hancur selama perang.

Menurut al-Tabbaa, penghancuran wilayah penghasil ternak di Gaza timur memperparah krisis ketersediaan hewan kurban di wilayah tersebut.

"Penduduk Gaza telah kehilangan akses terhadap hewan kurban selama tiga tahun berturut-turut. Tidak ada yang tahu berapa banyak lagi Idul Adha tanpa kurban yang harus dijalani warga Gaza," ujarnya.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Buku Karya Abdul Mu’ti Tentang Pluralisme dan Pendidikan Muhammadiyah Resmi Jadi Koleksi Perpustakaan OCIS Oxford
Aktual
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Di Hadapan Para Imam Besar di Istiqlal, Imam Masjid Al Aqsa Sampaikan Pesan Persatuan
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar