Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

7 Amalan Sunnah Idul Adha yang Sering Terlewat, Padahal Pahalanya Besar

Kompas.com, 27 Mei 2026, 08:14 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com - Hari Raya Idul Adha selalu identik dengan gema takbir dan penyembelihan hewan kurban. Namun di balik kemeriahan tersebut, ada banyak amalan sunnah yang kerap terlupakan, padahal memiliki nilai ibadah dan pahala besar di sisi Allah SWT.

Momentum 10 Dzulhijjah bukan hanya tentang berkurban, tetapi juga kesempatan memperbanyak amal saleh dan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.

Mulai dari cara berpakaian, adab menuju tempat shalat, hingga kebiasaan sederhana sebelum menyantap makanan, semuanya menyimpan makna spiritual mendalam.

Baca juga: 7 Tradisi Idul Adha di Indonesia, Dari Grebeg Besar hingga Meugang

Berikut deretan amalan sunnah Idul Adha yang sayang jika dilewatkan.

1. Mandi dan Memakai Pakaian Terbaik

Sebelum berangkat shalat Id, umat Islam dianjurkan mandi terlebih dahulu sebagai bentuk penyucian diri lahir dan batin. Setelah itu, gunakan pakaian terbaik yang dimiliki, bersih, rapi, dan sopan sesuai syariat.

Riwayat dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW mandi sebelum berangkat shalat Id.

Selain itu, dalam kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik ada hadis anjuran memakai pakaian terbaik:

“Allah itu indah dan menyukai keindahan.” (HR Muslim)

Banyak ulama juga menganjurkan mengenakan pakaian berwarna putih karena identik dengan kesucian dan menjadi warna yang disukai Rasulullah SAW.

“Pakailah pakaian putih karena itu pakaian terbaik kalian.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Bagi laki-laki, sunnah ini bisa dilengkapi dengan memakai wewangian dan penutup kepala seperti peci atau serban. Sementara perempuan dianjurkan tetap tampil sederhana dan tidak menggunakan parfum mencolok saat keluar rumah.

2. Tidak Makan Sebelum Shalat Idul Adha

Berbeda dengan Idul Fitri, pada Idul Adha umat Islam justru dianjurkan menunda makan hingga selesai melaksanakan shalat Id.

Hadis dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya:

“Rasulullah SAW tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga makan terlebih dahulu, dan pada Idul Adha beliau tidak makan hingga pulang lalu makan dari hasil kurbannya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Sunnah ini mengandung makna mendalam, yakni agar makanan pertama yang disantap berasal dari daging kurban. Namun perlu dipahami, ini bukan puasa karena berpuasa pada hari raya hukumnya haram.

Tradisi sederhana ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap ibadah kurban.

3. Berjalan Kaki ke Tempat Shalat

Jika memungkinkan, Rasulullah SAW menganjurkan umatnya berjalan kaki menuju lokasi shalat Id. Selain menambah pahala, berjalan kaki juga menjadi bentuk kerendahan hati dan syiar Islam di tengah masyarakat.

Hal itu sesuai dengan hadis:

“Termasuk sunnah adalah keluar menuju shalat Id dengan berjalan kaki." (HR. Tirmidzi)

Keterangan ini juga diperkuat para ulama fikih dalam kitab-kitab sunnah Idain.

Di sepanjang perjalanan, umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Suasana pagi Idul Adha yang dipenuhi gema takbir sering kali menghadirkan rasa haru dan kebersamaan yang sulit dilupakan.

4. Melewati Jalan Berbeda Saat Berangkat dan Pulang

Salah satu sunnah yang jarang diketahui adalah melewati rute berbeda saat pergi dan pulang dari shalat Id.

Hadis dari Jabir bin Abdullah menyatakan bahwa “Nabi SAW apabila hari raya, beliau melewati jalan yang berbeda.” (HR Bukhari)

Menurut para ulama, hikmah sunnah ini adalah memperluas syiar Islam dan memperbanyak tempat yang menjadi saksi ibadah seorang muslim di akhirat kelak.

Meski terlihat sederhana, kebiasaan ini menjadi bagian dari teladan Rasulullah SAW yang masih relevan diamalkan hingga sekarang.

5. Tidak Memotong Kuku dan Rambut bagi yang Berkurban

Bagi muslim yang berniat berkurban, terdapat sunnah untuk tidak memotong kuku maupun rambut sejak masuk 1 Dzulhijjah hingga hewan kurban disembelih.

Nabi SAW bersabda:

“Jika telah masuk 10 hari pertama Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun.” (HR Muslim)

Baca juga: Tata Cara Mandi Sunnah Idul Adha 2026 Lengkap dengan Niat & Waktunya

Anjuran ini menjadi simbol totalitas pengorbanan dan bentuk penghormatan terhadap ibadah kurban yang dijalankan.

Karena itu, banyak umat Islam mulai mempersiapkan diri sejak awal bulan Dzulhijjah agar dapat menjalankan sunnah ini dengan sempurna.

6. Menyembelih Kurban Setelah Shalat Id

Waktu terbaik penyembelihan hewan kurban adalah setelah shalat Id dan khutbah selesai pada 10 Dzulhijjah.

Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim bersabda:

“Barang siapa menyembelih sebelum shalat Id, maka itu hanyalah daging biasa untuk keluarganya, bukan kurban.” (HR Bukhari dan Muslim)

Ibadah kurban bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga simbol ketakwaan dan kepedulian sosial. Daging kurban yang dibagikan menjadi kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat yang membutuhkan.

Semangat berbagi inilah yang membuat Idul Adha terasa begitu hangat dan penuh makna.

7. Memperbanyak Dzikir di Hari Tasyrik

Kemeriahan Idul Adha tidak berhenti pada tanggal 10 Dzulhijjah. Pada hari Tasyrik, yakni 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan memperbanyak dzikir dan doa.

Allah SWT berfirman:

“Dan berdzikirlah kepada Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS Al-Baqarah: 203)

Hari yang dimaksud oleh banyak mufasir adalah hari Tasyrik (11–13 Dzulhijjah).

Adapun larangan puasa pada hari Tasyrik berdasarkan hadis: “Hari Tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR Muslim)

Baca juga: Takbir Idul Adha 2026 Dimulai Malam Ini, Ini Bacaan & Amalan Sunnahnya

Hari-hari tersebut juga menjadi waktu menikmati rezeki Allah SWT sehingga umat Islam dilarang berpuasa.

Salah satu doa yang banyak diamalkan adalah doa sapu jagad:

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Doa ini berisi permohonan kebaikan dunia dan akhirat sekaligus perlindungan dari siksa neraka.

Dengan menghidupkan sunnah-sunnah Idul Adha, perayaan hari raya tidak hanya menjadi momen berkumpul bersama keluarga, tetapi juga kesempatan memperkuat iman dan mendulang pahala.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Arab Saudi Masuki Fase Terpanas, Jamaah Umrah Diminta Waspada
Arab Saudi Masuki Fase Terpanas, Jamaah Umrah Diminta Waspada
Aktual
Indonesia Peringkat 2 Jamaah Umrah Terbanyak, Tembus 170 Ribu Orang
Indonesia Peringkat 2 Jamaah Umrah Terbanyak, Tembus 170 Ribu Orang
Aktual
Sholawat Tibbil Qulub: Bacaan Arab, Latin, Arti, Keutamaan
Sholawat Tibbil Qulub: Bacaan Arab, Latin, Arti, Keutamaan
Doa Harian
Allahumma Yassir Wala Tu'assir Artinya: Bacaan Arab, Latin, Makna
Allahumma Yassir Wala Tu'assir Artinya: Bacaan Arab, Latin, Makna
Doa Harian
Ayat Kursi: Bacaan Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Waktu Terbaik Membacanya
Ayat Kursi: Bacaan Arab, Latin, Arti, Keutamaan, dan Waktu Terbaik Membacanya
Doa Harian
Assalamualaikum: Arti, Tulisan Arab, Cara Menjawab dan Dalil
Assalamualaikum: Arti, Tulisan Arab, Cara Menjawab dan Dalil
Doa dan Niat
Astaghfirullah Artinya: Makna, Tulisan Arab, dan Keutamaan
Astaghfirullah Artinya: Makna, Tulisan Arab, dan Keutamaan
Doa dan Niat
Kemenhaj Resmi Hapus Skema Lunas Tunda Ganti Haji Khusus, Dahnil: Tak Ada Lagi Celah Jual Beli Porsi
Kemenhaj Resmi Hapus Skema Lunas Tunda Ganti Haji Khusus, Dahnil: Tak Ada Lagi Celah Jual Beli Porsi
Aktual
Baznas: Potensi Dana Keagamaan RI Rp 344 T, Usul Tax Credit Zakat-Pajak
Baznas: Potensi Dana Keagamaan RI Rp 344 T, Usul Tax Credit Zakat-Pajak
Aktual
Apakah Zakat Emas Harus Dibayar dengan Emas? Ini Penjelasan dan Cara Menghitungnya
Apakah Zakat Emas Harus Dibayar dengan Emas? Ini Penjelasan dan Cara Menghitungnya
Aktual
Pemprov Papua Barat Usulkan Tambahan Kuota untuk Memperpendek Masa Tunggu Haji
Pemprov Papua Barat Usulkan Tambahan Kuota untuk Memperpendek Masa Tunggu Haji
Aktual
Rencana Pembukaan Embarkasi Haji Sorong, Menhaj Ungkap Syarat yang Harus Dipenuhi
Rencana Pembukaan Embarkasi Haji Sorong, Menhaj Ungkap Syarat yang Harus Dipenuhi
Aktual
Daftar Tunggu Haji Papua Barat dan Papua Barat Daya Tembus 12.063 Orang, Verifikasi Terus Diperketat
Daftar Tunggu Haji Papua Barat dan Papua Barat Daya Tembus 12.063 Orang, Verifikasi Terus Diperketat
Aktual
Menhaj Minta Tata Kelola Haji di Papua Lebih Transparan demi Tingkatkan Layanan Haji 2027
Menhaj Minta Tata Kelola Haji di Papua Lebih Transparan demi Tingkatkan Layanan Haji 2027
Aktual
Alasan Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus, Wamenhaj: Ada Permainan Oknum
Alasan Mekanisme Lunas Tunda Ganti untuk Haji Khusus Resmi Dihapus, Wamenhaj: Ada Permainan Oknum
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar