Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KH. Imam Jazuli, Lc. MA
Akademisi dan Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon

Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Nahdlatul Ulama dan Jalan Diplomasi Global, Urgensi LHINU

Kompas.com, 31 Mei 2026, 07:24 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

ADA masa ketika kekuatan sebuah bangsa diukur dari jumlah tank, rudal, dan armada perangnya. Tetapi dunia hari ini bergerak jauh lebih rumit. Pertarungan global tidak lagi hanya berlangsung di medan perang, melainkan di ruang diplomasi, jejaring pendidikan, perdagangan internasional, teknologi, budaya, bahkan narasi kemanusiaan.

Negara yang mampu membangun pengaruh global bukan hanya negara yang kuat secara militer, melainkan negara yang memiliki jaringan, kepercayaan, dan kemampuan membaca arah zaman. Dalam konteks itulah, Nahdlatul Ulama memiliki peluang sekaligus tanggung jawab sejarah yang sangat besar.

Sebagai organisasi Islam terbesar di dunia, NU sesungguhnya tidak cukup hanya menjadi kekuatan domestik. NU harus tampil sebagai kekuatan peradaban global. Sebab dunia saat ini sedang mengalami krisis besar: perang berkepanjangan, ekstremisme agama, ketimpangan ekonomi, krisis lingkungan, konflik identitas, dan kegagalan banyak negara menjaga kemanusiaan.

Baca juga: Lirboyo dan Kekuatan Sunyi yang Menggerakkan Nahdlatul Ulama

Dari Organisasi Domestik Menuju Aktor Global

Karena itu, dunia membutuhkan wajah Islam yang teduh, matang, dan mampu berdialog dengan modernitas tanpa kehilangan akar tradisinya. Dan karakter itu ada pada NU. Maka, sudah saatnya PBNU memaksimalkan diplomasi luar negeri secara lebih terstruktur, profesional, dan berjangka panjang.

Selama ini, berbagai ikhtiar internasional NU sebenarnya sudah berjalan. Ada Badan Pengembangan Jaringan Internasional (BPJI) PBNU, ada NU Global Institute, ada kader-kader NU yang bergerak di bidang hubungan internasional, diplomasi, dan jejaring global. Tetapi tantangan geopolitik hari ini membutuhkan orkestrasi yang lebih besar. Semua energi itu perlu disatukan dalam satu wadah strategis yang kuat dan permanen.

Mungkin bentuknya bisa berupa Lembaga Hubungan Internasional PBNU atau nama lain yang lebih relevan dengan visi global NU ke depan. Yang terpenting bukan sekadar nama, tetapi arah dan desain kelembagaannya. Lembaga ini harus menjadi “dapur diplomasi global NU” yang bekerja serius membaca geopolitik dunia, membangun hubungan internasional, membuka akses pendidikan global, memperkuat ekonomi umat lintas negara, serta memastikan NU hadir dalam percakapan strategis dunia. NU tidak boleh hanya sibuk dengan persoalan internal umat, tetapi juga harus ikut merumuskan arah masa depan peradaban dunia.

Lebih dari itu, NU juga memiliki banyak kader dengan pengalaman diplomasi internasional yang sangat kaya. Ada tokoh-tokoh seperti Zuhairi Misrawi (Dubes RI Tunisia), Rizal Purnama (Dubes RI Turki), para mantan duta besar RI, tokoh diaspora NU, hingga diplomat senior seperti Abdul Aziz Ahmad (Dubes RI Saudi Arabia), Safira Machrusah (mantan Dubes RI Aljazair) dan Maftuh Abegebriel ( mantan Dubes Saudi Arabia).

Mereka adalah aset intelektual dan jaringan internasional yang luar biasa. Selama ini potensi itu sering berjalan sendiri-sendiri. Padahal jika dikonsolidasikan dalam satu tim strategis, NU bisa menjadi salah satu aktor non-negara paling berpengaruh di dunia Islam.

Kita perlu menyadari bahwa di era sekarang, organisasi masyarakat sipil dapat memiliki pengaruh internasional yang bahkan melampaui sebagian negara. Banyak lembaga dunia bergerak melalui jaringan filantropi, universitas, pusat riset, NGO, dan kekuatan budaya.

Di sinilah NU sebenarnya memiliki peluang besar. Dengan jaringan pesantren yang luas, basis sosial yang kuat, serta tradisi moderasi yang matang, NU dapat menjadi jembatan antara dunia Islam, Barat, dan berbagai peradaban lain.

Di bidang pendidikan misalnya, lembaga ini dapat fokus membangun kerja sama strategis dengan universitas-universitas dunia. NU tidak boleh puas hanya mengirim beberapa kader belajar ke luar negeri secara sporadis. Harus ada grand design besar agar ribuan kader NU mendapatkan akses pendidikan terbaik dunia melalui skema beasiswa, pertukaran akademik, riset bersama, hingga pembangunan pusat studi Islam Nusantara di kampus-kampus internasional.

Bayangkan jika setiap tahun ribuan kader NU belajar di Turki, Mesir, Maroko, Arab Saudi, Inggris, Amerika, Jepang, Australia, hingga Eropa dengan dukungan jejaring resmi PBNU. Dalam dua atau tiga dekade, NU akan memiliki generasi ulama, diplomat, ekonom, akademisi, dan teknokrat kelas dunia yang tetap berpijak pada tradisi ahlussunnah wal jamaah. Di titik itulah NU tidak hanya menjadi organisasi keagamaan, tetapi menjadi pusat produksi kepemimpinan global.

Di bidang ekonomi, lembaga ini dapat menjadi jembatan kerja sama perdagangan dan investasi internasional untuk warga nahdliyin. Selama ini banyak komunitas NU yang memiliki potensi ekonomi besar, tetapi minim akses jaringan global. Padahal dunia Islam memiliki pasar yang sangat luas. NU dapat membangun hubungan dagang dengan Timur Tengah, Asia Selatan, Afrika, maupun Eropa dalam bidang halal industry, pertanian, UMKM, teknologi, hingga ekonomi kreatif.

NU juga bisa membangun jejaring ekonomi diaspora nahdliyin di berbagai negara. Sebab kekuatan ekonomi modern lahir bukan hanya dari modal uang, tetapi juga dari kekuatan jaringan dan kepercayaan. Dan NU memiliki modal sosial itu.

Di bidang sosial dan kemanusiaan, lembaga ini dapat membangun kemitraan dengan berbagai lembaga filantropi dunia untuk program pendidikan, kesehatan, lingkungan, penanggulangan bencana, dan pengentasan kemiskinan. Dunia internasional hari ini justru mencari mitra organisasi Islam yang moderat, stabil, dan memiliki akar sosial kuat. NU memenuhi semua syarat itu.

Sementara di bidang budaya dan peradaban, NU memiliki kekayaan yang nyaris tak tertandingi: pesantren, tradisi keilmuan, seni Islam Nusantara, maqashid syariah, dan wajah Islam yang ramah terhadap kebinekaan. Ini adalah soft power yang sangat mahal di tengah dunia yang sedang lelah dengan konflik identitas dan radikalisme agama.

Baca juga: Krapyak, Rahim Intelektual NU: Dari Gus Dur hingga Gus Yahya

Karena itu, membangun lembaga hubungan internasional PBNU bukan sekadar proyek organisasi, tetapi bagian dari ikhtiar besar menyiapkan NU memasuki panggung abad kedua. NU tidak boleh hanya besar secara jumlah jamaah, tetapi juga harus besar pengaruhnya dalam menentukan arah dunia.

Jika tidak mulai sekarang, kita akan terus menjadi penonton dalam percaturan global. Kita hanya akan sibuk membicarakan konflik dunia tanpa pernah ikut menentukan arah penyelesaiannya. Padahal sejarah telah memberi NU modal sosial, intelektual, dan spiritual yang sangat besar untuk memainkan peran itu. Dan mungkin inilah saatnya NU melangkah lebih jauh: dari organisasi keagamaan nasional menuju kekuatan peradaban global. Wallahu'alam bissowab

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Muhammadiyah Soroti Tantangan Hafalan Surah Ad-Dhuha Berhadiah Miras di Festival Musik
Aktual
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Contoh Teks Doa Upacara 17 Agustus 2026 pada Peringatan HUT Ke-81 RI
Doa dan Niat
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Rahasia Surah Ad-Dhuha, Kisah Turunnya Surat Penghiburan Bagi Rasulullah SAW
Aktual
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Surat Ad-Dhuha: Arab, Latin, Arti, Makna, dan Keutamaannya
Aktual
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
5 Amalan dan Doa Rebo Wekasan Lengkap, Tradisi Rabu Terakhir di Bulan Safar
Aktual
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Gerhana Matahari Terbesar di Inggris 12 Agustus 2026, Muhammadiyah Britania Raya Ajak Salat Kusuf
Aktual
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Belajar Kerukunan di Indonesia, Mahasiswa Jepang Tanya Zakat untuk Non-Muslim
Aktual
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Muktamar NU 2026: Gus Rozin Sampaikan Gagasan Besar untuk NU
Aktual
5 Tips Padu Padan 'Modest Wear' untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
5 Tips Padu Padan "Modest Wear" untuk Perempuan Berhijab, Tetap Stylish Tanpa Banyak Baju
Aktual
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Bolehkah Imam Shalat Sambil Duduk? Ini Hukum dan Posisi Makmumnya
Aktual
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
4 Doa Rebo Wekasan 2026, Lengkap Arab, Latin, dan Terjemahnya
Doa dan Niat
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Tradisi Rebo Wekasan Dimulai Malam Ini, Simak Sederet Amalan yang Bisa Dilakukan
Aktual
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Apa Itu Rebo Wekasan? Mengenal Tradisi Rabu di Terakhir Bulan Safar
Aktual
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Guru Besar UIN Bandung: Merdeka Juga Harus dari Kebencian, Fanatisme, dan Hoaks
Aktual
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Niat Sholat Ba'diyah Isya: Arab, Latin, Rakaat, dan Tata Caranya
Doa Harian
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar