Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penyebab Haji Tertolak, Jemaah Perlu Perhatikan 4 Hal Ini

Kompas.com, 31 Mei 2026, 19:00 WIB
Khairina

Editor

Sumber BPKH

KOMPAS.com - Ibadah haji menjadi salah satu puncak ibadah bagi umat Islam yang mampu melaksanakannya.

Namun, seorang jemaah perlu memahami sebab-sebab yang dapat membuat haji tidak memberi dampak baik setelah pulang dari Tanah Suci.

Pemahaman ini penting agar ibadah haji tidak hanya sah secara tata cara, tetapi juga membawa perubahan spiritual dan sosial.

Oleh karena itu, jemaah perlu memperbaiki niat, mempelajari manasik, menjaga bekal yang halal, serta menjauhi larangan selama menjalankan ibadah haji.

Baca juga: Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tinggalkan Mina, Kemenhaj Siapkan Haji 2027

Tingkatan kualitas haji

Dilansir dari laman BPKH, dalam sejumlah literatur, kualitas ibadah haji dibagi ke dalam beberapa tingkatan.

Pertama, haji mardud, yakni haji yang tertolak karena tidak memenuhi syarat dan rukun.

Kedua, haji maqbul, yakni haji yang memenuhi syarat dan rukun, tetapi tidak tampak dampak positif dalam diri seseorang setelah melaksanakan ibadah haji.

Ketiga, haji mabrur, yakni haji yang memenuhi syarat dan rukun serta membawa perubahan baik bagi orang yang melaksanakannya.

1. Niat yang tidak tulus

Niat menjadi unsur utama dalam pelaksanaan ibadah haji.

Jika seseorang berhaji dengan tujuan mencari popularitas, status sosial, atau pujian dari orang lain, maka nilai ibadah hajinya dapat berkurang.

Seorang Muslim perlu memastikan bahwa ibadah haji dilakukan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Niat yang ikhlas juga menjadi dasar agar seluruh rangkaian haji dijalankan dengan kesungguhan dan kesadaran spiritual.

Baca juga: Cerita Anis Saat Badalkan Haji Firdaus, Jemaah yang Hilang dan Wafat di Makkah

2. Pelaksanaan tidak sesuai syariat

Haji juga dapat bermasalah apabila pelaksanaannya tidak sesuai dengan ketentuan syariat Islam.

Hal ini bisa terjadi ketika jemaah tidak mempelajari tata cara haji dengan benar, tidak mengikuti bimbingan yang tepat, atau melakukan perbuatan yang dilarang selama ibadah haji.

Karena itu, memahami rukun, wajib, dan larangan haji menjadi hal penting sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Kepatuhan terhadap tuntunan syariat merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah SWT.

3. Bekal tidak berasal dari harta halal

Bekal yang digunakan untuk berhaji juga harus diperhatikan.

Jika biaya atau bekal haji berasal dari harta haram, seperti hasil riba atau perbuatan dosa, maka hal itu dapat memengaruhi kualitas ibadah.

Haji bukan hanya ibadah fisik, tetapi juga ibadah yang menuntut kebersihan hati, jiwa, dan harta.

Karena itu, calon jemaah haji perlu memastikan biaya yang digunakan berasal dari sumber yang halal dan baik.

4. Minim pemahaman tentang makna haji

Kurangnya pemahaman tentang ibadah haji dapat membuat seseorang hanya menjalani haji sebagai rutinitas fisik.

Jika haji dipahami sekadar perjalanan, rekreasi, atau pengalaman sosial, maka makna spiritualnya bisa tidak tercapai.

Ibadah haji seharusnya menjadi momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Haji juga menjadi sarana memperbaiki akhlak, memperkuat ketakwaan, dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.

Baca juga: Fase Armuzna Selesai, Bus Shalawat Kembali Beroperasi 24 Jam Layani Jemaah Haji Indonesia

Tanda haji mabrur

Setiap jemaah tentu berharap ibadah hajinya diterima Allah SWT dan mendapatkan predikat haji mabrur.

Salah satu tanda haji mabrur adalah munculnya perubahan perilaku ke arah yang lebih baik setelah pulang dari Tanah Suci.

Perubahan itu dapat terlihat dari ucapan, sikap, ibadah, dan kepedulian sosial seseorang.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi SAW:

عَنْ جَابِرِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ، قِيلَ يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلَامِ وفي رواية لأحمد والبيهقي إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَإِفْشَاءُ السَّلَامِ

Artinya: “Dari sahabat Jabir bin Abdillah ra, dari Rasulullah saw. ia bersabda, ‘Haji mabrur tiada balasan lain kecuali surga.” Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa (tanda) mabrurnya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberikan makan kepada orang lain dan melontarkan ucapan yang baik,” (HR Ahmad, At-Thabarani, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, dan Al-Hakim).

Tips meraih haji mabrur

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan jemaah agar ibadah hajinya lebih bermakna dan diharapkan meraih predikat mabrur.

Langkah ini dapat dimulai sejak sebelum berangkat, selama berada di Tanah Suci, hingga setelah kembali ke tanah air.

1. Perkuat niat dan tujuan

Jemaah perlu memperkuat niat sebelum menjalankan ibadah haji.

Niat haji sebaiknya ditujukan semata-mata untuk beribadah kepada Allah SWT, bukan untuk mencari gelar, pujian, atau pengakuan sosial.

Niat yang ikhlas akan membantu jemaah menjaga fokus selama menjalankan seluruh rangkaian ibadah.

Keikhlasan juga menjadi fondasi penting dalam meraih haji mabrur.

2. Pahami rukun dan kewajiban haji

Memahami rukun dan kewajiban haji menjadi bekal penting bagi setiap jemaah.

Jemaah perlu mempelajari tahapan haji, mulai dari ihram, wukuf di Arafah, mabit, tawaf, sa’i, hingga tahalul.

Dengan pemahaman yang cukup, jemaah dapat menghindari kesalahan yang dapat mengurangi kesempurnaan ibadah.

Jemaah juga perlu mengikuti arahan pembimbing haji selama berada di Tanah Suci.

3. Hindari perbuatan terlarang

Selama menjalankan ibadah haji, jemaah harus menjauhi perbuatan yang dilarang.

Perbuatan seperti berbohong, berkata kasar, bertengkar, atau menyakiti sesama jemaah dapat merusak nilai ibadah.

Jemaah perlu menjaga lisan, sikap, dan perilaku selama berada di Tanah Suci.

Kesabaran, akhlak mulia, dan kepedulian kepada sesama menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas ibadah haji.

Baca juga: Bahlil Lahadalia Doakan Seluruh Jemaah Haji Indonesia Jadi Haji Mabrur

Haji mabrur tampak setelah pulang

Haji mabrur tidak hanya dinilai dari selesainya rangkaian ibadah di Tanah Suci.

Dampak haji seharusnya tampak dalam kehidupan sehari-hari setelah jemaah kembali ke rumah.

Seseorang yang hajinya membawa perubahan baik akan lebih menjaga ibadah, memperbaiki akhlak, dan lebih peduli kepada orang lain.

Karena itu, haji yang berkualitas tidak berhenti pada pelaksanaan manasik, tetapi berlanjut dalam perubahan hidup menuju kebaikan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar