Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jamaah Haji Indonesia saat Armuzna

Kompas.com, 4 Juni 2026, 22:10 WIB
Puspasari Setyaningrum

Editor

KOMPAS.com - Pemerintah Arab Saudi mempertimbangkan perluasan penerapan skema tanazul bagi jamaah haji Indonesia pada pelaksanaan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Wacana tersebut muncul sebagai bagian dari upaya mengurangi kepadatan jamaah di Mina yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama penyelenggaraan haji.

Jika disetujui, hingga 50 persen jamaah haji Indonesia berpeluang mengikuti skema tanazul pada musim haji mendatang.

Baca juga: Kemenhaj Ingatkan Risiko Tanazul Mandiri saat Puncak Haji 2026

Pemerintah Indonesia pun mulai mengkaji berbagai aspek teknis yang diperlukan apabila kebijakan tersebut diterapkan dalam skala lebih besar.

Arab Saudi Pertimbangkan Tanazul untuk Setengah Jamaah Indonesia

Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan kemungkinan penerapan tanazul bagi 50 persen jamaah haji Indonesia dibahas dalam pertemuan dengan Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi, Dr. Abdulfattah Bin Sulaiman Mashat.

Baca juga: Wamenhaj Sebut 20 Ribu Jemaah Haji Indonesia Ikut Skema Tanazul saat Armuzna 2026

Pertemuan tersebut berlangsung di Kantor Daerah Kerja (Daker) Makkah, Arab Saudi, Kamis (4/6/2026).

Menurut Dahnil, pihak Arab Saudi melihat skema tanazul sebagai salah satu solusi untuk mengurangi kepadatan jamaah selama puncak pelaksanaan ibadah haji, khususnya di kawasan Mina.

"Dr. Abdul Fattah Mashat menyampaikan kalau bisa 50 persen (jemaah) ditanazulkan di Mina, mereka akan mempertimbangkan," kata Dahnil kepada tim Media Center Haji (MCH).

Tanazul Dinilai Bisa Kurangi Kepadatan di Mina

Tanazul merupakan mekanisme yang memungkinkan jamaah tidak menginap di tenda Mina dan kembali ke hotel setelah menyelesaikan lontar jumrah.

Skema ini umumnya diterapkan bagi jamaah yang menempati hotel atau akomodasi yang lokasinya berada dekat dengan area Mina dan Jamarat.

Menurut Dahnil, kepadatan di Mina selama ini menjadi tantangan besar karena luas area yang terbatas harus menampung jutaan jamaah haji dari berbagai negara.

Karena itu, pemerintah Indonesia akan mempertimbangkan penerapan tanazul dalam jumlah yang lebih besar pada musim haji berikutnya.

"Itu artinya ke depan kemungkinan kami mencoba untuk secara teknis mempertimbangkan mentanazulkan lebih banyak jemaah haji kita. Itu akan mengurangi kepadatan di Mina," ujarnya.

Perlu Dukungan Akomodasi di Sekitar Mina

Dahnil menjelaskan bahwa perluasan skema tanazul akan berkaitan langsung dengan kesiapan akomodasi bagi jamaah.

Pemerintah perlu memastikan ketersediaan hotel dan fasilitas pendukung, terutama di kawasan Syisyah dan Raudhah yang berada dekat dengan Mina.

Dengan semakin banyak jamaah yang kembali ke hotel setelah melaksanakan lontar jumrah, kebutuhan penginapan di wilayah tersebut diperkirakan akan meningkat.

Karena itu, perencanaan akomodasi menjadi salah satu aspek penting yang harus dipersiapkan secara matang jika skema tanazul diperluas.

Tahun Ini Hanya 20 Ribu Jamaah Jalani Tanazul

Pada penyelenggaraan ibadah haji 2026, sebanyak 20 ribu jamaah haji Indonesia mengikuti program tanazul.

Melalui skema tersebut, jamaah tidak bermalam di tenda Mina, melainkan kembali ke hotel yang berada di sekitar kawasan Jamarat setelah melaksanakan lontar Jumrah Aqabah.

Sebelumnya, pemerintah Indonesia mengajukan kuota tanazul bagi 80 ribu jamaah kepada pemerintah Arab Saudi.

Namun, dari jumlah tersebut, Arab Saudi hanya menyetujui pelaksanaan tanazul untuk 20 ribu jamaah.

Usulan baru yang memungkinkan hingga 50 persen jamaah Indonesia mengikuti tanazul menunjukkan adanya peluang perluasan kebijakan pada musim haji mendatang, seiring upaya bersama untuk mengurangi kepadatan dan meningkatkan kenyamanan jamaah selama berada di Mina.

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul “Arab Saudi Pertimbangkan Skema Tanazul untuk 50 Persen Jemaah Haji Indonesia”.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar