Editor
KOMPAS.com – Kementerian Agama (Kemenag) mengungkap berbagai keuntungan yang bisa diperoleh masjid dan musala setelah terdaftar dalam Sistem Informasi Masjid (Simas).
Selain mendapatkan Nomor ID Nasional Masjid, pengelola juga dapat mengakses bantuan pemerintah hingga memudahkan masyarakat menemukan lokasi masjid melalui peta digital.
Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah (Urais Binsyar) Kemenag, Arsad Hidayat, mengatakan Simas kini tidak hanya berfungsi sebagai basis data nasional kemasjidan, tetapi juga menjadi gerbang utama untuk mengakses berbagai layanan dan program pembinaan dari Kementerian Agama.
Hal tersebut disampaikan Arsad saat mengunjungi KUA Gedong Tengen, Kota Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).
Baca juga: Marmer Thassos, Rahasia Sistem Pendingin Alami Masjid Nabawi yang Bikin Nyaman Jemaah
“Setelah terdaftar dalam Simas, masjid dan musala dapat memperoleh Nomor ID Nasional Masjid, mendapatkan Surat Keterangan Terdaftar (SKT) yang dapat digunakan untuk pembukaan rekening resmi di Bank Syariah Indonesia (BSI), mengakses berbagai program bantuan pemerintah, serta lebih mudah ditemukan masyarakat melalui peta digital,” ujar Arsad dilansir dari situs Kemenag.
Menurutnya, validitas dan kelengkapan data dalam Simas menjadi faktor penting karena menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan dan program pembinaan kemasjidan yang tepat sasaran.
Arsad menjelaskan, sejalan dengan arahan Menteri Agama, masjid tidak lagi hanya diposisikan sebagai tempat ibadah semata. Masjid diharapkan menjadi pusat pelayanan, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan penguatan sosial masyarakat.
Karena itu, data kemasjidan yang akurat menjadi fondasi penting untuk mendukung berbagai program pengembangan fungsi masjid di tengah masyarakat.
“Data yang valid akan membantu pemerintah menghadirkan program yang benar-benar sesuai kebutuhan masjid dan umat,” katanya.
Dalam kunjungan tersebut, Arsad juga berdialog langsung dengan pengelola Simas dan petugas Kantor Urusan Agama (KUA) untuk menyerap berbagai masukan terkait pelaksanaan sistem di daerah.
Berbagai persoalan teknis yang dihadapi operator Simas menjadi bahan evaluasi untuk penyempurnaan layanan ke depan.
“Penggalian informasi langsung dari bawah seperti ini sangat penting. Dari sinilah kita menyusun strategi ke depan, supaya Kementerian Agama benar-benar hadir dan berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain meninjau Simas, Arsad juga memantau implementasi Early Warning System (EWS), yakni sistem deteksi dini terhadap berbagai isu sosial-keagamaan yang berkembang di masyarakat.
Menurut dia, penguatan Simas dan EWS menjadi bagian dari transformasi layanan keagamaan berbasis data yang sedang dilakukan Kementerian Agama.
Baca juga: Jemaah Haji Mulai Tiba di Madinah, Masjid Nabawi Siapkan 141 Pintu
“Simas membantu kita membangun data kemasjidan yang akurat, sedangkan EWS membantu kita membaca dinamika sosial-keagamaan sejak dini. Keduanya menjadi instrumen penting untuk menghadirkan layanan yang lebih cepat, tepat, dan bermanfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Kementerian Agama berharap hasil evaluasi dan pemetaan yang dilakukan dapat memperkuat pengelolaan Simas dan EWS, sehingga layanan keagamaan, tata kelola kemasjidan, serta pembinaan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat dapat berjalan lebih efektif dan memberikan manfaat yang lebih luas.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang