Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Gus Yahya Apresiasi Pelatihan 5.000 Pengasuh Pesantren Hadapi Era Disrupsi

Kompas.com, 7 Juni 2026, 19:39 WIB
Farid Assifa

Editor

KOMPAS.com – Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, mengapresiasi langkah Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, Imam Jazuli, yang menginisiasi Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia untuk memperkuat kesiapan pesantren menghadapi era disrupsi.

Apresiasi tersebut disampaikan Gus Yahya saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-3 di Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (6/6/2026).

Di hadapan sekitar 150 pengasuh pesantren dari berbagai daerah di Jawa Barat, Gus Yahya menegaskan bahwa pesantren harus mampu merespons perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya sebagai pusat pembinaan spiritual dan penjaga umat.

"Di tengah perubahan saat ini, para kiai harus tetap menghidupkan quwwah ruhaniyah atau kekuatan spiritual pesantren sebagai pilar untuk melahirkan kader-kader yang menjadi kekuatan peradaban," ujar Gus Yahya dalam keterangan tertulis, Sabtu.

Baca juga: Menag: Santri Harus Tampil Jadi Pemimpin Bangsa, Pesantren Kunci Hadapi Tantangan Zaman

Menurutnya, para ulama terdahulu telah mewariskan nilai-nilai yang menjadikan pesantren bukan hanya lembaga pendidikan, tetapi juga tempat penyucian jiwa sekaligus pusat ri'ayatul ummah atau penjagaan terhadap umat.

Disrupsi Tak Bisa Diabaikan

Dalam kesempatan yang sama, Kiai Imam Jazuli menjelaskan bahwa workshop tersebut lahir dari kegelisahan terhadap perubahan besar yang terjadi di berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan.

Ia mencontohkan banyak korporasi dan institusi besar di dunia yang tumbang akibat gagal beradaptasi dengan perubahan. Sebaliknya, ada pula yang justru berkembang pesat karena mampu membaca arah zaman.

"Workshop ini hadir untuk berbagi strategi bagaimana merespons perubahan secara tepat dan proaktif," kata Kiai Imam.

Menurut dia, anggapan bahwa minat masyarakat terhadap pesantren menurun tidak sepenuhnya benar. Yang terjadi justru pergeseran preferensi dari model pesantren lama ke model pesantren yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman.

"Terjadi migrasi dari pesantren model lama ke pesantren model baru. Terbukti banyak pesantren yang usianya belum 10 tahun tetapi jumlah santrinya meledak. Ini menunjukkan pentingnya kemampuan merespons perubahan," ujarnya.

Menjangkau 5.000 Pengasuh Pesantren

Kiai Imam mengungkapkan bahwa program workshop ini ditargetkan menjangkau 5.000 pengasuh pesantren di seluruh Indonesia secara bertahap.

Kegiatan diawali dari Jawa Barat sebelum diperluas ke berbagai provinsi lain di luar Pulau Jawa. Fokus utamanya adalah berbagi pengalaman dan strategi pengelolaan pesantren agar tetap relevan di tengah perubahan sosial, teknologi, dan pendidikan.

Workshop Angkatan ke-3 diikuti pengasuh pesantren dari delapan kabupaten dan kota di Jawa Barat, yakni Bogor, Bekasi, Depok, Purwakarta, Subang, Karawang, Sumedang, dan Pangandaran.

Peserta merupakan pengasuh pesantren yang memiliki jumlah santri antara 100 hingga 1.000 orang.

Ketua panitia, Ubaydillah Anwar, menjelaskan bahwa program yang berlangsung dari Mei hingga Desember 2026 itu berfokus pada strategi meningkatkan jumlah santri sekaligus memperkuat kualitas pendidikan pesantren.

"Tentu berdasarkan lika-liku pengalaman Bina Insan Mulia dan dengan semangat untuk berbagi," katanya.

Didukung PBNU dan PWNU Jabar

Ketua PWNU Jawa Barat, Juhadi Muhammad, menyampaikan dukungan penuh terhadap inisiatif tersebut.

Menurutnya, langkah Kiai Imam Jazuli menunjukkan semangat berbagi keberhasilan agar kemajuan pesantren dapat dirasakan bersama.

"Beliau ingin kita berhasil bersama-sama," ujar Juhadi.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Umum PBNU, Mashuri Malik. Ia menilai lokakarya tersebut merupakan langkah konkret untuk membantu pesantren tetap bertahan dan berkembang di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.

"Apa yang dilakukan oleh Kiai Imam Jazuli dengan lokakarya ini adalah langkah konkret untuk menjaga pesantren agar tidak kalah oleh perubahan zaman," katanya.

Peserta Mengaku Dapat Solusi Praktis

Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan yang berlangsung sejak pagi hingga larut malam.

Pengasuh Ponpes Cinta Rasul, KH Abdul Basith Mahfuf, mengaku materi yang disampaikan sangat relevan dengan persoalan yang dihadapi pesantren saat ini.

Baca juga: Munas dan Konbes NU 2026 Digelar 20-21 Juni di Pesantren Al-Falah Ploso

"Apa yang disampaikan oleh Kiai Imam Jazuli adalah problem nyata yang kami hadapi sehari-hari dan solusi yang langsung bisa diterapkan di pesantren," ujarnya.

Sementara itu, KH Rifa Hazim dari Pesantren KHZ Musthafa Sukamanah Tasikmalaya mengaku memperoleh banyak wawasan baru, termasuk strategi membuka akses beasiswa bagi para santri ke perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Baginya, workshop tersebut menjadi bukti bahwa pesantren tidak cukup hanya menjaga tradisi, tetapi juga harus mampu beradaptasi dan menyiapkan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan.

Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.



Terkini Lainnya
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
IGIC 2026, Menag Ingin Masjid Jadi Titik Temu untuk Perdamaian
Aktual
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Di IGIC 2026, Menag Ajak Masjid Hemat Air dan Kurangi Sampah
Aktual
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
40 Imam Besar Dunia Doakan Persatuan Umat dan Masjid Al Aqsa
Aktual
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
BPJPH: Sertifikasi Halal Bisa Jadi Pengungkit Ekonomi Daerah
Aktual
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
IGIC 2026 Digelar di Jakarta, Menag: Presiden Asosiasi Imam Besar Dunia Akan Ditetapkan
Aktual
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Melihat Aurat di Media Sosial Tanpa Sengaja, Kapan Menjadi Dosa?
Aktual
PUI Apresiasi 'Walk Out' Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
PUI Apresiasi "Walk Out" Delegasi RI di PBB, Dorong Sikap Tegas untuk Palestina Berlanjut ke Aksi Nyata
Aktual
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Menhaj Ingatkan Risiko Gagal Berangkat Haji karena Kesehatan, Minta Jemaah Siapkan Fisik
Aktual
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Bolehkah Istri Menolak Nafkah dari Panghasilan Haram Suami?
Aktual
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Dari Gontor ke Universitas Darunnajah, Jejak Pendidikan Pesantren di Ibu Kota
Aktual
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Kemenhaj Buka Peluang 300 UMKM Masuk Ekosistem Haji dan Umrah
Aktual
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Menhaj Minta Jemaah Haji Mandiri, Tak Bergantung pada KBIHU di Tanah Suci
Aktual
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Awal Puasa 2027 Menurut BRIN, Idul Fitri Diperkirakan Berbeda
Aktual
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Didirikan Alumni Gontor pada 1959, Baitul Arqom Jember Jaga Tradisi Pendidikan Empat Generasi
Aktual
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Jemaah Umrah Jabar 600.000 per Tahun, Kemenhaj Minta UMKM Masuk Rantai Pasok
Aktual
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar